Dua MI Reksa Dana Lagi Kena Suspensi OJK Tahun Ini

Menjelang pergantian tahun 2019/2020, reksa dana semakin jadi sorotan. Hanya beberapa hari menjelang Natal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan suspensi terhadap PT MNC Asset Management dan PT Pratama Capital Assets Management sebagai sanksi atas pelarangan yang berbeda-beda. Dengan demikian, saat ini ada empat manajer investasi yang kena suspensi OJK. Selain kedua perusahaan tersebut, PT Minna Padi Aset Manajemen dan PT Narada Aset Manajemen sudah terlebih dahulu disuspen.

Melanggar Aturan, OJK Suspensi Reksa Dana Minna Padi

Menurut OJK, PT MNC Asset Management telah melakukan tiga pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku. Salah satu diantaranya menempatkan investasi pada efek utang yang sudah gagal bayar (default), yaitu Obligasi TPS Food 1 Tahun 2013, Sukuk Ijarah TPS Food I Tahun 2013, dan Sukuk Ijarah TPS Food II Tahun 2016 yang semuanya berhubungan dengan emiten bermasalah AISA. Demi memecahkan masalah ini, CNBC Indonesia melaporkan bahwa PT MNC Kapital Indonesia Tbk (BCAP) mengambil alih portofolio deafult tersebut. Namun, OJK telanjur sudah menjatuhkan sanksi berupa larangan menambah unit baru untuk tujuh reksa dana kelolaan PT MNC Asset Management.

PT Pratama Capital Assets Management terbelit masalah lain lagi. OJK menemukan bahwa reksa dana Pratama Capital mempertahankan holding saham PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) sebesar lebih dari 10 persen dari total dana kelolaan reksa dana, padahal sudah berulang kali melakukan pembinaan pada tahun 2017 dan 2018. Sebagai sanksi, OJK melarang PT Pratama Capital Assets Management menjual reksa dana maupun membuat produk reksa dana baru selama 3 bulan.

Prahara yang melanda industri reksa dana Indonesia agaknya belum berakhir. Kasus gagal bayar asuransi Jiwasraya yang marak baru-baru ini, kabarnya juga bakal menyeret 13 manajer investasi. Jiwasraya diketahui memiliki penempatan investasi sebesar sebesar 59.1 persen atau senilai Rp 14.9 triliun dari aset finansial. Namun, belum jelas manajer investasi mana saja yang berhubungan dengan kasus tersebut.

Baca Juga:   OJK Memperketat Aturan Pengelolaan Reksa Dana

Dengan menyaksikan beragam kasus ini, boleh jadi ada baiknya mempertimbangkan migrasi dana temporer ke aset investasi lain. Lesunya bursa saham Indonesia kemungkinan menyeret pula reksa dana saham. Sedangkan tren suku bunga rendah juga berpotensi menekan imbal hasil dari reksa dana jenis lainnya, walaupun kinerja reksa dana pasar uang hingga saat ini masih prima.

Tak ada salahnya pula mempertahankan investasi pada reksa dana untuk menghindari realisasi kerugian akibat cut loss. Namun, tentu saja, opsi ini hanya layak diambil apabila Anda memiliki visi investasi jangka panjang, sekaligus yakin terhadap kredibilitas dan kinerja manajer investasi Anda.

Tagged With :

Leave a Comment