Diversikasi Porfolio Investasi: Cara Bertahan di Tengah Krisis?

Di masa krisis seperti ini, para investor saham pastinya mengkhawatirkan portofolio investasinya. Meski demikian, segalanya harus dihadapi. Meskipun terjadi fluktuasi yang tidak bisa diperkirakan di pasar saham, investor harus tetap berupaya semaksimal mungkin untuk mempertahankan portofolionya. Salah satu pilihannya tetaplah diversifikasi portofolio investasi. Namun tentunya, diversifikasi investasi di tengah krisis akibat pandemi covid-19 tidak akan sama dengan diversifikasi ketika kondisi perekonomian dunia sedang stabi.

Bukan pekerjaan mudah untuk menentukan berapa banyak saham yang harus dibeli. Perhitungannya tidaklah sama dengan persamaan matematika sederhana. Mengapa anda harus membangun portofolio berdasarkan pasar saham kemarin? Jawabannya terletak pada peluang yang ditawarkan teknologi Artificial Intelligence (AI). Dengan teknologi canggih ini, akan lebih mudah memprediksi seperti apa pasar saham di masa mendatang dengan tingkat probabilitas tinggi.

diversikasi porfolio investasi

Apa Sebenarnya Diversikasi Porfolio Investasi itu?

Dengan informasi yang didapatkan dari Artificial Intelligence (AI), investor bisa membangun diversifikasi portofolio investasi yang kinerjanya lebih baik. Konsep diversifikasi sangat sering digunakan saat berbicara tentang investasi. Lalu, apa sebenarnya diversifikasi tersebut? Saat kita berbicara tentang diversifikasi, maka kita biasanya membahas resiko yang ada pada portofolio investasi anda.

Ada begitu banyak resiko yang perlu dipertimbangkan, namun investor biasanya hanya berfokus pada satu hal: yakni, kinerja. Mengukur resiko kinerja merupakan suatu langkah penting bagi investor. Apa pentingnya berinvestasi jika anda tahu bahwa anda tidak akan mendapatkan keuntungan? Sayangnya, banyak yang tidak sadar bahwa fokus yang berlebihan terhadap keuntungna justru dapat meningkatkan resiko portofolio itu sendiri. Mari kita lihat contohnya di bawah ini.

Contoh 1

Anda menempatkan 40% portofolio anda untuk saham TORA. Kemudian, nilai saham TORA naik, namun tiba-tiba turun di hari yang sama. Jadi, kita menyebut saham TORA sebagai saham yang volatile. Segala sesuatunya tampak baik ketika nilai saham TORA naik, namun apa yang terjadi ketika suatu hari nilai saham TORA turun 10%.  Karena 40% dari portofolio anda anda di saham TORA, bisa jadi anda berasumsi bahwa penurunan 10% mungkin tidak akan menyebabkan perubahan yang berarti pada portofolio anda. Ternyata, portofolio anda turun 4%.

Hal ini tentunya tidak baik bagi anda. Maka, akan lebih aman jika anda menempatkan persentase yang lebih kecil di saham TORA. Dengan demikian, keseluruhan portofolio anda tidak ikut terancam.

Memilih Diversikasi Porfolio Investasi Yang Tepat

Kemampuan untuk menilai berapa banyak yang harus dibeli untuk sebuah saham volatile akan membantu anda mengambil keputusan. Namun kemudian, anda harus mempertimbangkan peran dan dampaknya terhadap portofolio anda. Mari kita lihat contoh lainnya:

Baca Juga:   4 Tips Order Beli Terbaik Untuk Trader Saham

Contoh 2:

Anda ingin membeli saham TORA dan saham TODI. Anda tahu bahwa setiap kali nilai saham TORA naik, maka saham TODI juga naik. Demikian sebaliknya. Ketika saham TORA turun, maka saham TODI juga turun. Kita menyebut hubungan linear semacam ini sebagai korelasi, yang diukur dengan skala -1 hingga +1. Jika saham TORA dan TODI memiliki korelasi senilai 0.75, artinya terdapat korelasi yang cukup kuat di antara kedua saham tersebut. Ketika nilai TORA naik, maka nilai saham TODI juga. Jadi, anda memberikan nilai resiko yang sama pada portofolio anda saat membeli kedua saham ini.

Jika korelasi dua saham cukup kuat, maka resikonya juga sama. Nah, untuk mencegah terkonsentrasinya resiko investasi, maka sebaiknya berinvestasilah pada saham yang korelasinya lebih kecil dengan saham TORA. Kalaupun suatu saham nilai saham TORA turun, maka pengaruhnya tidak linear ke portofolio anda.

Sekali lagi, anda harus tetap mempertimbangkan resikonya. Analisis kembali berapa keuntungan yang anda dapatkan untuk setiap unit resiko yang anda terima. Jika rasionya kurang dari 1, berarti keuntungan investasi tidak cukup untuk mengimbangi resiko yang anda tanggung. Dalam kondisi ideal, rasio antara resiko dan keuntungan harus di atas 1.0. Jadi, pastikan untuk tetap memperhatikan hubungan ini saat mempertimbangkan diversifikasi portofolio investasi.

Strategi Jitu dalam Diversikasi Porfolio Investasi

Sebagai kesimpulan, setidaknya ada 3 aturan yang harus anda ingat saat melakukan diversifikasi portofolio investasi. Pertama, jangan mengalokasikan terlalu banyak portofolio anda pada saham yang sangat volatile. Kedua, korelasi yang kuat antara dua saham atau lebih dapat meningkatkan resiko terhadap portofolio anda. Ketiga, jangan lupa mempertimbangkan rasio laba-rugi saat menilai tingkat resiko yang akan anda tolerir pada portofolio.

Baca Juga:   Aturan Money Management Paling Sederhana Untuk Investasi Saham

Nah, pastikan anda menerapkan tiga aturan pokok tersebut saat melakukan diversifikasi portofolio investasi. Biasanya, pialang saham akan menawarkan semacam software untuk membangun portofolio dengan fitur yang diklaim canggih dan up-to-date. Namun, mayoritas software yang anda sebenarnya tidak menawarkan tool yang baik untuk menemukan portofolio terbaik. Sayangnya, hingga saat ini, software sederhana seperti Microsoft Excel atau software teknik masih menjadi pilihan terbaik. Mungkin terasa lebih rumit, namun hasilnya justru lebih baik.

Tagged With :

Leave a Comment