3 Strategi Menghadapi Masalah Inflasi Selama Krisis

Pandemi covid-9 mengubah cara kita bersosialisasi, bekerja, jalan-jalan, dan berfikir tentang masa depan kita. Ketika pemerintah menghimbau masyarakat untuk lebih baik di rumah jika tidak ada urusan yang benar-benar penting, dampaknya terhadap perekonomian ternyata sangat serius. Perekonomian lokal maupun global nyaris terhenti pada bulan April, meski saat ini sudah mulai berangsur nomral. Salah satu masalah yang dikhawatirkan akibat krisis ini adalah inflasi atau kenaikan harga besar-besaran. Bukan hanya bisnis, individu yang perlu kiat menghadapi masalah inflasi selama krisis. Pasalnya, pergerakan menuju kehidupan normal tampaknya sangat lambat karena masih adanya himbauan social distancing.

Selain itu, pandemi covid-19 mengharuskan pemerintah mencari cara agar perekonomian tetap berjalan dan pasar uang tetap likuid. Sejumlah program seperti bantuan langsung tunai juga digulirkan untuk membantu masyarakat yang ekonominya mandek akibat covid-19. Bahkan, pemerintah juga didesak untuk mencetak lebih banyak uang untuk menopang perekonomian. Apa artinya?

menghadapi masalah inflasi selama krisis

Menghadapi Masalah Inflasi Selama Krisis: Apa Resikonya?

Mencetak uang baru bisa menimbulkan ancaman inflasi dalam waktu dekat. Biasanya, inflasi terjadi karena dua skenario, yakni 1) ketika permintaan (demand) dari konsumen terlalu tinggi sehingga harga-harga menjadi naik atau ketika penawaran (supply) sangat terbatas, sehingga harga-harga juga naik. Lalu, apa resikonya terhadap uang tabungan, dana pensiun, atau proteksi lain yang anda miliki?

Sejujurnya, inflasi dapat menimbulkan dampak yang sangat besar terhadap tabungan anda. Pada dasarnya, inflasi menaikkan harga-harga barang dan jasa. Artinya, anda akan membutuhkan lebih banyak uang untuk membeli sebuah benda saat ini. Dengan kata lain, uang yang anda miliki saat ini nilainya akan sangat kecil esok lusa.

Rata-rata tarif inflasi jangka panjang adalah 2% hingga 4% setiap tahunnya. Misalkan anda memiliki uang sejumlah Rp. 10.000.000 di tabungan, dengan suku bunga 2%. Setelah satu tahun, maka nilai tabungan anda naik menjadi Rp. 10.200.000,-. Namun, jika laju inflasi mencapai 7%, maka anda sebetulnya membutuhkan Rp. 10.700.000, agar daya beli anda saat ini sama dengan daya beli anda tetap sama.

Baca Juga:   Ketika Mobile Payment Bukan Lagi Skema Pembayaran Alternatif

Menghadapi Masalah Inflasi Selama Krisis: Bagaimana Caranya?

Lalu muncul pertanyaan lain, Bagaimana anda bisa melindungi tabungan pensiun atau tabungan lainnya dari inflasi? Para ahli memperkirakan bahwa ketidakpastian finansial secara global akan berlangsung hingga Tahun 2021 karena pandemi covid-19. Ada sejumlah strategi investasi yang diperlukan investor agar mereka mampu menghadapi masalah inflasi selama krisis dan melindungi dana pensiun atau tabungan dari inflasi, antara lain:

  • Pilih saham yang tepat. Menurut para pakar, sebaiknya pilih saham dari perusahaan yang memiliki arus kas baik dan/atau perusahaan yang bisa menaikkan harga dan menangani banyak bisnis tanpa harus mengeluarkan lebih banyak biaya. Tentunya, tidak mudah menemukan perusahaan seperti in, namun anda bisa mendapatkannya.  Biasanya, harga saham di perusahaan seperti ini memang lebih tinggi dari rata-rata. Namun, resikonya lebih kecil dan anda masih bisa mempertahankan portofolio investasi selama krisis. Untuk itu, anda bisa memilih investasi di perusahaan yang bergerak di bidang yang sedang aktif saat ini, seperti kesehatan dan teknologi informasi.
  • Pilihlah investasi yang terproteksi dari inflasi. Sejumlah produk investasi dan asuransi dirancang khusus sehingga bekerja lebih baik saat masa inflasi. Produk investasi seperti reksadana dengan sistem floating rate, atau inflation-indexed annuities layak dipertimbangkan. Misalnya untuk obligasi yang terproteksi inflasi, penghasilan investor bisa meningkat selama inflasi.
  • Pilih investasi yang fleksibel. Artinya, pilih produk yang memungkinkan anda unuk berinvestasi pada asset alternatif atau asset fisik seperti real estate. Berbeda dengan ekuitas, real estate adalah asset fisik yang juga bisa memberikan sumber kas yang konsisten bagi investor. Asset alternatif semacam ini dinilai lebih tahan melawan investasi.

Selama masa krisis atau saat terjadinya kepanikan pasar, asset fisik cenderung memiliki nilai tetap, terutama untuk real estate hunian. Namun tentunya, diversifikasi asset pensiun ke asset fisik seperti real estate tidaklah bebas resiko. Bahkan termasuk real estate juga mengalami gejolak selama krisis akibat pandemi covid-19. Meski demikian, pandemi covid-19 dan ancaman inflasi sepertinya bisa memicu investor untuk mencari produk investasi yang terproteksi dari inflasi, karena mempertimbangkan resiko dan untung-ruginya.

Baca Juga:   UMKM dan Pemulihan Sosial Ekonomi Akibat Pandemi Covid-19

Melihat kondisi yang terjadi saat ini, kedua skenario di atas bisa saja terjadi. Inflasi bisa terjadi karena tingginya permintaan konsumen, terutama untuk barang atau jasa tertentu, seperti sembako, alat-alat kesehatan, dan perangkat teknologi informasi untuk mendukung aktivitas bekerja dari rumah. Sebaliknya, inflasi juga bisa terjadi karena banyaknya perusahaan dan pabrik yang tutup, sehingga rantai pasok barang terganggu.

Tiga strategi menghadapi masalah inflasi selama krisis di atas diharapkan dapat meminimalisir kepanikan di kalangan investor. Anda tentunya tidak membutuhkan ketiganya. Pilihan anda akan tergantung pada kondisi investasi yang anda kelola saat ini.

Tagged With :

Leave a Comment