Tuntutan Hukum Atas McDonald’s atas Dugaan Diskriminasi

Meskipun McDonald’s telah berusaha membangun image sebagai sebuah brand dengan tingkat kepedulian sosial yang tinggi, ternyata perusahaan ini sedang menghadapi masalah dengan sejumlah pemilik franchise berkulit hitam karena masalah diskriminasi. Menurut para pemilik franchise tersebut, mereka dirugikan secara ekonomi karena ditempatkan di lokasi-lokasi dengan tingkat kegagalan yang tinggi, sehingga mereka tidak mendapatkan peluang pertumbuhan yang sama dengan para pemilik franchise kulit putih. Dengan alasan ini, mereka mengajukan tuntutan hukum atas McDonald’s. Tuntutan tersebut mewakili 52 orang mantan pemilik franchise berkulit hitam yang sebelumnya menaungi 200 toko milik McDonald’s.

Isu Diskriminasi dan Tuntutan Hukum Atas McDonald’s

Tuntutan hukum atas McDonald’s tersebut memuat tuntutan kompensasi dengan nilai lebih dari $800 juta. Para penggugat menyatakan bahwa McDonald’s menempatkan para pemilik franchise kulit hitam di lingkungan yang sulit dan rawan kejahatan. Lingkungan tersebut umumnya ditolak oleh peserta franchise kulit hitam. Bahkan, sebagian rencananya akan ditutup McDonald’s, namun sebelum terjual, diperlukan seseorang untuk menjalankan usaha di sana. Itulah sebabnya perusahaan menempatkan para franchisee kulit hitam di daerah-daerah tersebut.

tuntutan hukum atas McDonald’s

Akibatnya, para peserta franchise kulit hitam ini berjuang untuk bertahan dengan volume penjualan yang rendah serta biaya operasi ang tinggi. Tingginya biaya operasional salah satunya disebabkan oleh tingginya biaya keamanan, biaya asuransi, dan seringnya terjadi pergantian pegawai. Masalah-masalah ini menghambat peluang mereka untuk mengembangkan bisnis dan pada akhirnya menempaykan mereka pada cash flow yang rendah, ekuitas rendah, hutang, dan pada akhirnya bangkrut.

Dalam tuntutan yang disampaikan ke US District Court untuk Distrik Utara Illinois, para penuntut juga menyatakan bahwa McDonald’s tidak memberikan asistensi finansial kepada para franchisee kulit hitam, padahal perusahaan memberikan asistensi kepada franchisee kulit putih. Mereka juga menyatakan kalau McDonald’s membalas dendam kepada mereka karena menolak melanjutkan operasi di daerah-daerah pedalaman yang memiliki volume penjualas rendah dan sering mengalami inspeksi yang tidak masuk akal sebagai salah satu skema untuk menciptakan laporan bisnis yang buruk dan memaksa mereka keluar.

Baca Juga:   Cara Memilih Bisnis MLM yang Aman dan Menguntungkan

Franchisee yang diberikan peluang untuk membeli toko yang cukup profitable harus membelinya dengan premi yang sangat tinggi serta sejumlah syarat dan ketentuan, seperti persetujuan untuk membeli lokasi-lokasi non-standar sebagai bagian dari paket transaksi. Selain itu, McDonald’s juga dituduh menghambat franchisee kulit hitam untuk menjual bisnis mereka kepada pembeli potensi karena alasan yang tidak jelas. Akibatnya, mereka terpaksa menjualnya belakangan dengan harga yang merugi.

Tanggapan Tuntutan Hukum Atas McDonald’s

Namun,  McDonald’s menyangkal tuduhan tersebut melalui sebuah pernyataan yang dikirim melalui email ke Forbes. Dalam pernyataan tersebut, pihak McDonald’s menyatakan bahwa tidak benar perusahaan membatasi peluang bagi para peserta franchise kulit hitam untuk beroperasi di lingkungan tertentu. Perusahaan tidak menempatkan para franchisee. Meskipun McDonald’s mungkin memberikan rekomendasi lokasi, namun pada akhirnya franchisee-lah yang memilih lokasi yang ingin dibeli.

Menanggapi tuntutan hukum atas McDonald’s tersebut, perusahaan mengatakan bahwa mereka telah menjual sejumlah restoran milik perusahaan yang kinerjanya bagus ke franchisee kulit hitam di sejumlah daerah. Perusahaan tidak menetapkan harga yang berbeda dan tidak memberikan syarat dan ketentuan yang berbeda kepada franchisee kulit hitam.

Pihak perusahaan mengatakan bahwa manajemen sedang bekerja sama dengan seluruh franchisee di pasar yang kondisi kinerjanya kurang baik. Perusahaan mencoba memahami pertimbangan atau bantuan finansial apa yang bisa diberikan perusahaan untuk membantu mendorong cash flow franchisee dan mendorong valuasi restoran secara umum. Pada bulan Juli, McDonald’s mengumumkan bahwa perusahaan akan memperkuat upaya-upaya untuk menarik dan merekrut franchisee dari latar belakang yang berbeda-beda, meskipun perusahaan tidak memberikan rincian yang jelas tentang upaya yang dimaksud.

Sebenarnya, tuntutan hukum atas McDonald’s ini adalah kasus terbaru yang berkaitan dengan diskriminasi ras di perusahaan fast-food. Sebelumnya pada bulan Januari, dua orang eksekutif kulit hitam di level atas juga menuntut McDonald’s dengan tuduhan kalau mereka mengalami diskriminasi ras yang sistematis namun tersembunyi di perusahaan franchise ini secara keseluruhan. Kondisi ini semakin buruk di bawah kepemimpinan mantas CEO Steve Easterbrook dan penerusnya Christopher Kempczinski.

Baca Juga:   Bekerja Dari Rumah di Mata Kaum Millenial dan Perusahaan

Dalam tuntutannya, kedua mantan petinggi McDonald’s tersebut menyatakan bahwa perusahaan menerapkan biaya yang memberatkan bagi para franchisee kulit hitam, menggunakan taktik tangan besi untuk mengeluarkan para franchisee yang tak diinginkan dari sistem, serta mencegah franchisee tersebut menjual restorannya di pasar terbuka. Menurut laporan, hampir satu dari tuga franchise Afrika-America telah meninggalkan McDonald’s sejak Easterbrook mengambil alih jabatan sebagai CEO di Tahun 2015. Jumlah franchisee kulit hitam memang mengalami penurunan dari tahun ke tahun, turun dari 377 pada Tahun 1998 menjadi 186 saat ini.

Easterbrook digulingkan dari perusahaan pada musim gugur Tahun 2019 karena masalah hubungan seksual dengan bawahannya. Mantan CEO ini juga sedang menghadapi tuntutan hukum dengan perusahaan karena dianggap gagal menyingkapkan kasus tersebut.

Tagged With :

Leave a Comment