Industri Retail Menciptakan Standar Baru Karena Virus Corona?

Akibat perjangkitan virus corona di seluruh dunia, banyak retailer yang secara sukarela menghentikan operasinya untuk sementara. Sesungguhnya, para pelaku di industri retail tersebut bukannya tidak tahu bahwa penutupan operasi tersebut dapat memberikan kesulitan ekonomi bagi mereka maupun karyawan. Namun, semua itu dilakukan untuk menghambat penularan virus agar tidak meluas.

Belum ada yang bisa memastikan berapa lama serangan virus ini akan bertahan. Kemudian, muncul pertanyaan, “Jika mall dan retailer tutup dalam jangka panjang dan kebijakan social distancing terus diberlakukan, akankah muncul suatu kebiasaan baru dalam industri retail?”

Industri Retail

Industri Retail dan Kebijakan Social Distancing

Dalam keadaan seperti ini, banyak usaha retail, dan bahkan mall, yang dihadapkan dengan kepailitan. Bahkan, sebagian sudah mengumumkan usahanya pailit sebelum pandemi ini meluas. Jika kepailitan diumumkan sebelum penyebaran virus corona, tentu saja penyebab pailitnya bukanlah virus tersebut. Banyak usaha yang dibangun di atas tumpukan hutang yang sangat tinggi. Pada unit usaha yang semacam ini, kekacuan pasar akan menimbulkan masalah besar.

Namun, banyak pelaku di industri retail menghadapi masalah dengan sewa real estate. Ya, bagi pemilik real estate, jika tidak ada yang membayar sewa, maka mereka tidak akan bisa membayar cicilan bank. Pada kenyataannya, ketika banyak konsumen sibuk berburu hand sanitizer, tisu toilet dan semacamnya, banyak Real Estate Investment Trust (REIT) justru sedang menumpuk uang. Dengan menarik uang dari fasilitas kredit, memotong gaji eksekutif, mengurangi dividen, atau meninjau ulang semua rencana pengeluaran, REIT justru mencoba mencari berbagai cara untuk mengumpulkan uang.

Kreativitas dan kemauan untuk bekerja sama menjadi kuncinya. Daripada mencoba meminta keringanan biaya sewa, mungkin lebih baik pemilik usaha retail mencoba skenario damai. Misalnya, mereka bisa meminta agar pembayaran sewa untuk tiga bulan (selama operasi ditutup), namun kontrak sewa diperpanjang tiga bulan di akhir. Tentunya, kita optimis bahwa semua orang akan bekerja sama di masa-masa sulit seperti ini. Lamanya penurunan ekonomi global dan kapan kondisi membaik tentunya tergantung kepada berapa lama bisnis menutup operasinya dan keyakinan konsumen ketika kondisi kembali normal nantinya.

Baca Juga:   Trend Pemasaran Yang Mempengaruhi Usaha Kecil dan Menengah

Berbicara Tentang Konsumen

Apakah kebijakan social distancing akan mengubah cara orang berbelanja secara permanen? Perusahaan grosir online menerima semakin banyak pesanan, namun kontribusinya sangat kecil terhadap pangsa pasar e-commerce secara total. Pada Tahun 2019, sektor usaha bahan makanan hanya menyumbang 4.8%. Kalau pandemi ini tidak berkepanjangan, segalanya akan kembali ke kondisi biasa dalam waktu yang tidak lama.

Menurut logika, ketika sebagian besar penduduk memilih untuk tetap tinggal di rumah sedangkan toko fisik tutup, maka orang akan beralih ke e-commerce. Namun, kenyatannya tidak begitu. Di satu sisi, banyak pelaku di industri retail yang menjual kebutuhan pokok menjadi sangat sibuk untuk melayani permintaan konsumen, sehingga mereka harus menambah karyawan untuk melayani pesanan.

Di sisi lain, kenaikan tidak terjadi di semua sektor karena banyak konsumen yang sedang menimbang-nimbang terhadap kemungkinan kemerosotan perekonomian secara serius. Selain itu, banyak perusahaan retail yang terpaksana menutup distribusi dan pusat-pusat pelayanan, dan bahkan toko online mereka, karena instruksi pemerintah agar penduduk tetap berada di rumah.

Berbicara Tentang Kebijakan

Berita baiknya adalah bahwa pemerintah di berbagai negara mencoba untuk meredakan kekhawatiran pasar jika penyebaran virus corona semakin meluas, sehingga terjadi resesi berkepanjangan dan hilangnya lapangan kerja di berbagai sektor. Stimulus perbankan dari pemerintah, seperti penuruna suku bunga, diharapkan dapat mendorong perekonomian dalam waktu singkat. Upaya ini juga dapat dipadukan dengan promosi berbelanja online, karena masih banyak penduduk, seperti di Amerika Serikat dan sejumlah negara Asia lainnya, masih menjalani isolasi mandiri.

Namun, apakah ini cukup menjadi alasan bagi konsumen untuk mengubah cara mereka berbelanja? Tentu, kita masih meragukannya. Setidaknya, ada tiga karakteristik konsumen yang suka berbelanja online, yakni:

  • Mereka fleksibel. Artinya, kebutuhan untuk berbelanja bisa disesuaikan dengan keadaan.
  • Mereka memiliki daya ingat jangka pendek. Konsumen biasanya memilih produk yang diingat saat itu. Jika suatu saat serangan covid-19 tidak terjadi lagi, belum tentu mereka akan mencari barang yang sama.
  • Mereka adalah makhluk sosial
Baca Juga:   Tips Memulai Bisnis Frenchise

Masalahnya adalah bahwa pandemi semacam ini akan memperburuk keinginan orang untuk keluar, baik ke toko maupun restoran, karena sudah lama tidak melakukannya. Bahka bagi sebagian orang, masa #Dirumahsaja ini seolah-olah menjadi liburan panjang, yang merupakan waktu bagi mereka untuk menikmati kebersamaan dengan keluarga di tempat wisata.

Nah, jika ditanyakan, “Apakah social distancing akan benar-benar mengubah perilaku konsumen dalam berbelanja di industri retail?” Maka jawabannya tergantung kepada berapa lama virus corona akan mengganggu perekonomian global. Jika virus semakin meluas dan social distancing dilakukan secara ketat, bisa saja konsumen menjadikan belanja online sebagai kebiasaan baru.

Tagged With :

Leave a Comment