Berita Dolar AS yang Harus Kamu Tahu Jelang Nonfarm Payroll

Kurs Dolar AS melemah tajam sejak minggu lalu hingga pertengahan pekan ini. Indeks Dolar AS (DXY) terpuruk pada 99.60-an dalam perdagangan hari Rabu (5/8/2026), hanya berselang lima sesi lagi menjelang rilis data Nonfarm Payroll pada hari Jumat.

Berita Dolar AS yang Harus Kamu Tahu Jelang Nonfarm Payroll

Kemerosotan kurs Dolar AS berkaitan dengan lima berita utama yang menghiasi media massa belakangan ini, yaitu kerjasama intervensi forex oleh pemerintah AS-Jepang, peningkatan prospek perdamaian AS-Iran, penurunan prospek kenaikan suku bunga The Fed, serta data ekonomi AS yang buruk.

1. Intervensi Forex AS-Jepang

Pada awal pekan ini, otoritas Amerika Serikat dan Jepang mengakui telah melaksanakan intervensi mata uang untuk mendongkrak nilai tukar yen pada hari Kamis, 30 Juli 2026. Menteri keuangan AS dan Jepang juga seia sekata menyatakan kesiapan untuk turun tangan lagi jika diperlukan.

Intervensi terpadu mengakibatkan USD/JPY jatuh sampai 158.00. Setelah itu, konfirmasi otoritas memicu aksi jual lanjutan hingga USD/JPY menyentuh level terendah 155.22 pada hari Senin, 3 Agustus 2026.

2. Prospek damai AS-Iran

Para petinggi AS mengatakan hampir mencapai kesepakatan damai dengan Iran. Presiden AS Donald Trump bahkan mewacanakan tercapainya kesepakatan sekitar hari Rabu atau hari Kamis dalam minggu ini.

Teheran menampik adanya kemajuan dalam diskusi dengan AS, karena merasa hanya melaksanakan negosiasi dengan Oman tentang pembukaan Selat Hormuz. Kendati demikian, pelaku pasar cukup optimistis akan tercapainya perdamaian meskipun bersifat temporer.

Berita geopolitik ini berkontribusi menekan harga minyak mentah dunia, sekaligus mengerek bursa saham global. Di saat yang sama, minat beli pasar terhadap Dolar AS sebagai aset safe haven pun semakin memudar.

3. Prospek suku bunga The Fed

Dalam konferensi pers pasca-rapat FOMC minggu lalu, Ketua The Fed Kevin Warsh mengekspresikan keengganannya untuk menaikkan suku bunga meskipun tekanan inflasi meningkat. Hal ini mengakibatkan semakin banyak trader meragukan prospek kenaikan suku bunga The Fed tahun ini. Padahal, perubahan ekspektasi seperti itu berdampak bearish terhadap Dolar AS.

4. Rilis data ekonomi AS

Beberapa data ekonomi AS terbaru menorehkan rapor merah. ADP melaporkan jumlah tenaga kerja dalam payroll menyusut dari 95,000 menjadi 44,000 saja pada bulan Juli 2026, padahal konsensus mengantisipasi 68,000.

ISM melaporkan hasil survei manajer pembelian sektor jasa hanya naik sedikit dari 54.0 menjadi 54.1 pada bulan Juli 2026, padahal konsensus mengharapkan perbaikan sampai 54.5. Subindeks ketenagakerjaan dalam laporan ISM bahkan merosot dari 51.2 menjadi 47.4.

Data ADP dan ISM biasanya dianggap sebagai indikator awal bagi Nonfarm Payroll yang berdampak besar bagi pasar keuangan global. Ketika kedua data sama-sama melempem, ekspektasi pasar untuk Nonfarm Payroll pun melemah. Akibatnya, kurs Dolar AS tertekan.

Di sisi lain, beberapa pakar mengingatkan bahwa ekspektasi pelemahan Nonfarm Payroll ini akan menumpulkan dampak rilis data aktual pada hari Jumat. Sekalipun data yang akan datang benar-benar buruk, kurs Dolar AS kemungkinan tak banyak bereaksi karena pasar sudah memperhitungkannya sejak jauh-jauh hari.

Pakar strategi TD Securities mencatat, “Perkiraan dasar kami adalah indeks dolar DXY akan tetap berada di atas simple Moving Average (SMA) 200-hari di kisaran level 99 dalam skenario (data Nonfarm Payroll yang lemah) ini.”

Tagged With :

Leave a Comment