Sistem Kerja Hybrid: Kelemahan Yang Harus Diantisipasi – Part 1

XM broker promo bonus

Kita menyebut hybrid sebagai masa depan, namun ada banyak argumen tidak yakin kalau model ini akan berjalan dengan baik. Model hybrid digadang-gadang sebagai masa depan lingkungan kerja. Hybrid dipandang sebagai media yang menyenangkan, karena memadukan antara sistem kerja dari rumah dan dari kantor. Sistem ini diadopsi secara cepat di seluruh dunia. Namun, para ahli juga memperingatkan untuk mengantisipasi kekurangan sistem kerja hybrid ini.

Kita tahu bahwa sistem kerja hybrid menawarkan banyak keuntungan, seperti fleksibilitas dan otonomi bagi pekerja. Kita juga tahu bahwa sebenarnya banyak karyawan yang menginginkan model kerja seperti ini. Sejumlah studi menunjukkan bahwa hampir 83% pekerja lebih menyukai sistem kerja hybrid selama pandemi.

sistem kerja hybrid Part 1

Sistem Kerja Hybrid dan Kelemahannya

Namun, apakah sistem ini benar-benar bisa kita terapkan secara penuh? Apa saja kelemahannya? Dan apa yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya jika kita ingin menerapkan sistem kerja hybrid dengan baik?

Adil Untuk Semua?

Pertama, fakta yang mungkin tidak disukai adalah bahwa tidak semua orang bisa bekerja dengan sistem kerja hybrid. Akibatnya, bisa jadi terjadi penolakan di kalangan pekerja. Bagi banyak orang, sistem kerja ini masih sebatas impian yang sukar dipahami. Sistem ini mungkin menjadi praktek normal baru bagi sebagian orang saja. Setidaknya, perbedaan ini mengingatkan kita pada perbedaan pekerja ‘kerah putih dengan pekerja ‘kerah biru’ di masa lalu.

Anu Madgavkar bekerja sama dengan McKinsey Global Institute melakukan penelitian tentang masa depan dunia kerja, dan mereka menemukan bahwa sekitar 50% hingga 60% pekerjaan di berbagai bidang dilakukan secara spesifik, di mana anda mesti hadir di satu tempat tertentu untuk mengerjakannya. Bahkan di satu kantor yang sama, beberapa anggota tim mungkin mengerjakan tugas yang mengharuskan mereka hadir full-time di kantor.

Baca Juga:   Membangun Hubungan Emosional dengan Follower di Media Sosial

Selain itu, para analis mengatakan bahwa membagi pekerja sebagian di rumah dan sebagian di kantor bisa menciptakan dua budaya organisasi yang berbeda, di mana satu kelompok merasa lebih unggul dibanding kelompok lain. Padahal, mereka berada di satu perusahaan yang sama.

Investasi Yang Dibutuhkan?

Kemudian, ada beberapa aspek praktis yang perlu dipertimbangkan. Misalnya, sistem hybrid bisa saja membutuhkan biaya ekstra. Madgavkar menyebut terjadinya kenaikan pengeluaran untuk keamanan cyber (cybersecurity). Anda mungkin harus menaikkan investasi untuk sistem keamanan, karena dikatakan bahwa sistem kerja hybrid adalah ‘impian para hacker’, banyak pekerja dengan peralatan kerja yang berbeda-beda keluar-masuk jejaring perusahaan.

Perusahaan mungkin juga harus mengeluarkan biaya ekstra untuk memastikan bahwa tempat kerja karyawan sesuai dengan peruntukannya. Perusahaan mungkin harus bertanggung jawab untuk kelengkapan kerja karyawan di rumah maupun di kantor. Hal ini bisa diimbangi dengan mengurangi peralatan dan kelengkapan kerja di kantor, karena sebagian karyawan bekerja di rumah.

Jika sebagian besar karyawan bekerja dari rumah, maka ukuran kantor tidak perlu besar. Namun, salah satu kelemahan yang mungkin terjadi adalah karyawan merasa kurang bersemangat karena tidak adanya ruang pribadi di kantor yang kecil. Selain itu, proses transisi dari rumah dan kantor bisa jadi terasa lebih sulit karena staff harus menyesuaikan tempat kerjanya setiap kali terjadi transisi.

Ada beberapa solusi untuk masalah ini. Menurut Madgavkar, sejumlah perusahaan mulai berinvestasi di bidang ‘intelligent desk’ yang bisa mengingat settingan tempat kerja anda, seperti tinggi tempat duduk setiap kali anda masuk.

Bagaimana Mengaturnya?

Kemudian, fakta menunjukkan bahwa perusahaan sedang mencoba-coba sistem kerja hybrid yang berbeda-beda untuk menemukan yang terbaik. Sebagian menguji-coba sistem hybrid secara kasual. Sistem ini memperbolehkan karyawan memilih kapan mereka datang ke kantor dan kapan bekerja di rumah. Sebagian lagi meminta karyawan untuk memilih hari tertentu di mana mereka bekerja di kantor.

Baca Juga:   Cara Memilih Marketplace untuk Bisnis Online Bagi Pemula

Namun, para ahli mengatakan bahwa masalah bisa terjadi jika tim tidak mengkoordinasikan jadwal kerja mereka dengan baik. Misalnya, jika ada masuk pada hari Selasa dan Kamis, namun rekan lain yang satu tim ternyata masuk di hari Senin dan Rabu, maka kerjasama tim tidak akan terjadi dengan baik. Dalam hal ini, sistem kerja hybrid tidak memberikan manfaat bagi produktivitas tim.

Christoph Siemroth dari University of Essex melakukan penelitian tentang hubungan antara sistem kerja jarak jauh dan produktivitas. Mereka menemukan potensi masalah komunikasi jika pekerja tidak mengkoordinasikan waktu kerja dengan baik. Sistem kerja hybrid bisa menghambat komunikasi karena anggota tim tersebar di banyak tempat. Anda bisa saja lupa mengupdate informasi terbaru kepada rekan kerja yang bekerja dari rumah melalui Slack atau platform virtual lainnya.

Oleh sebab itu, para manajer harus memiliki sistem sentralistik yang kuat, di mana sumber daya, dokumen, dan informasi terupdate bisa diakses setiap waktu, meskipun hal ini bisa menjadi tugas tambahan bagi para manajer. Dapatkan pembahasan lebih lanjut tentang kelemahan sistem kerja hybrid pada post berikutnya.

Tagged With :

Leave a Comment