Andy Burnham baru saja dilantik menjadi perdana menteri Inggris pada hari Senin, 20 Juli 2026. Sayangnya, pelaku pasar menanggapinya dengan dingin.
Aksi jual atas obligasi pemerintah Inggris meningkat, sehingga yield melonjak. Sementara itu, bursa saham dan nilai tukar mata uangnya melempem. Sejoli GBP/USD sudah longsor lebih dari 0.5% sejak pelantikannya, demikian pula beberapa pasangan Poundsterling lainnya.

Ada beberapa faktor mendasari keraguan pasar terhadap PM Inggris Andy Burnham, sekaligus menekan prospek GBP/USD ke depan. Berikut ini penjelasan singkatnya.
Pertama, Burnham tiba-tiba mengatakan kepada wartawan bahwa ia “akan menggunakan semua fleksibilitas yang ada” di dalam aturan fiskal. Pernyataan tersebut kontras dengan janjinya sebelum dilantik untuk menaati disiplin fiskal.
Kedua, Burnham menunjuk John Healey sebagai Menteri Keuangan Inggris. Healey merupakan mantan menteri pertahanan dalam kabinet sebelumnya. Ia memang pernah bekerja di kementrian keuangan Inggris, tetapi sebagian besar pengalaman kerja terfokus pada bidang perumahan dan pertahanan.
Kedua faktor tersebut menjadi market mover, karena pelaku pasar sudah menaruh kekhawatiran yang sangat tinggi terhadap kesehatan fiskal Inggris. Tingkat utang Inggris saat ini sudah mencapai lebih dari 95% PDB-nya. Apabila PM Inggris yang baru menambah utang lagi, maka risiko investasi di negeri itu bakal semakin meningkat.
Nigel Green, CEO of deVere Group, menjelaskan kekhawatirannya dengan gamblang. Ia menganggap situasi saat ini merupakan waktunya bagi investor untuk siaga.
“Healey tidak menentukan arah pemerintahan ini. Burnham yang menentukannya, dan Burnham adalah Perdana Menteri yang menakuti pasar obligasi dalam waktu 24 jam setelah pelantikannya dengan menjanjikan ‘model ekonomi baru’ dan mengatakan kepada wartawan bahwa ia akan menggunakan ‘fleksibilitas apa pun’ yang dapat ia temukan dalam aturan fiskal.”
“Sebelum Burnham menolak pinjaman tambahan yang berkedok sebagai ‘fleksibilitas’, tidak ada Menteri Keuangan, betapapun berpengalaman atau dihormati, yang dapat melindungi negara ini ataupun portofolio investor, dari seorang Perdana Menteri yang naluri pertamanya saat baru menjabat adalah mencari ruang lebih besar untuk pengeluaran.”
Tagged With : analisa fundamental • Pair GBP/USD • poundsterling • trading forex