Nasib Usaha Kecil Dan Menengah di Tengah Pandemi Covid-19

Penghasilan para pemilik usaha kecil tahun demi tahun turun hingga 52%, sementara pengeluaran untuk gaji turun mencapai 54% pada kwartal kedua di tahun 2020. Inilah yang ditemukan dalam sebuah survey kesehatan usaha kecil baru dalam hal finansial, yang dilakukan Biz2Credit di Amerika Serikat. Studi tersebut menganalisis data dari 300 pemilik usaha kecil dan menengah yang menerima pendanaan melalui Paycheck Protection Program (PPP), sebuah inisiatif pinjaman untuk usaha kecil yang diberikan oleh pemerintah Amerika Serikat untuk membantu agar usaha kecil tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19.

Usaha Kecil Dan Menengah di Tengah Pandemi

Berikut adalah beberapa poin penting dari hasil survey tentang kesehatan finansial usaha kecil dan menengah tersebut adalah sebagai berikut:

usaha kecil dan menengah

  • Pendapatan rata-rata per triwulanan pada Kwartal II Tahun 2020 adalah $193.865, turun 52% dari periode yang sama di Tahun 2019.
  • Para pelaku usaha melaporkan penurunan biaya gaji rata-rata dari $137.126 pada Kwartal II Tahun 2019 menjadi $62.599 pada Kwartal II Tahun 2020.
  • Sebanyak 60% unit usaha yang disurvey pernah tutup di Tahun 2020 karena covid-19, dan perusahaan-perusahaan tersebut melaporkan penurunan pendapatan pendapatan hingga 87%, dibanding Tahun 2019. Saementara itu, perusahaan yang tidak pernah ditutup hanya mengalami penurunan pendapatan rata-rata sebesar 13%.
  • Rata-rata jumlah karyawan pada badan usaha yang disurvey turun dari 15 orang pada Kwartal II Tahun 2019 menjadi 8 orang pada Kwartal II Tahun 2020.
  • Hanya 20% unit usaha yang harus tutup karena ketentuan pemerintah mendapatkan opsi penundaan pembayaran dari perusahaan hipotek maupun pemilik properti.
  • Perusahaan perlu berinvestasi sekitar $29.230 untuk alat pelindung diri (APD) dan renovasi gedung agar sesuai dengan standar covid-19. Biaya tersebut setara dengan rata-rata penurunan hingga 15 point pada margin bruto perusahaan.
  • Industri restoran adalah salah satu sektor yang dihantam paling keras oleh Covid-19. Bagi restoran yang masih tetap buka, rata-rata pendapatan di Kwartal II dilaporkan turun 72%, meskipun besaran cek yang diterima sedikit meningkat. Selain itu, jumlah rata-rata pesanan online atau takeout, ternyata turun hingga 38%.
  • Perusahaan harus mengeluarkan uang rata-rata sebesar $52.106 untuk APD. Angka tersebut nyaris 78% lebih tinggi dari biaya APD akibat Covid-19 di industri lain.
  • Rata-rata biaya pemulihan (APD + renovasi) mencapai $21.553 untuk usaha kecil dan menengah.
Baca Juga:   Belanja Kebutuhan Sekolah Tahun ini: Apa Yang Dicari Orang Tua?

Hingga saat ini, belum ada upaya menghitung dampak dari virus corona di kalangan pengusaha yang mengajukan permohonan untuk tunjangan PPP. Namun, bisa dipastikan kalau angkanya sangat dramatis. Perjuangan usaha kecil dan menengah masih terus berlanjut. Hanya 1 dari 5 perusahaan yang mampu bernegosiasi untuk mendapatkan penundaan pembayaran atau diskon biaya sewa dengan pemilik real estate. Jadi, meskipun pendapatannya nihil pada beberapa kasus, perusahaan diharapkan untuk tetap membayar biaya sewa secara penuh.

Masalah keuangan dan Regulasi Bagi Usaha Kecil dan Menengah

Banyak pemilik usaha kecil dan menengah terperangkap di antara ‘batu dan tempat yang keras.’ Aliran uang yang masuk sangat kecil, namun banyak kewajiban yang harus dibayar. Semua orang menderita. Masalahnya, banyak pemilik real estate juga tidak berkantong tebak, sehingga pendapatan mereka juga bergantung kepada uang sewa.

Di industri restoran, banyak yang masih bertahan, hanya karena donasi dan konsumen. Sebagian mendapat dukungan dari komunitas lokal yang ingin membantu agar usaha-usaha kecil tetap bertahan, sambil memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada dokter, perawat, dan para pekerja di garis depan. Satu hal yang positif adalah bahwa di tengah pandemi ini, banyak donor dan pekerja sosial yang sukarela membantu usaha-usaha kecil untuk bertahan.

Sebenarnya, pemerintah meluncurkan program PPP untuk membantu usaha kecil dan menengah bertahan, mampu membayar gaji karyawannya setidaknya selama periode 8 minggu selama pandemi covid-19. Pinjaman tersebut masih bisa ditangguhkan selama mereka mampu membayar gaji karyawannya. Pinjaman tersebut bisa juga digunakan untuk membayar biaya overhead, seperti biaya sewa, air, listrik, dan lainnya.

Meski demikian, banyak pemilik usaha kecil merasa bahwa program ini belum cukup kuat untuk memastikan bahwa usaha kecil dan menengah tetap beroperasi. Permasalahannya, kondisi perekonomian sudah begitu parah, terutama di daerah-daerah dengan kasus positif covid-19 yang tinggi. Sekalipun operasi usaha tetap berjalan, tingkat penjualan juga turun sangat drastis, sehingga profitabilitas perusahaan turun secara dramatis.

Baca Juga:   Bulan Juli Bebas Plastik: Inisiatif Dunia Kurangi Limbah Plastik

Banyak pemilik usaha yang berharap adanya regulasi yang lebih pasti dari pemerintah. Sebagai contoh, pada tanggal 03 Agustus tahun ini, pimpinan dari 100 lebih perusahaan di Amerika Serikat, termasuk pimpinan Starbucks, Mastercard, dan Microsoft, mendesak Congress untuk melanjutkan pemberian pinjaman yang dijamin pemerintah hingga Tahun 2021, dan memberikan fleksibilitas terhadap penggunaan dana tersebut. Usaha kecil dan menengah memberikan kontribusi yang sangat penting bagi negara, jadi layak mendapat perhatian dan perlakuan khusus dari pemerintah.

Tagged With :

Leave a Comment