Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat, 30 Oktober 2026, diproyeksikan masih berada dalam zona merah akibat tingginya tekanan jual yang membayangi pasar keuangan domestik.
Berikut adalah rincian fakta utama, kondisi teknikal, serta faktor penentu yang memengaruhi proyeksi pergerakan IHSG:
• Kinerja Lanjutan dan Pergerakan Sebelumnya:
• IHSG diprediksi kembali melanjutkan tren penurunan pada hari Jumat, 30 Oktober 2026, melanjutkan pelemahan tajam dari sesi perdagangan hari sebelumnya.
• Pada sesi perdagangan Kamis (29/10), IHSG ditutup anjlok signifikan sebesar 184,26 poin atau merosot 3,47 persen hingga menyentuh level 5.098,06.
• Analisis Teknikal dan Level Kunci:
• Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa pola candlestick IHSG secara teknikal membentuk long black closing marubozu. Pola ini mengindikasikan dominasi tekanan jual yang sangat kuat di pasar.
• Meskipun risiko tekanan lanjutan masih tergolong besar, potensi penurunan dinilai relatif terbatas, sehingga peluang terjadinya technical rebound tetap terbuka lebar di tengah tingginya volatilitas.
• Mirae Asset Sekuritas menetapkan rentang batas support IHSG berada di kisaran 4.969–4.907, sedangkan level resistance diproyeksikan berada di kisaran 5.246–5.326.
• MNC Sekuritas memproyeksikan dua skenario pergerakan:
• Skenario Terbaik: IHSG berpotensi mengalami koreksi terbatas menuju level 5.024 sebelum berbalik menguat ke rentang target 5.456–5.564.
• Skenario Terburuk: IHSG melanjutkan koreksi yang lebih dalam hingga menembus rentang level 4.763–4.845.
• Pengaruh Sentimen Pasar Global:
• Investor pasar modal global kini makin selektif dan cermat dalam menilai perusahaan teknologi yang mengalokasikan belanja modal (capital expenditure) besar untuk pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
• Kehati-hatian pasar ini dipicu oleh anjloknya harga saham Alphabet (induk usaha Google) hingga 12,6 persen akibat capaian laba kuartalan yang berada di bawah ekspektasi konsensus.
• Ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat turut menambah beban bagi pasar saham. Bank Sentral AS (The Fed) memilih menahan suku bunga acuan di level 3,75–4,00 persen.
• Data ekonomi AS yang masih solid dan laju inflasi yang berada di atas target 2 persen membatasi ruang bagi The Fed untuk melakukan pelonggaran moneter secara agresif.
• Dinamika dan Sentimen Domestik:
• Ketidakpastian terkait evaluasi ulang klasifikasi status pasar modal Indonesia oleh MSCI serta berlanjutnya arus modal asing yang keluar (capital outflow) menjadi perhatian utama para pelaku pasar.
• Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menilai peringatan MSCI sebagai guncangan jangka pendek (short-term shock). Pasar berpotensi pulih jika persoalan transparansi kepemilikan saham serta aksesibilitas pasar dapat segera dibenahi.
• Selama proses evaluasi MSCI belum memberikan kejelasan, para investor cenderung mengambil posisi bertahan dengan menerapkan strategi investasi yang lebih defensif.
• Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana mengecualikan saham-saham yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration) dari perhitungan IHSG mulai tanggal 2 November 2026.
• Sebagai penahan tekanan (buffer), nilai tukar Rupiah terpantau menguat 0,32 persen ke level Rp 18.132 per dolar AS setelah keputusan suku bunga The Fed dirilis serta ditopang oleh pergerakan harga minyak dunia yang relatif stabil.