3 Mitos Seputar Pekerjaan Yang Dilupakan Agar Hidup Lebih Bermakna

Selalu ada kebenaran di balik candaan. Ada pepatah yang relevan dengan bagaimana kita menjalin hubungan personal di tempat kerja. “Setiap orang bekerja untuk akhir minggunya.” Atau “Selalu ada tempat di mana sekarang jam 5.” Jujur atau tidak, pepatah-pepatah yang sudah lazim kita dengar di tempat kerja ini menggambarkan suatu kondisi yang sama: bekerja itu tidak menyenangkan. Banyak orang yang bertahan hidup dengan pekerjaan yang biasa-biasa saja, atau bertahan di lingkungan kerja yang toksik. Ada beberapa mitos seputar pekerjaan yang sudah seharusnya kita tinggalkan dan kita lupakan.

Bagaimana kita bekerja saat ini tidaklah sama dengan bagaimana manusia bekerja di masa lalu. Dahulu, masyarakat bekerja di tengah masyarakat agraria, di mana masyarakatnya dekat dengan alam dan mengenal dekat satu sama lain, sekarang kita bekerja di ruang-ruang digital, di mana manusia tidak selalu terhubung dengan pekerjaannya maupun dengan orang-orang yang ikut serta di dalamnya. Di satu sisi, kita tidak bisa mengingkari adanya maanfaat dari progress yang kita nikmati saat ini. Namun di sisi lain, bukan suatu rahasia bahwa sebagian dari perubahan tersebut justru membuat kita meraba-raba tentang apa makna dari hidup kita sehari-hari.

mitos seputar pekerjaan

Mitos Seputar Pekerjaan Yang Mesti Ditinggalkan

Faktanya, ada sejumlah mitos seputar pekerjaan yang sebenarnya justru merusak kemampuan kita untuk menciptakan suatu kehidupan yang lebih holistik dan memuaskan. Di antaranya adalah:

Mitos 1: Bekerja Itu Buruk, dan Kehidupan Itu Baik

Bekerja itu sulit. Terlalu banyak pekerjaan membuat kita lelah, dan bisa mengganggu kesehatan mental. Kita butuh waktu istirahat dari pekerjaan, karena bekerja menyita energi. Jadi, kita dengan mudahnya menyimpulkan bahwa bekerja itu lebih banyak negatifnya. Mudah saja kita percaya bahwa pekerjaan mencuri berbagai kebaikan dari sisa hidup kita setelah kita mengalami rasa tidak puas atau tidak dihargai.  Namun, bukankah impian untuk bekerja keras, menabung untuk masa depan, dan berlibur ke tempat-tempat indah justru dipenuhi oleh hal-hal yang paling anda cintai?

Menurut pandangan ini, pekerjaan direduksi menjadi sesuatu yang tidak lebih dari sebuah transaksi yang harus diselesaikan secepat dan semudah mungkin, agar kita kembali ke kehidupan pribadi. Pekerjaan dipandang sebagai pertukaran antara waktu dengan gaji. Namun, selama perjalanan sejarah manusia, pekerjaan tidaklah semata-mata dilihat karena ada manfaatnya.

Di banyak budaya, pekerjaan dipandang sebagai suatu cara untuk mengungkapkan kreativitas seseorang dan berkontribusi terhadap masyarakat. Aktivitas pekerjaan kerap bersifat komunal dan menyatukan banyak orang, sehingga dapat mempererat ikatan kemasyarakatan. Pekerjaan adalah suatu fakta tentang eksistensi manusia yang tidak bisa dihindari. Tujuan dari kehidupan yang baik adalah agar manusia berkembang dengan baik. Jika itu adalah tujuan kita, maka pekerjaan mestinya dipandang sebagai batu loncatan untuk mencapai visi itu.

Mitos No 2: Keseimbangan Ada Suatu Tujuan Yang Bisa Dicapai

Pada generasi sebelumnya, garis antara pekerjaan dan rumah biasanya cukup jelas. Ketika orang tua kita bekerja, mereka nyaris tidak bisa dihubungi, dan ketika mereka di rumah, mereka tidak pernah berbicara tentang pekerjaan. Belakangan, setelah teknologi komunikasi dan informasi berkembang, terkadang orang tua kita masih bisa dihubungi saat bekerja, namun garis antara pekerjaan dan keluarga masih sangat jelas.

Kita cenderung percaya bahwa kemampuan untuk menciptakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi adalah sebuah pencapaian personal, Faktanya, paradigma ini salah. Ini hanya sebuah mitos seputar pekerjaan.  Saat ini, kehidupan pribadi mengalir bersama anda ketika anda bekerja, dan pekerjaan ikut serta dengan anda ketika anda di rumah. Apalagi setelah munculnya sistem kerja jarak jauh. Garis pemisah antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi semakin samar. Ketika anda bekerja, tidak mustahil anda menerima panggilan telepon dari rumah terkait anak-anak, hewan peliharaan, dan sebagainya. Nyaris tidak ada garis pemisah antara pekerjaan dengan kehidupan peribadi: yang ada hanya kehidupan.

Daripada mengidolakan suatu yang mustahil tentang keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi, bukankah lebih baik kita menetapkan suatu tujuan yang lebih baik: yakni integrasi pekerjaan dan kehidupan pribadi? Daripada mencoba memilah-milah jam kerja dan hari-hari kita untuk memastikan segala sesuatunya sesuai rencana, maka lebih baik kita mencoba mencari cara agar segala sesuatu itu saaling melengkapi, bukan?

Mitos 3: Pekerjaan Tidak Berhubungan Dengan Upaya Mencari Kepuasan

Mitos seputar pekerjaan berikutnya adalah pekerjaan dipandang hanya sebagai suatu cara untuk mencari nafkah. Faktanya, banyak orang yang melakukan segala sesuatunya karena suka, sekalipun mereka tidak mendapatkan reward berupa uang. Kebahagiaan mereka datang dari relaksasi atau bebas dari stress. Anda mungkin merasakan hal semacam ini ketika menikmati musik, olah raga, atau hobby lainnya. Bahkan aktivitas yang membosankan sekalipun bisa menjadi sesuatu yang diwarnai makna dan tujuan jika kita mendekatinya dengan pola pikir yang benar.

Jadi, pekerjaan adalah suatu hal yang mestinya menjadi bagian dari kehidupan manusia, tidak bisa dipisahkan dari kehidupan personal. Beberapa mitos seputar pekerjaan di atas cenderung merusak dan menurunkan semangat kerja kita. Jadi alangkah baiknya jika kita menggunakan pola pikir yang positif untuk menghadapinya, sehingga segala sesuatunya mengalir dengan baik, layaknya kehidupan.

Tagged With :

Leave a Comment