Setiap aktivitas investasi pasti memiliki potensi untung dan risiko rugi yang kurang lebih seimbang. Risiko kerugian itu akan lebih mencolok bagi pemula yang masih kurang pengalaman dan sering melakukan kesalahan. Oleh karena itu, investor umumnya akan mulai memetik keuntungan manis secara konsisten setelah menimba pengalaman jatuh-bangun yang cukup banyak. Tapi bagaimana jika investasi saham rugi terus meski sudah cukup lama berkecimpung di dalamnya?

Ada banyak alasan mengapa investor saham bisa mengalami kerugian terus-menerus, baik pemula maupun mereka yang sudah lebih berpengalaman. Berikut ini sepuluh (10) situasi yang paling umum terjadi:
- Investor membeli saham yang murah, tapi tak berkualitas. Saham-saham seperti ini biasanya memiliki kapitalisasi pasar yang kecil (di bawah Rp1 triliun) dan kondisi fundamental yang buruk, misalnya memiliki beban utang besar atau manajemennya terlibat skandal. Inilah alasan mengapa kita harus selalu meneliti latar belakang dan kondisi bisnis perusahaan sebelum membeli sahamnya.
- Investor sudah memilih saham berfundamental baik, tetapi luput memperhatikan faktor teknikal, kebijakan pemerintah, dan sentimen makro. Misalnya saham-saham rokok yang kelihatannya sangat kinclong, tetapi perkembangannya terhambat oleh kebijakan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok tiap tahun.
- Investor membeli saham gorengan, yaitu saham-saham murah yang mendadak melonjak semata-mata karena rumor atau tanpa dasar fundamental yang jelas. Sebaiknya selalu menyelidiki latar belakang kenaikan harga suatu saham yang sedang naik daun, sebelum ikut-ikutan membelinya.
- Investor sudah membeli saham unggulan (blue chip), tetapi tidak terdiversifikasi. Investasi tak terdiversifikasi misalnya menanamkan modal pada satu saham saja, atau pada beberapa saham pada sektor yang sama. Hal ini berisiko tinggi, karena portofolio saham akan mudah berubah negatif ketika satu bidang ini goyah. Investor sebaiknya membina portofolio terdiversifikasi yang terdiri atas 4-6 saham dari 2-3 sektor berbeda.
- Investor membeli saham berfundamental baik, tetapi pada tingkat harga yang terlalu mahal. Kriteria “mahal” atau “murah” di sini dapat ditinjau berdasarkan PBV dan PER dari perspektif fundamental, maupun berdasarkan analisis teknikal.
- Investor membeli saham karena bisikan orang lain, baik influencer saham, pakar, ataupun mereka yang mengaku “orang dalam”. Padahal, setiap investor sebaiknya melakukan studi sendiri atas aset investasi apa pun yang masuk dalam portofolionya.
- Investor mulai berinvestasi tanpa memiliki dana darurat yang memadai. Dana darurat merupakan tabungan persiapan untuk menghadapi situasi tak terduga seperti bencana alam, kecelakaan, PHK, dan lain sebagainya. Apabila seseorang berinvestasi tanpa memiliki dana darurat, sewaktu-waktu ia akan terpaksa jual rugi gara-gara butuh uang (B.U.) untuk memenuhi kebutuhan daruratnya.
- Investor sudah memilih saham dengan hati-hati, tetapi tidak memiliki rencana investasi yang jelas dan disiplin. Ketika membeli suatu saham, investor tidak tahu kapan kelak ia akan ambil untung (take profit) maupun jual rugi (cut loss). Akibatnya, ia mungkin akan ambil untung terlalu cepat (kehilangan peluang untung lebih besar) atau justru terlambat ambil untung (harga saham sudah berbalik turun).
- Investor mudah terpengaruh oleh emosi yang muncul saat menyaksikan fluktuasi harga saham di bursa. Contohnya ketika mendapat kabar bahwa suatu saham dibuang bandar hingga harganya menurun, ia langsung ikut-ikutan jual saham tersebut karena takut rugi. Padahal dinamika naik-turun harga saham itu merupakan rutinitas pasar biasa, dan harga saham keesokan harinya naik lagi.
- Investor merasa serakah dan tak mau ketinggalan ketika harga suatu saham meningkat (FOMO/Fear of Missing Out). Umpamanya ketika baru saja untung 200% dari suatu saham, ia rakus ingin untung lagi dari saham itu dan memutuskan untuk membelinya lagi meski harga sudah naik. Akhirnya saham terbeli lagi pada tingkat harga yang terlalu mahal, pergerakan harganya mulai jatuh, dan ia gagal untung. Sebaiknya investor berusaha untuk tetap objektif dengan memeriksa teknikal dan fundamental saham secara rutin.
Kesepuluh situasi yang mengakibatkan investor saham rugi di atas sebenarnya dapat diatasi dengan mudah. Hanya saja, kita seringkali baru menyadarinya setelah kerugian itu timbul. Apabila hal itu terjadi, jangan menyesal berlarut-larut. Cukup catat saja kekeliruan apa yang telah dilakukan, kemudian kembali mencapi peluang investasi saham lainnya. Jadikanlah kekeliruan itu sebagai pelajaran berharga, bukannya sebagai penyesalan yang membebani kita.
Tagged With : analisa fundamental • analisa teknikal • investor saham • saham