Selama ini, kita selalu percaya bahwa seorang pemimpin akan mampu menggenggam perusahaan seutuhnya jika bisa menaikkan gaji karyawan tiga tahun berturut-turut, menaikkan tunjangan, atau mengirimkan surat empati kepada para karyawannya. Namun, benarkah demikian? Tidak ada yang menyangkal pentingnya pemimpin di sebuah perusahaan. Menurut Wall Street Journal baru-baru ini, peran para pemimpin semakin kiat saat ini.
Saat ini, dinamika hubungan boss dengan karyawan tidak lagi sama. Di masa lalu, para pemimpin membudayakan model kepemimpinan hirarkis selama berabad-abad. Kemudian, mereka kehilangan kendali, dan saat ini, kekuasaan di perusahaan sepertinya kembali lagi ke para pemimpin eksekutif. Dengan kata lain, para pemimpin cenderung mengutamakan kekuasaan dibanding kerjasama tim. Kondisi ini tentunya dianggap tidak lagi relevan dengan konsep kepemimpinan saat ini.

Faktanya, setiap orang butuh pemimpin, termasuk kita. Pemimpin menjadi sumber kekuatan dan panduan, dan sumber penerimaan. Bahkan, boss yang buruk sekalipun tetap menggerakkan, menguji, dan memberdayakan karyawannya (agar bisa meninggalkanperusahaan). Pemimpin tetaplah menjadi ‘suara pemandu’ dan kekuatan positif, termasuk di tengah-tengah angkatan kerja yang enggan menerima pemimpinnya.
Pentingnya Pemimpin Setiap Perusahaan: Apa Kata Riset?
Lalu, bagaimana cara mengurangi ketegangan antara karyawan dengan pemimpin? Caranya adalah dengan mengingat kembali kenapa kita membutuhkan bos dan pentingnya pemimpin bagi setiap orang. Di tahun 2012, tim peneliti Edward Lazear dan Kathryn Shaw mempublikasikan sebuah paper yang meneliti data produktivitas para pekerja jasa di bidang teknologi. Para peneliti menemukan bahwa rata-rata pemimpin menyumbang 1.75 kali lipat dari output yang dihasilkan karyawan secara rata-rata.
Mereka juga menemukan bahwa mengganti bos berkinerja rendah dengan bos berkinerja tinggi sama nilainya dengan menambahkan satu anggota ke tim yang berisi 9 orang. Intinya: Dampak keberadaan seorang boss sangat besar dan luas. Sekali lagi, boss (bos yang berkinerja baik) bisa mendorong terciptakan interaksi yang baik di tempat kerja. Alhasil, produktivitas dan retensi karyawan menjadi lebih baik. Selanjutnya, mereka menjalankan fungsi-fungsi kunci yang menguntungkan perusahaan maupun karyawan.
Dan memang, boss menuntut sesuatu dari karyawannya. Selama masa pandemi, lingkungan kerja umumnya berubah menjadi virtual karena tuntutan. Setelah pandemi berakhir, banyak perusahaan yang kembali mengharuskan karyawannya bekerja di kantor dan tidak sedikit yang memberlakukan status hybrid. Jika suatu posisi mengharuskan karyawan bekerja di kantor, maka tidak ada salahnya jika pemimpin mengharuskan karyawan kembali ke kantor, bukan?
Pentingnya Pemimpin: Peran Pemimpin Yang Berubah-Ubah
Manajemen top-down mulai masuk dalam konsep kepemimpinan selama era industrial. Para boss saat itu menjalankan fasilitas manufaktur untuk mencapai efisiensi maksimum, mengatur jadwal kerja, menetapkan ekspektasi dan target produktivitas perusahaan. Gaya kepemimpinan ini kemudian masuk ke industri lainnya, dan terus berkembang hingga ke beberapa dekade selanjutnya.
Manajemen bottom-up mulai memperlakukan manusia tidak jauh beda dengan mesin, salah satunya karena mesin menggantikan lebih banyak tenaga kerja. Gaya kepemimpinan ini menuntut anggotanya untuk menentukan tujuan dan ekspektasinya, dan menjadi mitra dalam proses kerja. Tentunya, setiap gaya kepemimpinan memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri. Jadi, mengingat pentingnya pemimpin dalam perusahaan, keduanya mesti dipertimbangkan.
Seperti dibahas sebelumnya, akuntabilitas sangat penting bagi kesuksesan perusahaan. Manajemen top-down membangun ruang untuk akuntabilitas. Dalam konteks tertentu, “siap” adalah jawaban paling tepat. Di satu sisi, jawaban ini tepat. Generasi baru karyawan membutuhkan boss yang sekaligus menjadi coaches alias pelatih. Banyak orang ingin bekerja dengan orang yang membutuhkan masukan dari mereka.
Saat ini, pemimpin mesti bersikap kooperatif dan fleksibel. Sebagian perusahaan menggunakan kesepakatan kinerja untuk mendorong performa terbaik dari karyawannya. Kesepakatan ini memuat target produktivitas, namun tetap menyisakan ruang untuk diskusi bagaimana cara memenuhinya setiap bulan. Kombinasi antara kepemimpinan bottom-up dan top-down mencerminkan pentingnya pemimpin maupun karyawan.
Pentingnya Pemimpin: Menjadi Pemimpin di Masa Depan
Para pemimpin tahu bahwa mereka harus beradaptasi. Tool digital menjalankan banyak tugas manajerial. Sementara itu, para pekerja bidang teknologi mendambakan gaya kepimpinan cara baru. Pemimpin menjanjikan untuk meningkatkan kinerjanya dari empati dan orisinilitas. Sementara itu, konsep halokrasi tidak mengenal bos.
Sebagian boss menginginkan karyawannya untuk kembali ke kantor (top-down). Sebagian lagi merespon dengan menciptakan fleksibilitas terkait di mana karyawan ingin bekerja (manajemen bottom-up). Namun di antararanya, ada sistem kerja hybrid yang juga diterapkan banyak perushaaan. Kantor lebih kondusif untuk bekerja sama dan belajar lebih tentang tim. Sementara itu, karyawan bisa mendapatkan teman dan bahkan saudara di tempat kerja.
Sekali lagi, pentingnya pemimpin adalah sebagai penggerak tim ke arah yang tepat, setidaknya mereka yang bersedia untuk bergerak. Karyawan masa kini menginginkan ‘suara’, yakni suara mereka didengar, sedangkan pemimpin saat ini ingin membangun suatu angkatan kerja yang memegang rasa memiliki. Dinamika seperti ini mestinya dipadukan, bukan dipisahkan. Untuk itu, cobalah motivasi terbentuknya tim kerja dan kolaborasi di seluruh lini perusahaan yang anda pimpin. Pastikan terciptanya komunikasi yang terbuka, jujur, dan transparan.
Tagged With : gaya kepemimpinan • manajemen bisnis