Pernahkah Anda mendengar istilah “Growth Stock”? Secara harfiah, Growth Stock dapat diterjemahkan sebagai “Saham Pertumbuhan”. Namun, kriteria “Growth Stock” sebenarnya lebih kompleks dan berkaitan dengan strategi Growth Investing yang sering dikontraskan dengan Value Investing. Apa maksudnya Growth Stock?
Growth Stock adalah saham-saham dalam perusahaan apa pun yang diperkirakan akan mengalami laju pertumbuhan lebih tinggi dibanding rata-rata pasar atau rata-rata sektoral. Saham-saham ini tidak suka memberikan dividen dalam jumlah besar, karena perusahaan memprioritaskan reinvestasi laba untuk mengembangkan bisnisnya.

Ketika seorang investor menanamkan dananya dalam Growth Stocks, mereka berharap untuk mendapatkan capital gain melimpah di kemudian hari. Growth Investor umumnya tidak mengincar dividen, karena yakin akan lebih untung dari capital gain.
Growth Stocks belum tentu memiliki valuasi yang murah. Rasio P/E-nya saat ini bisa jadi tinggi (overvalue). Namun, investor tetap memilihnya karena ekspektasi pertumbuhan yang jauh lebih tinggi lagi kelak.
Bagaimana investor tahu saham itu berprospek cemerlang? Pertama, perusahaan mampu menghasilkan laba yang terus bertumbuh. Kedua, Earning per Share (EPS) yang konsisten meningkat solid selama setidaknya lima tahun terakhir.
Beberapa karakter Growth Stock lainnya antara lain: perusahaan memiliki produk atau layanan yang unik dan inovatif, serta memiliki teknologi yang menjamin pertumbuhan jangka panjang. Perusahaan-perusahaan ini bisa jadi memiliki kapitalisasi besar (big cap) maupun kecil (small cap).
Beberapa contoh saham yang termasuk kategori Growth Stocks antara lain saham Amazon dan Facebook di bursa AS. Sedangkan Growth Stock di Bursa Efek Indonesia misalnya PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP), serta PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO).
Nah, apakah Anda tertarik berinvestasi pada Growth Stock? Satu hal yang perlu diingat, Growth Investor tidak boleh takut beli pada harga mahal. Strategi Value Investing memang mengutamakan pembelian pada saham-saham bervaluasi murah, tetapi strategi Growth Investing justru kebalikannya. Investor yang mengoleksi Growth Stock harus siap untuk “buy high and sell higher (beli mahal, dan jual lebih mahal lagi).”
Tagged With : investasi jangka panjang • investor saham • saham