Menghadapi Lockdown Gelombang Kedua? Apa Strategi Bagi UMKM?

Kemunculan Covid varian Delta membuat banyak negara kembali menghimbau penduduknya untuk mengenakan masker kembali, meski sebelumnya ada imbauan melepas masker. Akibatnya, usaha kecil dan menengah juga harus mempersiapkan diri menghadapi konsekuensinya, yakni kemungkinan lockdown kembali akibat gelombang baru ini. Lalu, bagaimana cara usaha kecil dan menengah mempersiapkan diri menghadapi lockdown gelombang kedua ini?

Kemungkinan Menghadapi Lockdown Gelombang Kedua bagi Bisnis

Sebenarnya, orang-orang yang sudah mendapatkan vaksinasi penuh diperbolehkan beraktivitas layaknya sebelum pandemi. Namun, mereka tetap dianjurkan menggunakan masker untuk kegiatan-kegiatan tertentu, terutama saat beraktivitas di daerah yang mengalami lonjakan kasus Covid. Selain itu, sebagian pakar kesehatan juga menganjurkan agar orang-orang yang sudah mendapatkan vaksin penuh tetap mengenakan masker, bagaimanapun tingkat infeksi covid di daerah tersebut, atau jika ada anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan atau belum mendapatkan vaksin.

menghadapi lockdown gelombang kedua

Kenaikan kasus Covid-19 dalam beberapa minggu terakhir mengingatkan kita bahwa Covid belumlah berakhir. Kita mungkin harus berdamai dengan virus ini. Meskipun kecil kemungkinan terjadinya gelombang lockdown penuh seperti sebelumnya, unit usaha yang baru saja membuka kembali operasinya harus tetap bersiap menghadapi lockdown gelombang kedua yang mungkin terjadi, meski skalanya tidak penuh seperti sebelumnya.

Jika kasus Covid terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan, masyarakat mungkin akan takut keluar rumah, termasuk makan di luar rumah. Hingga penyakit ini benar-benar terkendali, para pemilik usaha kecil harus tetap menyiapkan diri terhadap kemungkinan menghadapi lockdown gelombang kedua. Jika demikian, maka pemerintah akan mengeluarkan aturan membatasi konsumen untuk berkunjung ke restoran, tempat rekreasi, wisata, dan lainnya.

Menghadapi Lockdown Gelombang Kedua: Bagaiman Caranya?

Kemungkinan menghadapi lockdown kedua akan selalu ada. Oleh sebab itu, para pelaku usaha harus selalu bersiap. Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan:

Mengurangi Biaya Operasional

Ketika kondisi perekonomian bagus, para pelaku usaha cenderung menerapkan sistem operasi yang gemuk dan bahagia, bukannya menghemat pengeluaran. Namun selama pandemi, para pelaku  usaha dipaksa untuk berbuat lebih banyak dengan tenaga yang lebih sedikit karena terjadinya kekurangan karyawan, ketakutan atas Covid, dan tunjangan pengangguran yang bahkan cenderung lebih menguntungkan bagi penganggur dibanding saat mereka bekerja. Para pemilik usaha harus mempertimbangkan beberapa hal, seperti:

  • Menyesuaikan jam kerja, sehingga usaha tidak harus buka selalu terutama di jam-jam sepi. Para pemilik restoran harus melakukan analisis belanja untuk menentukan apakah buka di malam hari benar-benar akan menguntungkan. Buka hingga tengah malam tentunya membutuhkan biaya operasional lebih besar, seperti biaya listrik. Intinya, Covid telah mengubah banyak hal, termasuk sistem jam kerja.
  • Layanan takeout dan pengiriman gratis. Restoran mengambil peluang selama pandemi untuk menyediakan layanan takeout dan pengiriman gratis. Mereka juga berinvestasi para layanan pesanan online dan mempromosikan tawaran menu melalui upaya pemasaran digital dan media sosial. Secara alamiah, layanan takeout membutuhkan lebih sedikit tenaga kerja dibandingkan layanan biasa. Dalam keadaan seperti ini, perusahaan yang tidak dapat menyesuaikan diri tidak akan mampu bertahan.
  • Pilihan lainnya adalah mencari cara untuk mengotomatisasi tugas-tugas yang membutuhkan banyak tenaga. Karena biaya operasional meningkat dan tenaga kerja yang ada semakin terbatas, maka para pemilik usaha harus berusaha agar bisa beroperasi seefisien mungkin.
Menyisihkan Uang Kas

Banyak industri yang sudah menunjukkan perbaikan. Menurut informasi yang ada terkait industri real estate, tingkat hunian hotel mulai meningkat, meskipun belum mendekati angka sebelum pandemi. Berkat adanya kelonggaran di beberapa aspek, peningkatan angka vaksinasi, dan pengurangan kepadatan transportasi, maka kunjungan ke restoran mengalami kenaikan secara konsisten.

Jika virus corona terus menyebar, maka orang yang sudah menjalani vaksinasi sekalipun bisa terpengaruh jika berada di kerumunan orang. Selain itu, ada kemungkinan kalau pembatasan ruang gerak akan kembali diberlakukan, seperti yang sudah terjadi di beberapa negara, seperti Jepang.

Benar, ini merupakan konsep kuno: menabung uang untuk musim hujan. Namun, taktik ini sebenarnya cerdas. Alangkah baiknya jika para pelaku usaha bisa menyisakan uang tunjangan dari pemerintah secara bijaksana. Para pemilik usaha kecil akan lebih nyaman jika mereka bisa menyisihkan 7-10 persen dari pendapatan mereka sebagai cadangan untuk menghadapi lockdown gelombang kedua.

Meningkatkan Cyber Security

Salah satu caya yang bisa digunakan perusahaan untuk menghadapi lockdown gelombang kedua akibat Covid tahun lalu adalah membiarkan karyawan bekerja dari rumah. Para pengusaha memperbolehkan karyawannya membawa peralatan kantor, seperti laptop, atau membeli peralatan kerja yang baru, sehingga karyawan bisa bekerja jarak jauh.

Namun,  jika semakin banyak perusahaan yang bekerja jarak jauh, maka resiko serangan cyber juga semakin meningkat. Faktanya, para peretas sepertinya memiliki peluang lebih selama masa pandemi ini. Lalu, mengapa usaha kecil menengah lebih rentan terhadap serangan cyber saat menghadapi lockdown gelombang kedua? Salah satu alasannya adalah karena UKM rata-rata tidak memiliki tenaga IT khusus.

Tagged With :

Leave a Comment