Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (21/9) diperkirakan masih diwarnai volatilitas yang cukup tinggi. Meskipun berada dalam fase pemulihan jangka panjang, tekanan jual yang terjadi belakangan ini menuntut para investor dan pelaku pasar untuk tetap bersikap waspada.
-
Proyeksi Pergerakan dan Dinamika IHSG
-
Pergerakan IHSG diperkirakan masih sangat volatil dengan potensi menguji kembali area support di rentang 6.371–6.290 apabila tekanan jual berlanjut.
-
Pada perdagangan Jumat (18/9) sebelumnya, IHSG tercatat terkoreksi sebesar 0,33% ke posisi level 6.441 yang diiringi oleh kemunculan aksi jual dari pelaku pasar.
-
Secara keseluruhan dalam kurun waktu sepekan, IHSG melemah sebesar 1,53% di mana aksi jual masih mendominasi pergerakan indeks meskipun volume perdagangan mulai mengecil.
-
Peluang terjadinya technical rebound tetap terbuka lebar selama IHSG mampu bertahan di atas area support penting pada level 6.370.
-
Ruang penguatan IHSG dalam jangka pendek diperkirakan masih cenderung terbatas akibat kombinasi sentimen eksternal dan domestik.
-
-
Analisis Teknikal Pasar
-
Menurut analisis teknikal Mirae Asset Sekuritas, pergerakan IHSG saat ini sedang berada dalam fase recovery sejak terbentuknya pola wave [iv], sehingga struktur bullish secara mendasar sebenarnya masih berlaku.
-
Indikator Moving Average (MA20 dan MA60) menunjukkan sinyal konfirmasi positive crossover yang turut didukung oleh peningkatan volume transaksi.
-
Indikator Stochastics K_D serta RSI masih memancarkan sinyal negatif, mengindikasikan adanya tekanan jangka pendek yang belum sepenuhnya mereda.
-
MNC Sekuritas menilai IHSG berada pada bagian wave iv dari wave (c), dengan skenario terburuk pengujian area 6.290–6.370 jika terjadi pelemahan lanjutan.
-
Jika bertahan di atas rentang support, potensi kenaikan IHSG mengarah pada rentang target 6.541–6.581.
-
Level support indeks ditetapkan pada rentang 6.371–6.290 (versi Mirae Asset) serta 6.279 dan 6.201 (versi MNC Sekuritas).
-
Level resistance indeks berada di kisaran 6.566–6.636 (versi Mirae Asset) serta 6.585 dan 6.633 (versi MNC Sekuritas).
-
-
Sentimen Sentral dan Makroekonomi Eksternal
-
Kebijakan moneter global menjadi fokus utama pasar setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke rentang 3,75%–4,00%.
-
Sebanyak 16 dari 18 pejabat The Fed memproyeksikan masih ada potensi setidaknya satu kali kenaikan suku bunga lagi pada tahun 2026.
-
Pergerakan imbal hasil (yield) US Treasury serta pergerakan nilai tukar dolar AS menjadi indikator kunci yang memengaruhi arah dana global.
-
Harga minyak mentah dunia yang berada di atas level USD 100 per barel berpotensi memicu lonjakan inflasi global dan membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter.
-
-
Sentimen Domestik dan Faktor Pasar Lainnya
-
Pelaku pasar mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22–23 September, terutama terkait strategi merespons tekanan nilai tukar rupiah dan kondisi likuiditas global.
-
Dinamika arus dana asing (foreign flow), pergerakan mata uang rupiah, serta perkembangan isu geopolitik menjadi variabel penting yang terus dipantau.
-
Agenda rebalancing indeks FTSE serta implementasi kembali mekanisme transaksi short selling diprediksi akan meningkatkan fluktuasi harga pada saham-saham tertentu.
-
-
Rekomendasi Saham Pilihan Analis
-
Mirae Asset Sekuritas: Merekomendasikan untuk mencermati saham BREN, CPIN, dan MTEL pada perdagangan Senin (21/9).
-
MNC Sekuritas – BBCA: Rekomendasi Trading Buy pada area 6.100–6.275 dengan target harga di level 6.475 dan 6.575.
-
MNC Sekuritas – BULL: Rekomendasi Buy on Weakness pada kisaran 370–388 dengan target harga di level 412 dan 440.
-
MNC Sekuritas – KLBF: Rekomendasi pembelian pada rentang area 710–735 dengan target harga di level 785 dan 810.
-
MNC Sekuritas – TLKM: Rekomendasi pembelian pada rentang area 2.440–2.520 dengan target harga di level 2.620 dan 2.720.
-