Buy Now Pay Later: Pembayaran Masa Kini dan Masa Depan

Konsumen saat ini semakin dimanjakan dengan berbagai pilihan skema pembayaran saat berbelanja secara online. Salah satunya adalah skema Buy Now Pay Later. Bagi sebagian orang, skema ini masih tergolong baru. Namun sebenarnya, skema pembayaran ini sudah tersedia di banyak negara, termasuk Amerika Latin. Di antaranya adalah EVP, Worldpay Mechant Solutions, dan sebagainya. Di Indonesia, opsi ini juga sudah tersedia di beberapa marketplace, seperti Traveloka.

Laporan Dunia Tentang Buy Now Pay Later

Ada asumsi bahwa skema pembayaran yang lebih matang belum tersedia di daerah-daerah, di mana sebagian besar konsumen masih membayar dengan uang tunai. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa produk layanan keuangan semacam ini dapat membuat timbunan hutang sebuah negara, atau hutang pribadi, semakin tinggi, terutama jika belum ada regulasi khusus yang mengatur metode pembayaran ini.

Buy Now Pay Later

Menurut laporan Global Payments Report, skema pembayaran Buy Now Pay Later seperti Afterpay dan Affirm berkembang sangat pesat, bahkan hingga mencapai 39 persen setiap tahunnya di United Kingdom. Diperkirakan bahwa opsi pembayaran semacam ini akan mendapatkan pangsa pasar hingga dua kali lipat pada Tahun 2023. Kenaikan ini sejalan dengan kenaikan pasar e-commerce di United Kingdom dalam tiga tahun terakhir.

Opsi pembayaran digital menunjukkan trend kenaikan yang cukup signifikan, seiring dengan berkurangnya pengguna kartu debit atau kartu kredit sebagai opsi pembayaran. Laporan yang sama juga memprediksi bahwa layanan keuangan ini akan menyumbang sekitar 3% terhadap pengeluaran e-commerce global pada Tahun 2023. Satu hal yang pasti, semakin banyak transaksi dieksekusi secara digital. Inilah cerminan dari era di mana kita hidup saat ini.

Di satu sisi, ada kontroversi bahwa opsi Buy Now Pay Later dianggap memicu seseorang untuk membeli sesuatu meski rekeningnya tidak memiliki saldo. Di sisi lain, penyedia layanan ini menegaskan bahwa skema ini hanyalah salah satu alternatif. Mereka tidak mencoba mendorong konsumen berhutang dengan membebankan bunga yang besar. Konsepnya berbeda, karena ini hanya opsi pembayaran.

Baca Juga:   Potensi Perusahaan Fintech Berbasis Syariah di ASEAN

Kontroversi Seputar Skema Buy Now Pay Later

Selain asumsi bahwa opsi Buy Now Pay Later mendorong konsumen untuk berbelanja, masih ada beberapa kontroversi terkait opsi pembayaran ini. Di antaranya adalah penggunaan iklan selebriti untuk mempromosikan perusahaan-perusahaan yang memberikan skema Buy Now, Pay Later. Kita mungkin sering melihat iklan di televisi tentang bagaimana mudahnya berbelanja, memesan hotel, memesan tiket pesawat, atau mendapatkan layanan lainnya meski tidak sedang memegang kartu kredit  atau belum gajian.

Perusahaan-perusahaan ini mampu membayar biaya iklan yang besar karena menggunakan selebriti papan atas sebagai modelnya. Namun di sisi lain, ada yang berpendapat bahwa meminta selebriti merekomendasikan produk kecantikan, restoran, tempat wisata, atau hotel tidak sama dengan iklan layanan produk keuangan. Apa yang diiklankan oleh selebriti tersebut adalah produk atau jasa  yang ditawarkan perusahaan, sedangkan Buy Now, Pay Later hanyalah salah satu skema pembayaran yang disediakan.

Selain itu, konsumen yang menggunakan skema pembayaran ini adalah mereka yang menyadari kondisi keuangannya. Konsumen yang terdidik semestinya  bisa menggunakan  opsi yang ada secara cerdas. Bagi generasi ini, layanan mobile-first adalah suatu dunia yang tak terelakkan. Mereka mengharapkan sesuatu yang lebih dan performa yang lebih baik dari setiap layanan yang diterima. Sebelum produk pembayaran digital muncul di pasaran, nyaris tidak ada pilihan untuk metode pembayaran. Saat ini, berbagai jenis pilihan pembayaran sudah tersedia, karena konsumen menginginkan “gratifikasi instabn” yang kemunculannya didorong oleh perbaikan teknologi komunikasi dan konektivitas antar wilayah.

Masa Depan Skema Buy Now Pay Later

Perlu disadari bahwa seiring berjalannya waktu, metode-metode pembayaran akan menggantikan atau melengkap model-model tradisional yang ada, karena konsumen selalu mengharapkan layanan yang bebas masalah. Mungkin, akan muncul model-model pembayaran lain yang lebih revolusioner di masa mendatang. Laporan Worldpay, sebagai contoh, menyajikan contoh bagaimana dompet digital ditargetkan sebagai pembayaran online ketiga di United Kingdom pada Tahun 2023. Namun sekali lagi, kesiapan masing-masing daerah untuk menerima dan mengadopsi ini pastinya berbeda-beda. Di United Kingdom misalnya, Britons mungkin belum siap untuk tinggal landas menuju teknologi cashless meskipun penggunaan uang tunai semakin berkurang, dengan kecepatan hingga 10 persen setiap tahunnya.

Baca Juga:   Trend Bisnis Baru Akibat Covid-19 untuk Bertahan di Tengah Pandemi

Jika daerah-daerah di Eropa atau Amerika saja tidak siap, bagaimana dengan daerah lainnya di dunia? Faktanya, penetrasi layanan mobile cenderung lebih dominan di daerah-daerah tertentu dibanding daerah lainnya. Ada juga negara yang berhasil meloncati beberapa tahap peralihan, dari PC tradisional ke pembayaran digital.

Di satu sisi, pembayaran dengan uang tunai tidak akan pernah hilang dari model transaksi di seluruh dunia, karena pembayaran tunai adalah opsi yang bagus bagi orang-orang yang tidak memiliki akses terhadap layanan keuangan. Namun, pembayaran digital seperti dompet digital atau skema Buy Now Pay Later akan tetap bermunculan, karena konsumen mendambakan layanan instan dan bebas masalah.

Tagged With :

Leave a Comment