Banyak trader pemula suka mencari jalan pintas, salah satunya dengan langganan sinyal trading forex mahal dengan anggapan bahwa akurasinya pasti bagus dan keuntungan dapat diraup dengan cepat. Setelah bayar sinyal trading tersebut dan menerapkannya, eh, ternyata kok tetap rugi terus? Kenapa bisa begitu? Jangan-jangan orang yang jual sinyal itu penipu? Belum tentu demikian. Karena kesuksesan dalam menerapkan sinyal trading forex itu juga bergantung pada bagaimana cara Anda menerapkannya.

Apa maksudnya? Coba bayangkan begini. Anda menerima sinyal trading forex untuk buy EURUSD pada level 1.1300 dengan target profit pada level 1.1400. Anda buka posisi sesuai instruksi tersebut sebanyak 20 lot, dengan ekspektasi lot makin besar maka keuntungan makin besar juga. Realitanya, harga tidak bergerak langsung menuju target 1.1400, melainkan turun dulu ke level 1.1250. Ketika harga turun untuk sementara itu, margin dalam saldo Anda menyusut drastis hingga akhirnya kena Margin Call dan posisi trading ditutup otomatis oleh platform.
Dalam kejadian itu, Anda mengalami kerugian walaupun pada akhirnya harga akan mencapai target juga. Di sisi lain, trader lain yang menggunakan sinyal yang sama, bisa jadi berhasil mendapatkan profit jika sejak awal mereka menentukan besaran lot yang lebih kecil dan cocok dengan kondisi saldo akun atau margin mereka.
Dari contoh ini, kita dapat menyimpulkan bahwa akurasi sinyal trading forex saja tidak menjamin kesuksesan seorang trader. Walaupun sudah bayar sinyal mahal-mahal, jika trader tak bisa mengelola Money Management dan Risk Management dengan baik, maka tetap akan merugi. Jadi, bagaimana solusinya?
Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan saat menerapkan sinyal trading yang diperoleh dari pihak lain. Yaitu:
- Ketahui berapa besar leverage dan saldo akun minimal yang direkomendasikan oleh penyedia sinyal. Sebisa mungkin, cocokkan dengan saldo akun Anda. Jika tidak cocok, maka Anda boleh jadi perlu melakukan penyesuaian ulang atas target profit (TP) dan stop loss (SL) saat menerapkan sinyal.
- Pertimbangkan untuk menggunakan Trailing Stop bersama target TP dan SL yang disarankan oleh penyedia sinyal. Trailing Stop bersifat dinamis dan bisa menjadi pencegah Margin Call yang cukup mudah digunakan oleh trader pemula.
- Hati-hati “over-trading”, alias trading yang melebihi kemampuan modal Anda. Tentukan besar lot per posisi trading Anda secara mandiri; jangan hanya mengikuti penyedia sinyal. Lebih penting lagi, jangan buka posisi trading secara berlebihan. Walaupun mereka terus menerus mengirim sinyal, itu tak lantas berarti Anda harus mengikuti semuanya begitu saja.
Selain ketiga hal itu, Anda juga bisa mempertimbangkan untuk uji coba sinyal trading pada akun demo terlebih dahulu. Tujuannya bukan hanya guna menguji profitabilitas sinyal, melainkan juga agar dapat menentukan komposisi leverage, margin, dan besar lot paling optimal saat menerapkan sinyal trading tersebut.
Tagged With : trading forex