Manajemen sumber daya manusia di sebuah perusahaan bukanlah perkara sepele. Seiring waktu dan perkembangan teknologi, tantangan untuk mempertahankan sumber daya yang berkualitas semakin tinggi. Baru-baru ini, sebuah fenomena baru yang kerap disuarakan di media sosial adalah konsep “quiet quitting,” di mana karyawan yang tidak puas atau sudah tidak tahan berada di perusahaan hanya menunggu gaji keluar setiap bulannya, dan tidak ingin bekerja lebih atau menghabiskan waktu lebih di perusahaan.
Alasan dari pendekatan ini adalah karena pekerjaan bukanlah hal terpenting dalam kehidupan manusia. Mereka tidak mau menghabiskan waktu ekstra tanpa kompensasi yang seimbang. Manusia harus memiliki kebebasan untuk mengejar mimpi lainnya di luar pekerjaan tersebut. Konsep ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Pertanyaannya adalah apakah versi yang berkembang di tahun ini berbeda dengan fenomena di masa lalu dan apakah para manajer dan pemilik usaha harus menggunakan pendekatan tertentu untuk menyikapinya.

Konsep “Quiet Quitting” dalam Manajemen Sumber Daya Manusia
Seperti diketahui, sejak tahun 2021, terjadi sebuah fenomena pengunduran diri secara besar-besaran setelah aturan untuk bekerja dari rumah ditarik kembali dan karyawan diharuskan untuk kembali ke kantor. Sehubungan dengan fenomena “quiet quitting” atau karyawan yang hanya bekerja sesuai gaji yang mereka terima:
Kebahagiaan di Tempat Kerja adalah Sebuah Konsep Baru
Sekitar 30 tahun yang lalu, konsep kebahagiaan di tempat kerja belumlah dikenal. Perusahaan berharap bahwa karyawan merasa senang dengan peluang kerja tersebut dan karyawan diharapkan dapat bekerja keras. Artinya, mereka harus datang cepat di pagi hari dan pulang lambat, untuk menunjukkan komitmen mereka terhadap perusahaan. Pekerja selalu menjadi orang yang terakhir pulang di sore hari. Dan tentunya, jangan berharap akan menerima uang lembur meskipun bekerja lembur. Itulah yang terjadi sekitar 30 tahun lalu.
Selain itu, ada sejumlah gaya manajemen masa lalu tidak akan diterima di lingkungan kerja saat ini. Misalnya, manajer bisa saja memecat seorang karyawan saat memasuki sebuah posisi baru, untuk menunjukkan siapa boss yang sesungguhnya. Selain itu, atasan bisa saja berteriak dan marah kepada karyawan jika dianggap tidak bekerja dengan baik, bahkan di depan rekan kerja yang lain. Jenis ‘kecintaan’ kepada perusahaan semacam ini membuat konsep quiet quitting tidak begitu menarik.
Satu lagi trik manajemen yaang terjadi di masa lalu adalah membiarkan pekerja saling menjatuhkan untuk bersaing mendapatkan promosi. Harapannya, anda cukup cerdas untuk menyadari persaingan tersebut dan siapa lawan anda yang sesungguhnya lawan anda, dan anda juga harus bertarung semampunya. Bahkan, karyawan boleh saja menerima tugas yang bukan merupakan tugas pokoknya, hanya untuk menunjukkan komitmen dan keinginan untuk dipromosikan. Pada akhirnya, anda tidak mendapatkan promosi karena mengalahkan teman. Anda justru menjadi seorang “dead man walking.”
Munculnya Teknologi Mobile Semakin Memicu Ketidakbahagiaan di Tempat Kerja
Di awal tahun 2000an, komunikasi secara mobile mulai populer. Berbagai perusahaan di seluruh dunia mulai menyatakan siap melayani konsumen 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, 365 hari dalam setahun (24/7/365). Konsumen juga berharap demikian, karena mereka tahu perusahaan memiliki fasilitas komunikasi mobile yang bisa digunakan setiap saat.
Skenario ini telah berkembang pesat hingga saat ini, apalagi didukung dengan teknologi yang semakin canggih, berbagai manajemen aplikasi proyek dan media sosial. Semua orang mengecek ponselnya nyaris tidak berhenti sepanjang hari. Jadi, wajar saja jika para manajer dan klien mengharapkan respon cepat, bukan? Pandemi Covid dan semakin populernya penggunaan Zoom (serta teknologi virtual meeting lainnya) juga berperan terhadap meningkatnya ekspektasi bahwa karyawan harus selalu online dan bisa dihubungi.
Sebuah Badai Yang Sempurna untuk Quiet Quitting
Terlihat jelas bahwa quiet quitting versi Tahun 2022 agak berbeda dari konsepnya di tahun 1990an. Penggunaan aplikasi pesan singkat Slack, pesan WA, post Instagram, LinkedIn, dan bahkan reel TikTok telah ‘memakan’ korban, terutama para pekerja muda. Di satu sisi, pekerja Gen Z sangat mendambakan Likes di Instagram. Di sisi lain, mereka sadar bahwa mereka tidak bisa keluar dari pekerjaannya dengan cara yang berarti.
Hal ini terjadi di masa sebelum Covid, namun trauma mental akibat lockdown di masa covid membawa masalah lain dalam manajemen sumber daya manusia. Bagi pekerja muda yang masih lajang, lockdown berarti kesepian dan isolasi yang semakin panjang. Akibatnya, muncul keinginan untuk berinteraksi dan hidup di luar pekerjaan, namun masih bisa dilakukan secara online. Bisa dibayangkan, jika seorang pekerja muda bisa saja mengatakan, “Hingga sekarang, saya selamat dari Covid dan tinggal sendiri di apartmen, dan melakukan panggilan Zoom dan video call sepanjang hari.”
Perbedaannya dengan konsep quiet quitting di masa lalu terlihat jelas. Bagi anda yang bekerja di departemen manajemen sumber daya manusia, dapatkan pembahasan tentang konsep quiet quitting secara lebih mendalam pada post berikutnya.
Tagged With : manajemen bisnis • manajemen SDM