3 Risiko yang Mengancam Investasi Deposito Anda

Deposito seringkali dianggap sebagai upaya investasi paling mudah dan aman oleh masyarakat. Namun, sebenarnya ada tiga risiko yang dapat membuat investasi deposito itu tidak menguntungkan bagi Anda ketimbang jenis investasi bermodal rendah lainnya seperti Reksadana dan Saham. Berikut ini sekilas uraian mengenai ketiga risiko tersebut.

 

1. Risiko Denda Pencairan Sebelum Jatuh Tempo

Apabila menanamkan dana dalam suatu produk deposito, maka pada saat itu juga kita menyepakati bahwa kita akan membiarkan dana tertanam selama jangka waktu (tenor) tertentu. Konsekuensinya, jika kita ingin mencairkan dana tersebut sebelum jatuh tempo, maka bank bisa mengenakan denda pada kita.

Berapa besar denda pencairan deposito sebelum jatuh tempo? Besarnya bervariasi bagi setiap bank. Namun, biasanya denda itu bukan hanya berupa biaya penalti, melainkan juga tidak dibayarkannya bunga deposito. Artinya, apabila mencairkan deposito sebelum jatuh tempo, maka Anda sudah pasti bakal rugi.

Risiko Investasi Deposito

 

2. Risiko Inflasi

Tahukah Anda, apa itu inflasi? Inflasi adalah kenaikan harga-harga barang dan jasa di suatu tempat dalam periode tertentu secara terus menerus. Inflasi ini mengakibatkan nilai uang menurun. Oleh karenanya, bank sentral akan merubah suku bunga berdasarkan tinggi-rendahnya inflasi. Jika inflasi melampaui batas yang diinginkan, maka bunga dinaikkan; sedangkan jika inflasi menurun, maka bunga diturunkan.

Suku bunga bank sentral itu merupakan acuan bagi bunga deposito juga. Jadi, ketika kita menyimpan dana dalam deposito, sejatinya kita hanya menerima pengembalian yang seimbang dengan kenaikan harga-harga di pasar saja, dan bukan menerima keuntungan ekstra yang lebih dari nilai uang kita yang sesungguhnya.

 

3. Risiko Bank Kolaps

Orang-orang yang pernah menyaksikan era krisis finansial 1997/1998 tentunya mengetahui bagaimana besarnya bencana keuangan yang harus ditanggung oleh para penabung dan investor deposito ketika bank-bank gulung tikar. Tragedi serupa kemungkinan takkan terjadi lagi di masa depan, karena pemerintah sudah menyiapkan peraturan untuk mengatasinya. Namun, itu bukan berarti tidak akan ada bank yang kolaps.

Apabila bank tempat Anda menyimpan deposito itu kolaps, maka Anda hanya akan menerima kembali uang Anda jika bank menaati persyaratan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sedangkan bila deposito Anda mengandung level bunga yang lebih tinggi dibanding aturan LPS atau jumlahnya terlalu besar dan tidak di-cover, maka bisa jadi Anda akan kehilangan seluruh simpanan tersebut.

Ketiga risiko ini hanya dimiliki oleh deposito saja. Anda takkan menemui ketiganya apabila memutuskan untuk berinvestasi pada saham atau reksadana. Akan tetapi, itu tidak berarti saham dan reksadana bebas risiko sama sekali. Investasi deposito itu mudah dan aman bagi orang-orang yang enggan belajar mengenai produk-produk keuangan yang rumit; tetapi jika Anda bersedia untuk bersusah payah melakukan analisa dan penelitian mendalam, maka saham dan reksadana bisa jadi pilihan yang lebih baik.

Tagged With :

Tinggalkan sebuah Komentar