Banyak calon investor tergiur untuk membeli saham yang baru memasuki tahap Initial Public Offering (IPO) dan belum diperdagangkan bebas di bursa efek. Ada anggapan kalau beli saham IPO itu tentunya lebih murah daripada membeli saham di pasar sekunder (setelah IPO selesai). Padahal, sebenarnya ada beberapa risiko membeli saham IPO yang harus diwaspadai oleh investor pemula maupun berpengalaman.

Setiap saham IPO bisa sukses maupun tidak. Masalahnya, saham yang sukses IPO pun belum tentu menjamin keuntungan bagi investor. Mengapa demikian? Perhatikan empat (4) risiko membeli saham IPO berikut ini:
- Calon investor belum dapat menganalisis saham IPO secara teknikal, karena belum ada grafik harga historisnya.
- Calon investor akan menghadapi keterbatasan data kinerja dan keuangan perusahaan yang dapat dianalisis secara fundamental, karena calon emiten biasanya hanya menyertakan rangkuman data beberapa tahun terakhir saja dalam prospektus.
- Calon emiten belum tentu mampu menghadapi tambahan tanggung jawab yang muncul sesuai status barunya sebagai perusahaan publik. Ada kemungkinan kinerja perusahaan memburuk setelah IPO, meski prospektusnya bagus.
- Sebagian IPO terindikasi menjadi ajang manipulasi para bandar. Manipulasi bisa jadi dilakukan dengan menampilkan citra seolah-olah saham sudah laris manis (oversubscribe), maupun dengan menggoreng saham perusahaan langsung setelah IPO.
Gara-gara beberapa risiko tersebut, harga saham bisa jadi jatuh drastis dalam kurun waktu beberapa bulan setelah IPO. Orang-orang yang membeli saham IPO dengan target untung jangka pendek bisa jadi mampu meraup cuan dalam periode awal, tetapi investor yang berorientasi jangka panjang justru buntung.
Untuk mencegah timbulnya kerugian yang tidak diinginkan, perhatikan beberapa hal ini:
- Hindarilah saham IPO untuk investasi jangka panjang. Saham-saham yang cocok untuk investasi long-term adalah saham-saham blue chip atau saham-saham pemberi dividen tinggi yang perusahaannya sudah mapan.
- Jangan gunakan semua modal investasi untuk membeli saham IPO. Sebaiknya sisihkan maksimal 20% dari anggaran investasi untuk alokasi ini.
- Sebelum booking saham IPO, simaklah prospektus dengan cermat untuk memahami bidang bisnis perusahaan. Kenali siapa saja owner dan pengendali manajemennya. Ketahui juga pangsa pasar, prospek produk, dan reputasi layanannya.
- Bandingkan strategi bisnis perusahaan dengan rival terdekatnya yang sudah lebih dulu terdaftar di bursa efek Indonesia.
- Lakukan investigasi di kalangan investor untuk mengetahui reputasi sekuritas yang berperan sebagai penjamin emisi dalam proses IPO.
Demikianlah beberapa tips agar Anda bersikap lebih hati-hati saat memilih saham IPO. Ibaratnya berbelanja online, tinjau dulu reputasi seller-nya sebelum membeli agar tidak tertipu produk bodong. Semoga sukses!
Tagged With : investasi jangka panjang • investor saham • saham • saham ipo