Virus, Pasar Obligasi, dan Penurunan Suku Bunga oleh the Fed

Salah satu keputusan Federal Reserve (The Fed) yang mengguncang pasar baru-baru ini adalah pengurangan tarif bunga federal hingga setengah point. Akibatnya, pasar obligasi juga diperkirakan akan mengalami penurunan suku bunga. Penurunan suku bunga oleh The Fed terjadi beberapa minggu lebih cepat dibanding jadwal yang seharusnya, yakni sekitar 17-18 Marey 2020. Keputusan ini diambil untuk mengimbangi ketidakpastian pasar akibat serangan virus corona yang ikut menghantam perekonomian dunia dan menyerang pasar saham hampir di seluruh dunia.

Penurunan Suku Bunga, Untuk Menyelamatkan Perekonomian?

The Fed menurunkan suku bunga untuk mengurangi beban pinjaman dan untuk merangsang aktivitas perekonomian. Saat ini, perekonomian dunia sedang mengalami masa-masa sulit, ketika virus corona mengancam untuk menurunkan pertumbuhan ekonomi. Harapannya adalah agar konsumen dan perusahaan bereaksi terhadap penurunan bunga dengan cara berbelanja dan berinvestasi lebih banyak.

Penurunan suku bunga

Peningkatan aktivitas transaksi diharapkan dapat mencegah perlambatan ekonomi seperti yang terjadi di China, setelah terjadi karantina besar-besar terhadap penduduk untuk menghambat penyebaran virus sejak kemunculannya di akhir Tahun 2019. Awalnya, keputsuan the Fed tentunya membuat pasar saham AS tidak nyaman. Seperti dilaporkan, S7&P 500 langsung drop 2.8% pada hari diumumkannya penurunan suku bunga tersebut.

Belum diketahui apakah stimulus moneter dan diskal tambahan dapat menekan perlambatan perekonomian dan memulihkan pasar saham. Namun, perlu diingat bahwa selama periode 12 bulan terakhir, penurunan suku bunga selalu memberi angin positif bagi saham, ketika siklus bisnis masih di tahap awal, bukan di tahap akhir, seperti yang terjadi di kwartal keempat Tahun 2018.

Logikanya, lebih baik mengalami kerugian jangka pendek. Anda bisa memastikan kalau paduan investasi jangka panjang, yang terdiri dari saham, obligasi, maupun uang tunai, sejalan dengan tujuan dan tingkat toleransi resiko.

Baca Juga:   Buy Now Pay Later: Pembayaran Masa Kini dan Masa Depan

Dampak Penurunan Suku Bunga Terhadap Obligasi

Meski kecemasan terhadap virus telah memicu terjadinya penurunan harga saham secara tajam sejak S&P 500 mencatat rekor yang tinggi pada bulan Februari, dampaknya terhadap obligasi sejauh ini cukup bervariasi. US Treasury melaporkan kenaikan harga karena para investor mencari instrumen investasi pelindung dalam bentuk obligasi berkualitas tinggi. Treasury menarik uang dari seluruh dunia, karena para investor mencari perlindungan dalam bentuk obligasi pemerintah yang berkualitas tinggi. Ya saat ini, obligasi pemerintah masih menunjukkan hasil tertinggi.

Dengan kata lain, portofolio obligasi yang memadukan antara obligasi pemerintah dengan obligasi perusahaan berkualitas tinggi tetap berperan sebagai penyeimbang saat volatilitas pasar saham sangat tinggi. Obligasi semacam ini menjadi polihan bagi investor yang ingin melakukan diversifikasi portofolio. Di masa lalu, ketika harga saham jatuh, maka harganya tinggi. Dengan demikian, kerugian akibat saham bisa diimbangi dengan keuntungan dari obligasi.

Namun, sepertinya hubungan antara saham dengan obligasi yang semacam ini menunjukkan tanda-tanda perubahan selama Tahun 2019. Pada saat itu, saham dan obligasi pemerintah semuanya mengalami kenaikan nilai. Di awal tahun 2020 ini, saham berkualitas tinggi kembali menjadi ‘pemberat’ bagi portofolio investasi. Permintaan dan penawaran untuk obligasi korporat juga menunjukkan persilangan. Perusahaan memperlambat pengeluaran obligasi baru karena terjadi penurunan permintaan akibat kondisi pasar. Hal ini menunjukkan bahwa semua orang memilih menunggu untuk melihat apa yang terjadi.

Tidak Semua Obligasi Sama

Jika penurunan suku bunga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi, maka kebijakan ini pada akhirnya dapat mendorong kenaikan obligasi yang nilainya lebih rendah. Bagi perusahaan yang kinerjanya lebih rendah, penurunan aktivitas ekonomi bisa mempersulit mereka untuk mempertahankan likuiditas dengan baik. Para pemegang obligasi khawatir jika perusahaan di mana mereka berinvestasi tidak akan mampu membayar dividen atau memenuhi kewajiban finansial, seperti membayar pemasok atau membayar bunga kepada pemegang obligasi. Namun, jika stimulus tersebut mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, maka obligasi bernilai tinggi juga akan mendapat keuntungan.

Baca Juga:   Diversifikasi Investasi “Pelindung Portofolio di Kala Susah?”

Penurunan suku bunga di Amerika Serikat juga dapat membantu obligasi dari negara-negara berkembang yang sedang mengalami dampak infeksi virus corona. Kesehatan perekonomian mereka sangat erat kaitannya dengan tingkat perekonomian di China, di mana proses karantina masih berlangsung secara luas.

Pertanyaannya: “Akankah terjadi penurunan suku bunga kembali?” Hal terbesar yang belum diketahui adalah apakah kebijakan The Fed untuk menurunkan suku bunga masih akan terjadi atau tidak. Selama beberapa minggu terakhir, the Fed sudah melakukan 2 kali penurunan suka bunga, dan sebanyak 4 kali selama tahun ini. Apakah hal ini masih akan terjadi atau tidak, yang pasti, penurunan suku bunga menunjukkan perubahan arah kebijakan the Fed, yang diharapkan untuk bisa mempertahankan suku bunga stabil setelah terjadi penurunan selama beberapa kali di Tahun 2019.

Tentunya, kita akan melihat dan memantau secara seksama. Semoga saja, gelombang serangan virus corona segera mereda, sehingga perekonomian dunia dapat dipulihkan seperti sedia kala, dan penurunan suku bunga tidak terjadi secara meluas.

Tagged With :

Leave a Comment