Investasi Minyak Jangka Panjang Bukan Pilihan Cemerlang

Minyak mentah merupakan salah satu komoditas energi paling vital saat ini. Berbagai bahan bakar turunan minyak mentah digunakan dalam aktivitas produksi, konsumsi, maupun distribusi di seluruh dunia. Namun, sejumlah pakar mulai menghimbau agar para investor menghindari investasi minyak jangka panjang. Dibandingkan investasi minyak jangka panjang, mereka menilai kalau trading minyak jangka pendek saja menawarkan prospek yang lebih menarik. Mengapa demikian?

Arti Debt-to-Equity Ratio (DER) dan Urgensinya dalam Analisa Saham

Dalam sebuah catatannya baru-baru ini, Kirk Spano dari Seeking Alpha mengungkapkan bahwa harga bahan bakar fosil pada umumnya, dan minyak pada khususnya, telah menghadapi halangan yang terlalu kuat. Meskipun harga minyak mentah (Brent) bisa naik lagi ke harga 80 USD per barel, tetapi pembatasan produksi yang digalakkan oleh Arab Saudi dan OPEC bisa membatasi kenaikannya lebih lanjut.

Fenomena serupa telah berulangkali terjadi dalam pergerakan harga minyak mentah sejak anjlok dari kisaran 100 USD per barel pada awal tahun 2014. Setiap kali para produsen minyak shale Amerika Serikat menggenjot produksi hingga harga jatuh, OPEC akan melakukan pembatasan kuota hingga harga naik kembali; tetapi kemudian membatalkan kuota sebelum harga mampu mendaki sampai 90 USD.

Situasi ini menciptakan sebuah halangan virtual dari perspektif fundamental maupun teknikal bagi investasi minyak dalam jangka panjang. Halangan itu bakal menghambat semua upaya investasi minyak mentah secara langsung pada kontrak minyak berjangka maupun secara tidak langsung melalui saham-saham perusahaan migas. Oleh karena itu, trading minyak dalam jangka pendek atau mengikuti siklus musimannya, merupakan opsi yang lebih baik. Trading minyak secara CFD (Contract for Difference) pada broker-broker forex juga bisa menjadi langkah profitable, karena trader bisa mendapatkan keuntungan saat harga naik maupun turun, asalkan bisa menempatkan posisi long dan short pada level-level harga yang tepat.

Baca Juga:   Kapankah Waktu Terbaik Untuk Beli Reksa Dana?

Investor minyak mentah juga perlu mempertimbangkan munculnya inovasi-inovasi energi baru dan upaya berbagai negara untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan. Negara Jerman, misalnya, kini sudah mencatat penggunaan energi solar penuh untuk kebutuhan rumah tangga. Makin majunya riset tentang mobil listrik juga bisa mengurangi kebutuhan masyarakat akan minyak mentah. Konsekuensinya, ambang atas halangan virtual tadi bisa makin rendah dari waktu ke waktu.

Tagged With :

Leave a Comment