Potensi Perusahaan Fintech Berbasis Syariah di ASEAN

Pasar keuangan di daerah Asia Tenggara saat ini diwarnai dengan kehadiran sejumlah perusahaan Fintech berbasis syariah. Menurut sejumlah pakar, ini menandai potensi pertumbuhan bisnis niche tradisional. Sejumlah pakar masih percaya bahwa koridor Malaysia-Singapura-Indonesia adalah arena baru yang sangat potensial untuk inovasi di bidang industri keuangan. Perusahaan-perusahaan fintech berbasis syariah di wilayah ini menyediakan layanan digital dan menarik calon konsumen secara luas.

Pasar yang paling potensial di wilayah Asia Tenggara adalah Indonesia, di mana terdapat populasi Muslim paling besar, dengan jumlah mencapai 230 juta. Namun, banyak perusahaan baru yang sudah menjangkau layanan global, karena bisa menyediakan layanan keuangan berbasis online dan mobile. Jika layanan baru yang disediakan bisa diterima oleh hampir 1.9 juta muslim di seluruh dunia, maka perusahaan pemula sekalipun dapat memiliki jangkauan global dalam waktu singkat. Sekali lagi, jika perusahaan keuangan tersebut mampu bersaingan dengan bank syariah konvensional lainnya.

Fintech berbasis syariah

Layanan Keuangan Syariah di Balik Fintech Berbasis Syariah

Sebelum membahas potensi layanan keuangan syariah di Asia Tenggara, beberapa konteks perlu dipahami. Layanan keuangan dalam Islam mengikuti prinsip-prinsip yang ditetapkan dalam Syariat Islam. Meskipun layanan keuangan semacam ini telah ada selama berabad-abad, perbankan modern yang berbasis syariah baru muncul di pertengahan abad ke-20, ketika negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim banyak yang merdeka dan kesejahteraannya meningkat.

Layanan keuangan yang menjadi landasan Fintech berbasis syariah memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dari layanan keuangan konvensional.

Bebas dari Riba

Sebagian besar pakar Muslim sepakat bahwa Syariat Islam melarang riba. Hal ini tertuang jelas dalam al Quran dan hadits, yang menyamakan bunga dengan riba. Jadi, prinsip keuangan syariah menawarkan konsep lain untuk mendapatkan keuangan. Misalnya, daripada menawarkan pinjaman gadai dengan bunga tertentu, perusahaan keuangan syariah memilih membeli properti yang diinginkan, kemudian menyewakan atau menjualnya kepada nasabah dengan cicilan dan harga yang lebih tinggi dibanding harga awalnya.

Baca Juga:   Trend Dunia FinTech Yang Perlu Diperhatikan di Tahun 2020

Skema lainnya adalah menanggung laba dan rugi bersama, antara pihak perusahaan dengan nasabah. Misalnya, ketika anda menabung di bank, anda akan mendapat bagi hasil dari laba yang didapatkan perusahaan, bukan dalam bentuk bunga. Sebaliknya, jika anda meminjam uang, maka anda akan mengembalikan pokok pinjaman beserta bagi hasil dari keuntungan bisnis anda untuk perusahaan.

Melarang Bisnis Haram

Perusahaan Fintech berbasis syariah maupun bank syariah tidak membiayai bisnis yang melakukan operasi atau memproduksi barang haram, seperti judi dan minuman beralkohol, karena dilarang dalam ajaran Islam. Jadi, perusahaan keuangan syariah tidak akan berinvestasi pada obligasi perusahaan kasino atau menghindari investasi yang terkait dengan tembakau. Perusahaan keuangan syariah juga menghindari investasi yang beresiko tinggi, praktek penipuan, dan semacamnya.

Sebaliknya, Syariat Islam sangat mendukung investasi yang memberikan kebaikan bagi banyak orang. Misalnya adalah proyek-proyek yang membantu orang miskin atau orang-orang yang membutuhkan. Demikian juga dengan investasi yang halal, seperti pengolahan makanan halal atau pariwisata halal, seperti layanan hotel yang bebas alkohol dan bebas babi. Zakat dianggap sebagai kewajiban seorang Muslim, yang tentunya lebih menyukai perusahaan keuangan yang menghitung dan mengeluarkan zakat dari keuntungan mereka.

Sebenarnya, ringkasan di atas hanya menyentuh sebagian dari prinisp keuangan Syariah. Sama halnya dengan ajaran agama lain, dalam ajaran Islam, tetap terdapat interpretasi yang berbeda-beda dari prinsip dasar. Tidak semua muslim merasa sepakat dengan prinsip-prinsip tersebut saat mereka mencari layanan keuangan. Hal ini menjelaskan mengalami keuangan berbasis syariah belum mencapai titik jenuh di pasar, termasuk di negara-negara yang sebagian besar penduduknya adalah Muslim.

Landasan Fintech Berbasis Syariah di Asia Tenggara

Salah satu faktor paling dominan adalah pasar Indonesia yang sangat besar. Bukan hanya karena sekitar 87% penduduknya beragama Islam, namun hampir dua pertiga penduduknya belum menikmati layanan perbankan, terutama di daerah tertinggal dan terpencil. Selain itu, sebagian besar penduduknya sudah memiliki ponsel. Jadi, penduduk Muslim Indonesia adalah target yang sangat potensial bagi perusahaan fintech berbasis ponsel. Meskipun Islam bukan satu-satunya agama di negara ini, pemerintah Indonesia mendorong secara aktif ekonomi syariah.

Baca Juga:   e-Commerce Indonesia: Sebuah Tantangan Sekaligus Peluang

Kemudian, adalagi Malaysia, sebuah negara yang berkembang pesat dan memiliki lebih dari 20 juta (dari 33 juta) penduduk beragama Islam. Malaysia berada di peringkat ketiga (setelah Iran dan Saudi Arabia) dalam upaya berinvestasi pada aset-aset berbasis syariah. Negara ini memiliki sejumlah entitas keuangan ternama berbasis syariah, seperti Bank Islam Malaysia, Maybank, dan CIMB Group yang memiliki cabang syariah.

Sementara itu, meski Singapura cukup kecil dan hanya 14% penduduknya beragama Islam, Singapura adalah negara paling maju di Asean dan merupakan titik kumpul industri-industri baru berbasis teknologi. Jadi, ketiga negara ini memiliki potensi sendiri bagi perusahaan Fintech berbasis syariah.

Tagged With :

Leave a Comment