Banyak pihak sudah memperhitungkan kejatuhan harga minyak tahun ini. Namun, kemerosotan crude oil secara aktual ternyata jauh lebih parah dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Harga minyak mentah dunia sempat meningkat seiring dengan eskalasi gejolak geopolitik pada kuartal kedua tahun ini. Namun, crude oil merosot kembali hingga mendekati $60 per barel saat artikel ini ditulis (16/8/2025). Sebuah lembaga asal Amerika Serikat bahkan memperkirakan harga minyak bisa turun sampai $50 per barel pada tahun depan.

US Energy Information Administration (EIA), sebuah lembaga semi-otonom di bawah Kementrian Energi AS, merilis laporan Short-Term Energy Outlook pada hari Selasa (12/8/2025). Mereka memaparkan bahwa pasokan minyak global akan jauh melampaui permintaan, sehingga harga minyak akan mengalami penurunan yang tajam.
Koalisi OPEC+ baru-baru ini mengumumkan akan menghentikan pemangkasan kuota produksi pada bulan September 2025, atau satu tahun lebih awal dari rencana semula. Keputusan tersebut akan menggenjot kontribusi negara-negara OPEC+ pada produksi minyak global dalam waktu dekat.
Di saat yang sama, negara-negara non-OPEC seperti Amerika Serikat dan Kanada juga masih terus bersemangat menggali beragam komoditas energi di wilayahnya. Produksi minyak mentah AS bahkan diperkirakan akan mencapai rekor tertinggi dalam sejarah dengan jumlah 13,6 juta barel per hari pada bulan Desember 2025. EIA memperkirakan AS akan terus mempertahankan laju produksi rata-rata 13,3 juta barel per hari sepanjang tahun 2026.
Faktor-faktor tersebut akan kian menekan harga minyak secara signifikan. EIA memprediksi harga minyak mentah tipe Brent per barel akan merosot dari rata-rata $70 pada bulan Juli sampai rata-rata $58 pada kuartal keempat tahun 2025. Ini merupakan harga paling rendah sejak tahun 2020. Lebih lanjut, mereka memperkirakan harga minyak akan turun lagi sampai nyaris $50 per barel pada tahun 2026.
Ada beberapa faktor lain yang dapat menyokong ataupun mengatrol harga minyak dunia secara tidak terduga, seperti eskalasi konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina, peperangan di Timur Tengah, dan kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang kontroversial. Kendati demikian, EIA cukup yakin rerata harga crude oil akan turun sampai ke bawah $60 per barel dalam bulan-bulan ke depan.
Tagged With : analisa fundamental • komoditas • minyak