3 Faktor Penyebab Depresiasi Kurs Yen Jepang Tahun 2026

Kurs yen Jepang menguat pada awal tahun 2026, tetapi kemudian merosot tajam setelah pecahnya perang AS-Iran. Pasangan mata uang USD/JPY bahkan mencetak rekor tertinggi empat puluh tahun di atas ambang 163.00 dalam perdagangan hari ini (22/Juli/2026).

Faktor Penyebab Depresiasi Kurs Yen Jepang Tahun 2026

Banyak faktor melandasi depresiasi nilai tukar mata uang Jepang ini, baik dari mancanegara maupun dalam negerinya sendiri. Berikut ini pembahasan singkatnya.

1. Ancaman krisis energi

Perang AS-Iran mengungkap kerapuhan rantai pasok energi global, khususnya berkaitan dengan negara-negara importir energi neto seperti Uni Eropa dan Jepang. Negara-negara tersebut bukan hanya terancam mengalami kelangkaan gegara blokade Selat Hormuz, melainkan juga menghadapi lonjakan inflasi dan hambatan bisnis yang cukup tajam.

Harga minyak mentah dan gas alam cenderung meningkat, sehingga importir mesti mengeluarkan dana lebih besar untuk membeli Dolar AS dan membayar tagihan energi mereka. Pada gilirannya, hal ini berdampak negatif terhadap kurs yen juga.

2. Tingkat suku bunga yang rendah

Beberapa bank sentral utama sigap mengisyaratkan kemungkinan untuk menaikkan suku bunga seiring dengan kenaikan inflasi dunia. Namun, bank sentral Jepang (BoJ) tetap santai.

Para petinggi bank sentral Jepang masih terus berdebat mengenai perlunya kenaikan suku bunga. Gubernurnya sendiri berulang kali menekankan pertumbuhan gaji sebagai referensi kebijakan utama alih-alih data inflasi nasional.

Tingkat suku bunga Jepang saat ini 1.0%. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dalam 31 tahun terakhir, tetapi masih jauh lebih rendah dibandingkan suku bunga Federal Reserve dan bank sentral utama lainnya. Akibatnya, para pelaku carry-trade gemar menjual yen Jepang untuk memperoleh modal membeli mata uang lain yang berbunga lebih tinggi.

3. Kebijakan fiskal Jepang yang menggelisahkan

Pelaku pasar telah lama mempertanyakan arah kebijakan ekonomi PM Sanae Takaichi. Kekhawatiran tersebut semakin menguat hingga mendorong depresiasi kurs Yen Jepang tahun 2026 ini.

Takaichi ingin menurunkan pajak konsumsi dari 8% menjadi 1% dalam dua tahun ke depan. Di saat yang sama, ia ingin meningkatkan belanja negara untuk mendorong perkembangan sektor AI, semikonduktor, dan keamanan nasional. Ia juga ingin meluncurkan paket stimulus jumbo untuk mengimbangi kenaikan tagihan utilitas dan BBM yang ditanggung masyarakat.

Kesenjangan antara perkiraan pemasukan dan pengeluaran pemerintah sedemikian besar, sehingga para ekonom memeringatkan akan risiko pembengkakan defisit negara. Apalagi, rasio utang terhadap GDP Jepang sekarang sudah lebih dari 200%.

Tagged With :

Leave a Comment