Tahun ini sepertinya diawali dengan kondisi ekonomi yang cukup stabil, bukan hanya di level nasional namun juga global. Meski demikian, para pelaku usaha kecil dan menengah harus selalu memandang ke depan dan senantiasa waspada dengan hal-hal yang tidak terantisipasi sebelumnya namun dapat mempengaruhi perusahaan secara negatif. Tetap saja ada kemungkinan penurunan suku bunga tahun ini, namun kita tidak tahu pasti. Meski saat ini kondisi ekonomi stabil, ancaman resesi belumlah hilang. Ada beberapa hal yang mesti diantisipasi UMKM di tahun ini agar tidak kehilangan kendali jika ancaman resesi global benar-benar terjadi.
3 Hal Yang Mesti Diantisipasi UMKM Tahun ini
Ada tiga hal yang mesti diantisipasi UMKM tahun ini dan bisa mempengaruhi kinerja perusahaan secara negatif jika perusahaan tidak mengambil langkah-langkah antisipatif secara matang, yakni:

Suku Bunga Yang Tetap Tinggi
Kenaikan suku bunga sudah berlanjut dalam dua tahun terakhir. Sekalipun ada sinyal akan terjadinya penurunan suka bunga, sehingga banyak yang optimis kalau inflasi akan terus mengalami penurunan di tahun ini, tidak ada jaminan bahwa hal ini akan terwujud. Bank Indonesia membuat keputusan terkait suku bunga dengan mempertimbangkan berbagai faktor, seperti angka inflasi, angka pengangguran, dan kondisi ekonomi nasional secara umum. Di berbagai daerah, ada kecenderungan kenaikan angka pengangguran. Namun berita baiknya adalah: pada skala nasional, angka pengangguran per Agustus 2023 mengalami penurunan, yakni 5,32% dibanding periode yang sama tahun 2023, yakni 5,86%.
Pasokan tenaga kerja yang memenuhi kompetensi masih relatif rendah. Akibatnya, tekanan untuk menyediakan gaji pokok dan tunjangan yang lebih tinggi juga meningkat, apalagi inflasi masih terjadi untuk sejumlah barang-barang pokok. Hal ini menjadi tekanan tambahan bagi para pelaku bisnis, karena kenaikan gaji berarti kenaikan biaya operasional perusahaan. Lalu, apakah anda sebagai pemilik UMKM direkomendasikan untuk mencari pinjaman usaha atau kredit di tahun ini?
Tentunya ini bukan keputusan mudah. Sebelum memutuskan apakah perusahaan akan mengajukan pinjaman atau tidak, ada berbagai hal yang mesti diantisipasi UMKM. Salah satunya adalah suku bunga. Jika anda merasa bahwa suku bunga masih terlalu tinggi dan anda khawatir tidak bisa melunasi cicilan setiap bulannya, maka cobalah pertimbangkan ulang rencana pengajuan pinjaman tersebut. Namun di luar biaya modal, ada beberapa faktor lain yang perlu dipertimbangkan:
- Tujuan meminjam. Jika anda membutuhkan dana untuk mendapatkan peluang yang mungkin akan terlewatkan, misalnya, membeli sebuah perusahaan yang sedang dijual dengan harga rendah atau untuk membeli peralatan vital bagi perusahaan, maka alasan untuk meminjam tersebut perlu dipertimbangkan. Jika perusahaan anda sedang dalam proses untuk tumbuh, maka anda tentu tidak ingin suku bunga menjadi penghambat.
- Return on Investment (ROI): Evaluasi potensi Return on Investment (ROI) dari dana pinjaman tersebut. Apakah akan mendatangkan pendapatan yang cukup untuk memenuhi biayanya, termasuk bunganya? Jika ROI positif, maka anda bisa melanjutkan, karena perusahaan memiliki kapasitas finansial untuk memenuhi kewajiban hutang tanpa mengganggu operasi sehari-hari.
- Kondisi ekonomi. Di satu sisi, suku bunga memang penting. Jika kondisi ekonomi cukup kuat dan bisnis anda berpotensi tumbuh, mengajukan pinjaman bisnis tidaklah masalah. Namun, jika kondisi ekonomi (termasuk proyeksi bisnis anda di tahun ini kurang baik), maka sebaiknya pertimbangkan dengan seksama kembali.
- Toleransi resiko. Jika suku bunga tetap tinggi dan meningkat kembali dalam jangka pendek, apakah usaha anda akan tetap mampu melunasi pinjaman?
Pada akhirnya, keputusan untuk mengajukan pinjaman atau tidak mesti didasarkan pada analisis yang komprehensif terhadap situasi finansial perusahaan anda, tujuan perusahaan, dan lingkungan ekonomi. Jika anda ragu, sebaiknya jangan dilanjutkan.
Ketidakpastian Geopolitik
Kejadian geopolitik, seperti perilaku Cina yang agresif terhadap Taiwan, perang di Ukraina, dan perang antara Israel dan Hamas bisa mempengaruhi kondisi ekonomi global, terutama di rantai pasok. Ketegangan geopolitik bisa memicu perang dagang, dan disrupsi arus barang dan jasa antar-negara, yang bisa memicu kekurangan bahan baku dan hambatan produksi. Akibatnya, biaya impor dan ekspor akan meningkat, dan secara keseluruhan harga produk-produk import dan ekspor akan meningkat. Kita juga sudah melihat bagaimana kenaikan harga energi di daerah-daerah produsen minyak bisa memicu kenaikan inflasi, akibat naiknya biaya transportasi.
Resesi
Sebagaimana dibahas sebelumnya, resesi adalah salah satu hal yang mesti diantisipasi UMKM tahun ini. Upaya untuk menurunkan inflasi tidaklah gagal, namun mungkin tidak secepat yang diharapkan para pakar ekonomi. Kondisi ekonomi saat ini cukup optimis. Namun, pandemi Covid-19 mengajari kita bahwa suatu hal yang tidak terprediksi sebelumnya tetap berpotensi untuk memicu perlambatan ekonomi secara global.
Banyak pemilik UMKM merasa khawatir tentang resesi selama pandemi, demikian juga tahun lalu. Namun di sisi lain, ekonomi nasional masih relatif solid dan stabil. Sekali lagi, kemungkinan resesi tetap ada, dan mesti dipertimbangkan para pelaku usaha dalam perencanaan jangka panjangnya.
Tagged With : manajemen bisnis