Banyak pihak meramalkan penurunan harga minyak mentah tahun ini. Diantaranya, US Energy Information Administration (EIA) bahkan memprediksi harga minyak mentah bisa turun sampai $60 per barel dalam waktu dekat karena pasokan minyak global kemungkinan meningkat hingga jauh melampaui permintaan.
Banyak orang menyambut hangat perkiraan tersebut, karena harga minyak mentah yang lebih murah akan mengurangi biaya produksi dan pengeluaran kita sehari-hari. Namun, sebenarnya dampak penurunan harga minyak mentah terhadap perekonomian global belum tentu menggembirakan.

Dampak penurunan harga minyak mentah yang bersifat positif terutama dirasakan oleh negara-negara yang berstatus importir neto, seperti Indonesia, India, dan Jepang. Negara bisa membeli BBM dengan harga lebih murah, sehingga mengurangi tagihan impor yang harus dibayar. Di saat yang sama, perusahaan-perusahaan maupun masyarakat biasa dapat menikmati penurunan inflasi dan menghemat pendapatannya untuk ditabung, diinvestasikan, ataupun digunakan memenuhi kebutuhan lainnya.
Dampak penurunan harga minyak mentah yang bersifat negatif terutama dihadapi oleh negara-negara yang berstatus eksportir neto, seperti Arab Saudi, Rusia, dan Kanada. Ketika pendapatan berkurang, perusahaan-perusahaan migas kemungkinan harus membatalkan proyek baru, memecat karyawan, atau bahkan gulung tikar.
Bagi pemerintah yang mengandalkan pendapatan dari ekspor minyak mentah, efeknya bisa meluas sampai mengakibatkan resesi atau perlambatan ekonomi secara nasional. Penurunan pendapatan pemerintah juga dapat mengguncang stabilitas ekonomi, khususnya jika negaranya menanggung banyak utang dalam mata uang asing. Dalam skenario terburuk, perekonomian negara kaya minyak seperti Venezuela bahkan bisa kolaps.
Patut diperhatikan pula dampak penurunan harga minyak mentah yang jauh lebih buruk lagi bagi lingkungan, antara lain:
- Masyarakat semakin mengandalkan bahan bakar fosil yang mencemari lingkungan.
- Polusi semakin parah karena masyarakat cenderung “lebih boros” menggunakan BBM saat harganya murah.
- Para investor semakin enggan menanamkan modal untuk proyek-proyek energi terbarukan.
Dalam jangka panjang, harga minyak mentah yang murah dapat menjadi “bencana” bagi bumi maupun perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang energi terbarukan. Agar mampu bertahan, perusahaan-perusahaan energi terbarukan harus melakukan efisiensi dan lebih giat berinovasi demi menghasilkan produk-produk yang lebih terjangkau bagi masyarakat luas.
Tagged With : analisa fundamental • komoditas • minyak