Ingin Menerapkan Sistem Kerja Baru Pasca-Pandemi? Pertimbangan 3 Hal ini

Pandemi Covid-19 telah memicu perubahan yang mendalam pada organisasi sosial kemasyarakatan, sehingga mempengaruhi bagaimana kita hidup dan bekerja. Dalam sekejap, aktivitas yang biasa kita lakukan harus terhenti dan pasar tenaga kerja mengalami kekacauan hebat. Sistem kerja baru, yakni bekerja dari rumah, seolah dipaksakan untuk diterapkan di seluruh dunia. Bahkan, dilaporkan bahwa hampir 48% pekerja di Eropa bekerja jarak jauh, setidaknya beberapa hari dalam seminggu, terutama di awal-awal pandemi.

Perubahan sistem kerja ini memicu banyak perubahan lainnya. Para pekerja mulai mengevaluasi kembali peran mereka dalam pekerjaan. Banyak yang mulai mempertanyakan apakah pendekatan yang lebih fleksibel atau pengurangan jam kerja lebih cocok bagi mereka atau tidak. Kita fase akut pandemi mulai menghilang, dunia kerja mulai kembali ke sistem normalnya, namun tidaklah ke sistem kerja normal yang sebenarnya.

sistem kerja baru

Para pekerja sudah mulai terbiasa dan beradaptasi dengan sistem kerja baru, sehingga muncul lagi pertanyaan tentang seperti apa pasar tenaga kerja yang diinginkan, hak para pekerja, serta jam kerja yang semestinya. Tidak bisa dipungkiri bahwa telah terjadi perubahan yang mendalam dalam sistem kerja kita. Kita harus mencari peluang untuk membangun sistem kerja baru berdasarkan prinsip-prinsip perlindungan sosial dan kesejahteraan.

Ingin Menerapkan Sistem Kerja Baru? Ini Kuncinya

Berikut adalah tiga pertimbangan pokok jika ingin menerapkan sistem kerja baru yang berlandasarkan prinsip perlindungan sosial dan kesejahteraan tersebut:

Sistem kerja fleksibel sudah diterapkan, namun bukanlah prioritas semua orang

Sistem kerja fleksibel telah mempengaruhi bagaimana para talent muda bekerja. Sebuah studi oleh McKinsey menunjukkan bahwa lebih dari 20% tenaga kerja bekerja jarak jauh 3 hingga 5 hari dalam seminggu. Mereka bisa bekerja lebih efektif dari jarak jauh dibanding bekerja di kantor. Artinya, jumlah tenaga kerja berbakat cenderung meningkat, namun para pekerja saat ini juga lebih mudah mengajukan permohonan kerja ke berbagai perusahaan, karena peluangnya lebih banyak. Para pekerja muda lebih bebas memilih yang paling cocok dengan kriteria mereka.

Namun, para pekerja tidak menginginkan fleksibilitas yang mengorbankan segalanya. Mereka lebih menghargai perlindungan dan pengamanan terhadap hak-haknya. Menyadari hal ini, negara-negara Uni Eropa berusaha membuktikan dirinya berada di depan dalam hal pengembangan kebijakan. Pada tahun 2021, Uni Eropa mengajukan langkah-langkah untuk mengatur platform sistem kerja baru dan meminimalkan peluang bagi pekerja untuk jatuh dalam perangkap.

Pasar tenaga kerja perlu di-rehumanisasi kembali jika kita benar-benar ingin mengatasi kekurangannya

Diperkirakan bahwa hampir 41% pekerja di seluruh dunia sedang menimbang-nimbang untuk keluar dari pekerjaannya di tahun depan, dan 69% perusahaan melaporkan kesulitan untuk mendapatkan karyawan. Kondisi ini diperkirakan terjadi karena adanya ketidakcocokan antara ekspektasi para pencari kerja dengan ekspektasi perusahaan, sehingga memicu munculnya gelombang pengunduran diri besar-besaran, atau dikenal dengan Great Resignation. Fenomena ini terutama terjadi di Amerika Serikat dan Uni Eropa, di mana para pekerja menginginkan sistem kerja baru yang lebih fleksibel dan pekerjaan yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.

Kekurangan tenaga kerja ahli di beberapa posisi penting ini mesti ditangani segera, dan perlu dilakukan penyesuaian antara ekspektasi pekerja dan perusahaan secepat mungkin. Tentunya, hal ini tidak mudah, namun ini juga menjadi peluang untuk kembali memanusiakan pasar tenaga kerja dan mengatasi faktor pemicu utama terjadinya fenomena Great Resignation. Dari perlindungan sosial hingga skema tunjangan, ada begitu banyak pakar dan alat yang menawarkan solusi dinamis dan inovatif untuk membantu perusahaan mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan tenaga kerja. Di antaranya adalah solusi digital seperti blockchain dan kecerdasan buatan (AI), yang perlu dieksplorasi lebih lanjut.

Belajar tidak hanya di sekolah. Pekerja berhak atas pelatihan dan akses terhadap peluang baru

Penelitian menunjukkan bahwa selama periode yang ditandai dengan ketatnya pasar tenaga kerja, seperti yang sedang kita alami saat ini, perusahaan sepertinya tidak memberikan penekanan khusus terhadap gelar dan hanya fokus pada keahlian dan kompetensi yang terlihat. Ini adalah peluang yang sempurna bagi pekerja untuk memanfaatkan program pelatihan dan peningkatan keahlian bagi karyawan.

Selama pandemi, industri swasta masih berupaya mengisi kekosongan ini dengan menyediakan pelatihan dan menempatkan pekerja yang beroperasi di sektor esensial, seperti industri kesehatan dan konstruksi. Manajemen karir menjadi hal yang sangat dibutuhkan selama pandemi. Para penasehat ahli menawarkan dukungan vital terhadap perusahaan-perusahaan yang ingin melakukan restrukturisasi dan kepada perusahaan yang butuh bantuan untuk mencari peluang-peluang baru selama periode transformasi dan ketidakpastian.

Sebagai kesimpulan, pandemi Covid-19 telah memaksa semua orang di dunia untuk berubah, selamanya, termasuk menerapkan sistem kerja baru. Pandemi Covid-19 memicu kekurangan tenaga kerja, menuntut pemberlakuan sistem kerja fleksibel, dan menuntut perusahaan menerapkan keseimbangan kehidupan pribadi dan pekerjaan bagi karyawannya. Mengembangkan budaya kerja yang memastikan bahwa karyawan mendapatkan pelatihan dan pengembangan bakat dapat membantu perusahaan untuk tetap tumbuh. Alhasil, perusahaan yang bergerak di bidang manajemen karir mendapatkan peluang yang besar untuk bekerja sama dengan banyak perusahaan.

Tagged With :

Leave a Comment