Pada post sebelumnya dibahas isu terbaru dalam manajemen sumber daya manusia, yakni quiet quitting. Secara harfiah, istilah ini berarti berhenti diam-diam. Namun dalam konteks ini, pengertiannya tidak seperti itu. Quiet quitting mengacu kepada konsep di mana karyawan ‘bekerja seadanya’ sesuai dengan besaran penghasilan yang diterima dari perusahaan. Mereka enggan untuk mengorbankan waktu dan tenaga lebih, karena perusahaan tidak akan memberikan kompensasi atas kelebihan tersebut.
Para pemilik usaha dan manajer harus memahami bahwa dengan perekonomian saat ini, pekerja bisa mendapatkan uang yang jumlahnya bahkan lebih besar dari gaji bulanan mereka tanpa harus terikat dengan struktur perusahaan dan jam kerja yang ketat. Akibatnya, muncullah konsep quiet quitting, atau berhenti tanpa terlihat, di mana karyawan masih bekerja, namun sebenarnya mereka tidaklah bekerja secara optimal.

Para pekerja muda juga berkata pada diri sendiri bahwa mereka tidak perlu mendaki jenjang karir di perusahaan hanya untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidup. Namun, diperlukan banyak uang agar hidup layak di negara-negara besar, setidaknya untuk: memiliki rumah, memiliki dua mobil, dua kali liburan setahun, makan di luar dan kuliah. Jika anda tidak mau bekerja keras untuk sampai ke puncak, anda tidak akan mendapatkan sumber daya yang cukup untuk hidup layak.
Tips Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Quiet Quitting
Berikut adalah beberapa ide yang dapat membantu tim manajemen sumber daya manusia di perusahaan untuk meningkatkan kebahagiaan karyawan dan melindungi budaya kerja, sehingga tidak terganggu:
- Tidak ada email di hari Minggu. Kita menerima dan mengirim email hampir setiap hari di hari kerja. Buatlah komitmen untuk mematikan email di hari Minggu. Menerima dan mengirim pesan terkait pekerjaan di hari libur hanya akan memicu stress, lelah, dan penolakan. Jika tidak darurat, sebaiknya tunggulah hari Senin.
- Tidak ada lembur di akhir minggu. Sekali lagi, kecuali untuk kondisi darurat (yang jarang terjadi), jangan memberikan tugas kepada karyawan anda untuk bekerja di hari libur, kecuali jika memang jadwal rutinnya di hari libur (seperti Satpam).
- Kurangi jumlah rapat dan durasinya. Rapat-rapat mesti berkaitan dengan sesi pekerjaan dan strategi kerja – bukan untuk mengecek status pegawai. Manajer harus bertanya kepada diri sendiri mengapa mereka meminta rapat dan apakah rapat-rapat tersebut benar-benar produktif. Mulailah dengan premis bahwa rapat mestinya tidak lebih dari 30 menit.
- Apakah anda benar-benar butuh Slack (atau tool kolaborasi lainnya)? Tidak butuh penjelasan untuk ini.
- Batasi “aktivitas hiburan” di tempat kerja. Tentunya, kelas yoga atau happy hour terdengar bagus, namun faktanya, banyak pekerja yang lebih suka melakukan yoga dan happy hour sendiri dan dengan teman-teman atau keluarga sendiri. Mungkin sebaiknya beri saja mereka waktu kosong satu jam.
- Tetapkan tujuan berdasarkan milestone yang tercapai dan kualitas pekerjaan. Faktanya, anda hampir tidak mengetahui apakah karyawan bekerja full dalam seminggu ketika mereka bekerja dari rumah, namun apa masalahnya? Jika mereka tahu tugasnya masing-masing dan kapan harus selesai, maka mereka akan mengerjakannya. Bukankah itu sudah cukup?
- Tidak perlu latihan team building. Cukup jelas,
- Berikan penghargaan – gratis. Setiap orang ingin dihargai, dinilai, dan dihormati. Lingkungan kerja saat ini tidak menghendaki anda berkata “kerjakan atau berhenti!” kepada karyawan. Jadi, sebagai tim manajemen sumber daya manusia, pastikan anda tahu bagaimana menghargai karyawan dan pekerjaan mereka.
- Berikan gaji lebih tinggi – tidak gratis namun hasilnya sebanding. Kenaikan gaji dan bonus perlu dipertimbangkan secara rutin. Review tahunan sebelumnya dan kenaikan biaya hidup mesti dipertimbangkan. Tidak perlu menaikkan gaji mereka 100% setiap tahunnya, namun pekerja akan bertahan lebih lama jika mereka merasakan bahwa gaji yang diterima sebanding dengan tenaga dan waktu yang dihabiskan.
- Pecat para pelaku quiet quitting. Pada titik tertentu, jika anda menemukan seorang karyawan yang merasa tidak bahagia atau tidak bekerja sesuai semestinya, tidak ada salahnya mengambil sikap – terutama kepada mereka yang menyebarkan atmosfir negatif dan memicu ketidakrukunan di dalam kantor. Quiet quitting dapat mempengaruhi karyawan lain yang mungkin masih bersedia bekerja 110% dibanding gajinya untuk memajukan perusahaan.
Meskipun setiap pekerjaan memiliki keinginan dan hak untuk merasa lebih bahagia dengan pekerjaannya, mereka juga tidak berhak berbuat sesuatu atau menciptakan kondisi yang merugikan bagi perusahaan. Dampaknya akan semakin serius pada perusahaan-perusahaan yang masih relatif kecil. Kita tidak tahu seperti apa masa depan sistem kerja jarak jauh ini. Entah anda saat ini seorang manajer atau karyawan, kita semua berkembang seiring waktu. Kita menghadapi generasi pekerja yang memiliki pendapat dan konsep berbeda tentang imbal balik uang, ekuitas, inklusi, dan gaya hidup.
Namun faktanya, sistem kapitalis saat ini masih mengutamakan kerja keras dan tenaga. Tim manajemen sumber daya manusia harus cerdas mengidentifikasi terjadinya quiet quitting dan mengambil langkah cepat untuk meminimalisir dampak negatifnya kepada karyawan lainnya.
Tagged With : manajemen bisnis • manajemen SDM