Pengaruh Gen Z Terhadap Budaya Organisasi: Bagaimana Menyikapinya?

Setiap generasi hadir dengan ciri khas dan karakter sendiri, dan ciri khas ini memicu perubahan pada sikap dan budaya di lingkungan kerja. Dalam beberapa hal, Gen Z memang luar biasa, tidak terkecuali dalam hal pengaruh Gen Z terhadap budaya organisasi. Baby boomer memperkenalkan lingkungan persaingan dan visibilitas alias transparansi pekerjaan. Generasi X ditandai dengan otonomi, pendidikan tingkat tinggi, dan keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Kaum millennial ditandai dengan kolaborasi, penekanan yang lebih besar terhadap makna pekerjaan, dan adaptabilitas digital di lingkungan kerja.

Kini, orang-orang yang lahir antara Tahun 1997 hingga 2010, yang dikenal dengan Generasi Z, alias Zoomer, mulai memasuki dunia kerja, disertai dengan optimisme sekaligus skeptisme. Gen Z adalah generasi pertama yang murni lahir setelah massif-nya perkembangan media sosial. Mereka memprioritaskan perbedaan, inklusi, serta kesehatan mental. Bagi ada yang sudah bekerja selama beberapa tahun, pengalaman kerja anda pastinya sangat dipengaruhi oleh pandemi Covid-19.

pengaruh Gen Z terhadap budaya organisasi

Sebesar Apa Pengaruh Gen Z Terhadap Budaya Organisasi?

Gen Z adalah generasi yang sangat aktif menggunakan sosial media. Mereka rata-rata menghabiskan waktu lebih dari 4 jam per hari menggunakan media sosial. Jika perusahaan ingin merumuskan kebijakan yang tepat untuk menarik dan mempertahankan talent yang berasal dari Gen Z, maka perlu dilakukan studi tentang lingkungan kerja seperti apa yang mereka inginkan. Umumnya, karyawan yang berusia 18 hingga 24 tahun memiliki sikap positif terhadap pekerjaan. Berikut adalah beberapa fakta yang mungkin terkait dengan pengaruh Gen Z terhadap budaya organisasi:

  • Nilai-nilai yang selaras. Pekerja pada kelompo umur ini umumnya (sekitar 46%) mengatakan bahwa hanya sebagian nilai-nilai perusahaan yang cocok dengan nilai-nilai mereka, dan separuh dari kelompok ini mengaku bahwa perilaku top manajemen cocok dengan nilai-nilai yang dianut perusahaan. ternyata, Gen Z juga merupakan generasi yang berpeluang paling kecil untuk menyukai ekspektasi perusahaan terkait di mana mereka bekerja.
  • Teknologi di lingkungan kerja. Perkembangan teknologi yang cepat sangat mempengaruhi cara pandang kita terhadap pekerjaan. Pemahaman tentang teknologi ini, sikap menghadapinya, sangat bervariasi antar kelompok populasi, meski hampir semua karyawan memandang positif terhadap tool-tool digital yang baru. Namun, karyawan yang usianya lebih mudah berpeluang kecil mengatakan bahwa mengadopsi tool digital tersebut adalah hal mudah.
  • Media sosial. Di antara karyawan yang bekerja di perusahaan yang menggunakan media sosial, mereka mengaku bahwa mereka secara personal menggunakan setidaknya satu saluran media sosial untuk mengikuti dan/atau berinteraksi dengan perusahaan. Namun, pekerja usia 18 hingga 24 tahun melaporkan interaksi yang lebih sedikit dengan pimpinan atau rekan kerja di media sosial, dan hal ini setara dengan sikap mereka menghadapi peran pekerjaan dalam kehidupan mereka.
  • Lokasi kerja. Covid-19 membawa dampak yang masif terhadap seluruh bidang pekerjaan – mulai dari CEO, manajer, hingga karyawan baru. Awalnya, ada gelombang bekerja dari rumah; sekarang, kembali lagi ke tempat kerja, model kerja hybrid, hingga munculnya nomaden digital. Saat ini, kebanyakan perusahaan masih mencoba-coba model yang paling cocok. Karyawan muda belum tentu lebih nyaman berkolaborasi secara online dibanding karyawan yang usianya lebih tua.

Seperti apapun new normal yang berlaku di tempat kerja, yang jelas, norma lama tidak kembali lagi. Karyawan harus beradaptasi dengan angkatan kerja baru yang sedang menghadapi tantangan disorientasi serius selama pandemi.

Pengaruh Gen Z Terhadap Budaya Organisasi: Bagaimana Menyikapinya?

Di satu sisi, pernyata misi dan model bisnis anda mungkin sudah disusun dengan baik. Namun di sisi lain, perubahan yang ada di hadapan pada karyawan anda bisa mempengaruhi pengalaman kerja yang berbeda antar generasi. Untuk menyikapi pengaruh Gen Z terhadap budaya organisasi, berikut adalah beberapa hal yang perlu dipertimbangkan:

  • Ketika perusahaan menawarkan fleksibilitas terhadap sistem kerja hybrid serta bekerja seperti biasa, artinya perusahaan menunjukkan adaptabilitas dan pemahaman terhadap kesukaan karyawan pada segmen usia yang berbeda-beda;
  • Inklusi dan Keadilan. Gen Z juga dikenal memberikan perhatian khusus terhadap keadilan sosial, keberagaman dan inklusi di tempat kerja, maupun kesehatan mental. Menerapkan inklusi dan seminar perilaku di tempat kerja, yang didasarkan pada kebijakan yang adil, bisa memastikan adanya fondasi pengetahuan dan meminimalisir resiko akibat perilaku yang berbahaya.
  • Komunikasi dan pelatihan. Salah satu cara terbaik untuk mengelola perilaku karyawan terkait perubahan teknologi adalah berkomunikasi secara terbuka dan sering, untuk membahas apa yang sedang terjadi dan mengapa terjadi.
  • Fikirkan cara terbaik untuk berkomunikasi dan menggunakan saluran yang bisa menjangkau seluruh karyawan. Millennial dan Gen Z cenderung lebih akrab dengan trend dan pola media sosial. Jadi, cobalah berdayakan mereka untuk mendapatkan strategi membangun hubungan dengan konsumen.

Sekalipun mereka baru saja memasuki dunia kerja, ternyata banyak Gen Z yang sudah mengalami stress, baik di sekolah maupun di tempat kerja, salah satunya karena pandemi. Model kerja bisa saja bervariasi antar perusahaan, tergantung skala dan lokasi bisnis. Lalu, apa artinya ini bagi mereka yang sudah lebih dahulu bekerja? Perlu diingat bahwa Gen Z masuk ke dunia kerja di tengah gelombang perubahan besar – disfungsi politik, pandemi global, adopsi AI, perubahan iklim dan pemanasan glonal, dan sebagainya. Ini semua akan menentukan pengaruh Gen Z terhadap budaya organisasi di segala sektor.

Tagged With :

Leave a Comment