Peran Wanita di FinTech Dalam Rencana Pemulihan Pasca-Covid-19

Krisis yang disebabkan oleh pandemi covid-19 telah memicu berbagai masalah baru. Misalnya, bantuan langsung yang diberikan kepada masyarakat terdampak dinilai tidak efektif dan memicu berbagai masalah di daerah. Bantuan bagi usaha kecil dan menengah dalam pemulihan pasca covid-19 juga dinilai tidak mengatasi masalah yang dihadapi para pengusaha. Bahkan, ada sektor inovatif seperti FinTech yang justru tidak mendapat dukungan penuh dari program pemerintah tersebut.

Salah satu aspek yang cukup memprihatinkan adalah dampak covid-19 terhadap bisnis Fintech yang dikelola wanita. Wanita selalu mengalami lebih banyak kesulitan untuk mengakses pembiayaan dibanding pengusaha pria. Alhasil, pengusaha wanita cenderung lebih tabah dalam mengelola bisnisnya di tengah minimnya dukungan dari berbagai pihak. Namun, krisis akibat pandemi ini bisa membuat segala sesuatunya lebih buruk, teurtama bagi pengusaha wanita.

pemulihan pasca covid-19

Potensi Peren Wanita dalam Pemulihan Pasca Covid-19

Sebuah laporan tahun 2019 dari Innovate Finance menunjukkan bahwa hanya 17% perusahaan FinTech yang didirikan oleh perempuan, itupun dengan dukungan pembiayaan yang sangat minim. Diskriminasi seperti ini tentunya sangat kontraproduktif. Padahal, perusahaan yang memiliki banyak staf mesti dievaluasi selama masa-masa sulit, terutama selama proses penyesuaian dan pemulihan pasca covid-19 nantinya.

Di sisi lain, wanita sebenarnya diakui lebih unggul dalam hal kreativitas dalam menyesuaikan diri dengan perubahan. Senada dengan laporan Innovate Finance, Harvard Business Review juga mengatakan bahwa wanita lebih tangguh. Pemimpin wanita lebih siap dalam menghadapi berbagai kondisi. Lalu, mengapa kita tidak mendukung mereka?

Sebuah artikel di Business Cloud juga mengatakan bahwa saat ini banyak perusahaan yang dimiliki wanita mengalami defisit finansial. Angka ini diperkirakan akan bertambah akibat krisis covid-19. Laporan ini selanjutnya mengatakan bahwa industri Fintech dipenuhi oleh keahlian, inovasi, dan terobosan-terobosan baru. Namun, apakah industri FinTech telah mengimplementasikan prinsip kesetaraan gender? Sejumlah fakta menunjukkan:

  • Survey LendIt menunjukkan bahwa hanya 37% pekerja wanita di sektor FinTech, dan hanya 19 persen yang menempati posisi eksekutif.
  • All Raise melaporkan bahwa, selama Tahun 2019, hanya 7% dari total realisasi dana kredit sektor FinTech yang disalurkan pada perusahaan milik wanita.
Baca Juga:   Tips dan Cara Menggunakan Google Bisnis

Perusahaan Fintech yang dipimpin wanita sudah semakin langkah, sehingga membutuhkan perlindungan. Krisis ini menunjukkan bahwa tidak ada keseimbangan dalam hal perlaku di aspek pembiayaan. Sudah saatnya para pengusaha diperlakukan secara adil, tanpa memperdulikan jenis kelamin. Pasalnya, wanita juga memberikan potensi yang sangat menjanjikan dalam upaya pemulihan pasca covid-19.

Kelebihan Wanita dalam Menghadapi Krisis

Pendiri WorldRemit, Catherine Wines, percaya bahwa wanita harus lebih tangguh agar bisa mencapai tujuannya. Biasanya, wanita bekerja dua kali lebih keras dibanding pria untuk mendapatkan pengakuan. Mereka juga menghadapi lebih banyak penolakan saat mencoba mendapatkan dukungan pendanaan untuk usaha. Ketabahan seperti ini sebenarnya menjadi nilai tambah bagi kaum wanita saat menghadapi masa-masa sulit. Mereka sudah terbiasa dihadapkan dengan pilihan-pilihan sulit.

Ketangguhan adalah kunci untuk mendapatkan keseimbangan saat seseorang harus berpindah kerja dari kantor ke rumah. Keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan, serta fleksibilitas yang dapat dibangun oleh kaum wanita sebenarnya membuat mereka seharusnya dilibatkan dalam diskusi-diskusi untuk membahasa strategi pemulihan pasca covid-19. Rencana pemulihan akan mengubah cara kerja di berbagai sektor.

Apakah wanita lebih unggul dalam hal kreativitas mungkin masih diperdebatkan. Fintech memimpin dalam hal revolusi teknologi. Di satu sisi, banyak badan usaha yang dikelola wanita terbukti tangguh menghadapi iklim usaha saat ini. Mereka mampu memindahkan operasi usaha dari kantor ke rumah dan menawarkan solusi-solusi online kepada konsumen dalam waktu yang relatif cepat.

Wanita lebih tahan banting dan mudah menerima perubahan. Mereka juga memiliki banyak skill, seperti menjalankan pekerjaan rumah, pekerjaan kantor, dan keluarga dalam waktu yang sama. Jadi, wanita menempati posisi strategis dalam beradaptasi terhadap perubahan lingkungan kerja. Jadi, tidak diragukan kalau wanita memainkan peran yang sangat strategis dalam pemulihan pasca covid-19, karena sejumlah fakta yang tak bisa disangkal, misalnya:

  • Wanita adalah segmen konsumen yang sangat potensial
  • Wanita adalah pembuat kebijakan yang paling utama untuk urusan keuangan rumah tangga.
  • Hampir separuh penduduk adalah wanita. Statistik ini saja sudah cukup untuk memahami pentingnya peran wanita.
Baca Juga:   10 Macam Bisnis Jasa Kreatif yang Bisa Anda Coba

FinTech adalah sektor yang sarat dengan kreativitas. Keanekaragaman akan membuat bisnis ini lebih kreatif. Sudah selayaknya peluang-peluang yang ada dinilai secara adil, termasuk peluang dari kepemimpinan wanita di sektor FinTech. Faktanya, wanita masih belum mendapatkan perlakuan yang seimbang. Wanita masih harus bekerja lebih keras, belajar lebih cepat, dan beradaptasi lebih cepat dibanding pria. Tentunya, ini adalah tantangan yang harus dijawab dalam waktu cepat oleh para pengambil kebijakan di seluruh dunia. Wanita memiliki potensi dan kapasitas kepemimpinan yang sangat baik, namun jika tidak dibekali secara memadai, maka dampaknya tidak akan terlihat.

Tagged With :

Leave a Comment