Berbelanja Online Selama Liburan Akhir Tahun? Ini Trend-nya

XM broker promo bonus

Covid-19 semakin mempercepat pergerakan konsumen ke arah evolusi alamiah, di mana para eksekutif di perusahaan retail mulai kehilangan pandangan tentang siapa konsumen mereka yang sesungguhnya. Banyak hal telah berubah akibat pandemi ini. Konsumen sebagian besar memilih berbelanja online untuk menghindari kontak fisik. Trend ini mungkin tidak akan pernah berubah.

Survey menunjukkan bahwa lebih dari 186 juta orang di Amerika Serikat berbelanja di toko maupun secara online dalam periode 5 hari saja, sejak Thanksgiving ke Cyber Monday. Data ini dilaporkan oleh National Retail Federation. Meskipun angka ini sedikit lebih rendah dibanding Tahun 2019, namun tetap lebih tinggi dibanding Tahun 2018 yang hanya sekitar 166 juta orang. Selain itu, trend tahun ini menunjukkan kalau 44% konsumen memilih berbelanja online.

berbelanja online

Namun, secara rata-rata terjadi pengurangan jumlah nominal yang dibelanjakan masyarakat, yakni sekitar $312, dibanding $362 pada Tahun 2019. Ini adalah beberapa data yang bisa digunakan para retailer untuk merencanakan penjualan musim liburan ini. Namun, di antara pola belanja tersebut, terdeteksi variasi yang tidak begitu kentara dalam hal perilaku para konsumen. Trend-trend semacam ini menjadi patokan bagi perusahaan retail untuk memprediksi trend bisnis ritel tahun 2021.

Berbelanja Online Menjadi Trend saat Black Friday

Jika angka-angka tersebut digali lebih dalam untuk melibat trend terbesar berbelanja online di akhir minggu, anda empat trend yang terbaca melalui radar. Empat trend ini diperkirakan akan memicu perubahan yang signifikan bagi konsumen dan retail, yakni:

Layanan Pengiriman Dapat Mempengaruhi Pengalaman Belanja

“Saya menginginkannya sekarang” merupakan ungkapan harapan, bukan sebuah permohonan. Itulah yang menjadi prinsip toko online dalam menyediakan layanan kepada konsumen. Misalnya, Amazon melakukan pengembangan sistem pergudangan dan pengirimannya untuk memastikan bahwa perusahaan bisa memenuhi lebih banak pesanan. Dengan kapasitas yang lebih besar saat ini, Amazon diperkirakan bisa meng-klaim hingga 42 cent dari setiap dollar yang dihabiskan konsumen pada musim liburan kali ini. Angka ini naik dari 36 cent di Tahun 2019. Setidaknya inilah yang dilaporkan oleh sebuah perusahaan di Wall Street, yakni Truist Securities.

Baca Juga:   Kerjasama ARM dan Nvidia: Apa Maknanya bagi Trend Teknologi?

Namun, tidaklah mudah untuk memastikan bahwa kotak-kotak barang tersebut sampai ke tangan konsumen. Hal ini tidak kalah pentingnya dengan sistem pergudangan itu sendiri. Para retailer besar sudah mengalami dan mengetahui betapa sulitnya hal ini. Sebagai contoh, United Parcel Service menginstruksikan para pengemudinya untuk tidak menjemput paket-paket dari Nike, Macy’s dan lainnya selama Cyber Monday. Mengapa? United Parcel Service telah melampaui batas kapasitas di Cyber Monday. Artinya, diperlukan solusi pengiriman alternatif serta pengawasan biaya pengiriman secara lebih ketat.

Shopping Drive-Thrue Mungkin Menjadi Sesuatu

Ketika pada shopper memilih berbelanja online, maka trafik di toko dilaporkan berkurang hingga 52% pada Black Friday. Dipadukan dengan biaya yang tinggi yang harus ditanggung oleh retailer, penurunan yang tajam tersebut membuat para retailer harus mencari cara yang efektif untuk mengimbangi biaya-biaya operasional toko. Sebagian besar retailer menawarkan layanan berbelanja online dan layanan antar sebagai alternatif yang lebih murah. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa konsumen mendapatkan apa yang dibutuhkan saat mereka membutuhkannya.

Kemungkinan besar, para shopper akan berharap bahwa toko-toko (khususnya yang berada di mall-mall) untuk menawarkan layanan pengiriman yang cepat dan murah. Siapa tahu, mungkin saja mall-mall tradisional akan mengubah sistem layanannya dan menawarkan jalur drive-thru, di mana shopper bisa menjemput pesanannya dengan nyaman.

Pengalaman Mobile Harus Dioptimalkan

Layanan mobile idealnya diarahkan untuk menjangkau lebih banyak audiens. Data menunjukkan bahwa 46.5% pengguna berbelanja melalui ponsel pintar selama musim liburan di Thanksgiving Day dan 40% menggunakan ponsel selama 40%. Setidaknya inilah yang dilaporkan dari riset yang dilakukan oleh Adobe Analytics yang melalukan penyelusuran terhadap perilaku berbelanja online.

Baca Juga:   10 Tips Cerdas Investasi Properti Bagi Pemula

Diperkirakan bahwa banyak shopper yang berusia 60an atau lebih. Seperti pernah ditulis di November, pandemi memaksa warga negara senior untuk beradaptasi dengan teknologi retail. Untuk melakukannya, mereka perlu membeli ponsel pintar yang terbaru dan dilengkapi aksesoris canggih. Pada akhirnya, kebiasaan baru ini akan semakin meningkatkan penjualan berbasis mobile.

Kesimpulan

Berbelanja online menjadi pilihan banyak orang selama liburan di tengah pandemi. Ya, selama hampir 10 bulan menghindar dari kerumunan, tidak makan di luar, tidak berkumpul dengan keluarga besar, tidak liburan, tidak melakukan perawatan di spa, tidak menghadiri konser, dan tidak berkunjung ke museum, para shopper mulai merasakan kebutuhan untuk menghibur diri. Keinginan untuk memanjakan diri bisa jadi mengurangi keinginan untuk berburu produk-produk diskon.

Namun, para retailer harus tetap hati-hati. Para shopper bisa saja ‘kalap’ saat berbelanja online. Artinya, para pedagang masih bisa menikmati penjualan yang lebih tinggi jika mereka menggunakan strategi pemasaran yang efektif, yakni produk-produk yang menyenangkan dan memiliki banyak fungsi.

Tagged With :

Leave a Comment