Setiap investor harus meneliti potensi kinerja suatu saham sebelum menanamkan dananya dalam saham tersebut. Banyak orang menganggapnya sebagai sebuah upaya yang sulit dan rumit. Padahal, sebenarnya potensi kinerja suatu saham dapat ditentukan dengan mudah, apabila kita sudah tahu aspek apa yang harus diperiksa.
Nah, di sini kita akan mengulas mengenai lima jenis saham berdasarkan potensi kinerjanya. Asalkan Anda dapat menemukan saham yang memenuhi salah satu kriteria ini saja, maka keuntungan dari investasi saham sudah di depan mata. Langkah selanjutnya, Anda cukup menelisik kembali aspek teknikal dari masing-masing saham untuk menentukan kapan momen yang tepat untuk membelinya.

1. Blue Chip
Jenis saham Blue Chip memiliki kriteria perusahaan bereputasi tinggi, unggulan dalam sektor industrinya, memiliki laporan keuangan yang bagus, dan rajin membayar dividen. Beberapa contoh saham Blue Chip antara lain Unilever Indonesia (UNVR), Telkom (TLKM), Gudang Garam (GGRM), Bank BCA (BBCA), dan lain sebagainya.
2. Income Stocks
Jenis saham ini unggul dalam hal pembayaran dividen. Meskipun perusahaannya belum tentu sangat terkenal, tetapi mereka teratur membagikan dividen dan seringkali mampu memberikan dividen dalam nominal lebih besar dibanding rata-rata dividen pada kurun waktu yang sama. Dalam tahun 2018 ini, beberapa contoh Income Stocks antara lain Astra Agro Lestari Tbk (AALI), Bank BNI (BBNI), Bank Mandiri (BBMRI), dan lain-lain.
3. Growth Stocks
Growth Stocks mencakup perusahaan-perusahaan yang potensi pertumbuhannya sendiri maupun potensi pertumbuhan sektor industrinya sedang tinggi, sehingga harganya diproyeksikan akan meningkat dalam jangka menengah-panjang. Growth Stocks dapat pula berasal dari perusahaan-perusahaan daerah yang seringkali dipandang sebelah mata oleh investor pada umumnya.
Harga saham jenis ini belum tentu rendah dan nama perusahaan belum tentu terkenal, tetapi laju pertumbuhannya diproyeksikan naik, sehingga harga saham diharapkan meningkat di masa depan. Penting pula untuk diperhatikan bahwa perusahaan-perusahaan ini amat mengutamakan pertumbuhan kinerja, sehingga mereka belum tentu membagikan dividen, karena laba ditahan untuk membiayai ekspansi.
4. Saham Spekulatif
Saham-saham spekulatif memiliki peluang untuk meningkat dalam waktu dekat karena adanya rumor tertentu atau kondisi teknikal yang mendukung, sehingga cocok untuk trading saham harian. Akan tetapi, nilai investasinya rendah karena kinerja perusahaan belum tentu bagus dan konsisten dari tahun ke tahun.
5. Saham Counter-Cyclical
Saham Counter-Cyclical amat jarang, tetapi sebenarnya memberikan fundamental paling bagus dibandingkan jenis saham lainnya. Kriterianya, saham-saham ini paling stabil ketika kondisi ekonomi bergejolak (atau krisis sekalipun), dan tetap kokoh meski sektor industrinya sedang terguncang. Salah satu contohnya adalah Bank BCA (BBCA) yang terbukti bertahan mengarungi beberapa kali krisis ekononomi di Indonesia.
Tagged With : investasi • saham