Selat Hormuz tiba-tiba menjadi pusat perhatian dunia tahun ini. Blokade Iran atas perairan ini telah memicu kenaikan harga minyak mentah, gas alam, dan beragam produk turunan bahan bakar fosil.
Tidak tanggung-tanggung, peningkatan harga minyak mentah dan gas alam yang disebabkan oleh blokade Selat Hormuz mencapai 40%-50% dalam tempo kurang dari satu bulan. Grafik tidak menunjukkan kenaikan lurus ke atas, melainkan peningkatan terjal yang diwarnai oleh beberapa kali pullback sejenak. Volatilitas harga sangat tinggi, karena pelaku pasar mudah terpengaruh oleh berita-berita baru seputar isu ini.

Pertanyaannya, mengapa Selat Hormuz sangat berpengaruh bagi perekonomian dunia? Terdapat sedikitnya tujuh (7) alasan utama berikut ini:
- Jalur Selat Hormuz yang dapat dilayari untuk trafik keluar maupun masuk kanal hanya sekitar 2 mil (3,7 km). Oleh karena itu, sukar sekali bagi kapal tanker minyak ataupun kapal komersial berukuran besar untuk lolos dari blokade tanpa persetujuan Iran.
- Sekitar 20 juta barel minyak mentah melintasi Selat Hormuz, berdasarkan data awal tahun 2026, terutama menuju benua Asia dan Australia. Angka ini mencakup sekitar 20%-25% dari perdagangan minyak mentah via laut sedunia, hanya kalah sedikit dibandingkan arus minyak yang melewati Selat Malaka.
- Sekitar 20% arus LNG dunia melewati Selat Hormuz, terutama dari Qatar menuju China, India, Jepang, dan Korea Selatan yang notabene merupakan pusat-pusat perekonomian di benua Asia.
- Sekitar 30% pengiriman pupuk dunia melewati Selat Hormuz, terutama menuju negara-negara berkembang yang berekonomi lemah tapi juga berperan sebagai lumbung pangan dunia. Hambatan pengiriman melalui rute ini terancam mengakibatkan kelangkaan sekaligus meningkatkan harga pupuk, kemudian berdampak pula terhadap inflasi harga makanan di berbagai negara.
- Sekitar 11% dari seluruh distribusi barang global melewati Selat Hormuz. Meskipun dapat dialihkan melalui rute lain, tetapi perubahan tersebut meningkatkan biaya pengiriman melalui kapal. Kurang dari dua pekan setelah blokade, UBS melaporkan biaya pengiriman kontainer meningkat dua digit week-to-week.
- Sebagian besar ekspor minyak mentah dari Arab Saudi, Irak, UEA, Kuwait, dan negara Teluk lainnya harus melintasi Selat Hormuz. Meskipun Arab Saudi dan UEA memiliki jalur pipa yang memungkinkan distribusi tanpa melewati perairan tersebut, kapasitasnya hanya sekitar 3.5-5.5 juta barel per hari.
- Sebagian besar impor makanan ke kawasan Teluk dibawa melalui Selat Hormuz (Arab Saudi >80%, UEA ~90%, dan Qatar nyaris 100%). Akibatnya, blokade mengancam ketahanan pangan kawasan ini.
Fakta-fakta ini mengisyaratkan bahwa dampak blokade Selat Hormuz bukan hanya menaikkan harga minyak mentah dan gas alam, melainkan juga dapat mengakibatkan kenaikan inflasi dan krisis ekonomi global. Apalagi, aktivitas ekspor-impor di berbagai negara kemungkinan bakal terpukul.
Tagged With : analisa fundamental • krisis ekonomi • minyak