Sistem Pembayaran Digital Bukan Lagi Pilihan, Tapi Keharusan

Dunia perdagangan saat ini sangat berbeda dari dunia dagang yang kita kenal di Tahun 2019. Pandemi covid-19 telah mempercepat jalannya evolusi, sehingga para pedagang maupun penyedia layanan pembayaran dihadapkan pada berbagai tuntutan baru dalam bisnisnya. Sebaliknya, para peserta pasar harus menerima kenyataan bahwa dalam beberapa bulan terakhir telah terjadi perubahan yang sangat dramatis dalam sistem pembayaran digital.

Adopsi e-commerce baru dan perilaku dalam sistem pembayaran terjadi begitu cepat. Sementara itu, peran nilai bisnis dalam teknologi pembayaran semakin tinggi, dan sepertinya kondisi ini akan berlangsung dalam waktu yang lama. Ada beberapa realita yang harus dipertimbangkan para stakeholder dalam teknologi pembayaran saat merancang strategi bisnis di masa pandemi ini hingga di masa mendatang.

sistem pembayaran digital

Sistem Pembayaran Digital Selama Pandemi Covid-19

Berikut adalah tiga realita yang perlu diperhatikan para pelaku dalam industri pembayaran, terutama di sektor e-commerce:

Sistem pembayaran digital masa depan telah tiba

Sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa penggunaan dan adopsi metode pembayaran digital, seperti pembayaran tanpa kontak (contactless), dompet digital atau cicilan digital meningkat secara dramatis dalam tahun ini. Sebaliknya, volume penjualan di toko (in-store) turun secara dramatis. Menurut sejumlah pakar, peralihan ini akan terus terjadi bahkan setelah penerapan New Normal di berbagai negara di dunia.

Jadi, jika anda bergerak dalam industri sistem pembayaran digital, pastikan anda mempertimbangkan skenario semacam ini dalam merancang sistem usaha. Nilai transaksi e-commerce secara global diproteksi akan terus meningkat, hingga lebih dari 23% per tahun di Tahun 2020. Para pelaku di industri sistem pembayaran digital ini harus siap untuk menghadapi volume transaksi tanpa kontak dan metode pembayaran yang mungkin tidak pernah dibayangkan akan terjadi sebelumnya.

Baca Juga:   Potensi Perusahaan Fintech Berbasis Syariah di ASEAN

Bagi para pedagang, perubahan ini pastinya berimplikasi terhadap perubahan sistem bisnis secara dramatis, terutama dalam penentuan prioritas sistem pembayaran yang akan digunakan. Demikian juga dengan tingkat penekanan yang harus mereka berikan terhadap strategi-strategi pembayaran yang sudah ada.

Pembayaran telah menjadi infrastruktur bisnis yang sangat penting

Ini adalah fakta yang tidak terelakkan saat ini. Para pelaku di industri perdagangan harus menyiapkan sarana dan prasarana pembayaran yang mampu meminimalisir kontak dan meminimalisir resiko penularan virus. Di masa lalu, mungkin banyak pedagang yang menganggap sistem pembayaran bukan sebuah layanan yang harus diperhatikan secara mendalam. Namun saat ini, dibutuhkan sarana dan prasarana pembayaran yang canggih untuk mengakomodir terjadinya peralihan sistem dan volume pembayaran, peralihan cara berbelanja oleh konsumen, serta perubahan dalam dunia cyber yang sudah sama-sama kita lihat sejak bulan Maret tahun ini.

Tidak semua sistem pembayaran diciptakan sama. Kenyataan ini terlihat semakin jelas bagi konsumen yang sudah terbiasa menggunakan sistem pembayaran digital, yakni mereka yang mencari layanan yang semakin cepat dan nyaman. Mereka menginginkan pengalaman berbelanja yang terintegrasi dan tanpa hambatan. Jika tidak mendapatkan yang diharapkan, para penyuka teknologi canggih ini akan meninggalkan keranjang belanjaannya tanpa proses lebih lanjut.

Tidak mengherankan jika 70% pedagang digital yang merupakan para pemimpin transformasi digital mengatakan bahwa pembayaran adalah fokus perhatian yang sangat strategis bagi usaha mereka. Setidaknya inilah yang ditemukan oleh Riset 451 di Tahun 2020 ini.

Digital sudah bersifat default

Menurut Suvery VoCUL: Connected Consumer Representatif di Kwartal 2 Tahun 2020 ini, tiga dari lima konsumen telah beralih ke sistem belanja online. Meski tidak seluruhnya, tapi mereka sudah mengalihkan sebagiannya, akibat dari perjangkitan Covid-19. Bahkan di kalangan baby boomers, 1 dari 2 baby boomer juga telah beralih dari sistem berbelanja di toko ke sistem belanja online.

Baca Juga:   Sistem Pembayaran Non Tunai: Antara Manfaat dan Keadilan

Akibat terjadinya penurunan minat untuk berbelanja langsung di toko (in-store), maka terlihat jelas bahwa pengalaman berbebalanja akan pindah ke dunia digital, meskipun produk akhir atau jasa yang diharapkan pada akhirnya akan didapatkan secara fisik. Sebagai contoh, anda bisa memesan jasa laundry secara online, melakukan pembayaran secara online, dan menerimanya langsung di rumah. Namun faktanya, pengusaha laundry tetaplah harus mencuci pakaian anda secara fisik.

Fakta ini harus disadari para pelaku dalam industri sistem pembayaran digital maupun para pedagang digital. Digital tidak lagi bisa diperlakukan sebagai saluran kedua setelah strategii in-store. Namun, pengalaman digital mesti menjadi satu kesatuan dalam pengalaman berbelanja konsumen. Untuk pelaksanaannya, dibutuhkan infrastruktur pembayaran yang bisa memastikan adanya satu data tunggal terkait inventaris, persediaan, pesanan, maupun riwayat pembelian konsumen, di manapun transaksi dilakukan oleh konsumen.

Sebagai kesimpulan, kita tidak pernah tahu kemana kita akan pergi jika kita tidak tahu kita datang dari mana. Dengan kata lain, ini merupakan sebuah panduan bagi para pelaku dalam industri sistem pembayaran digital saat mereka merancang strategi bisnis untuk kwartal ke-4 tahun ini atau untuk periode-periode selanjutnya. Saat dampak virus corona semakin meluas, maka para stakeholders dalam industri pembayaran harus bergerak semakin cepat agar tidak terlindas oleh persaingan.

Tagged With :

Leave a Comment