Trik Memilih Saham yang Cocok Untuk Trading

Banyak pemula memilih saham berdasarkan patokan dividen. Saham mana yang rajin memberikan dividen dalam jumlah besar, pasti jadi incaran. Padahal dividen hanya akan dibagikan antara satu hingga empat kali saja dalam setahun. Oleh karena itu, saham-saham pemberi dividen lebih cocok untuk investasi jangka panjang daripada trading. Dengan kata lain, kita membutuhkan panduan lain untuk memilih saham yang cocok untuk trading.

Trik Memilih Saham yang Cocok Untuk Trading

Setiap trader sebenarnya dapat menentukan kriteria sendiri untuk saham-saham yang akan dimasukkan dalam watchlist masing-masing. Tapi ada beberapa hal yang dapat dijadikan panduan pemula sebelum mulai membuat watchlist sendiri. Berikut ini beberapa hal penting tersebut:

  1. Konstituen indeks LQ45: Indeks LQ45 memuat 45 saham paling likuid di bursa efek Indonesia (BEI). Anggota indeks dapat berubah-ubah secara berkala, tetapi indeks ini tetap bisa dijadikan acuan memilih saham yang cocok untuk trading.
  2. Saham-saham yang likuid: Likuiditas mengacu pada kemudahan suatu aset diperjualbelikan. Salah satu tanda likuiditas saham adalah volume bid/offer yang cukup beragam dan selalu eksis dalam setiap hari perdagangan. Saham-saham dengan likuiditas tinggi sangat bagus untuk trading. Sebaliknya, trader perlu menghindari saham-saham yang tidak memiliki volume bid/offer dalam jumlah banyak.
  3. Saham-saham yang grafik harganya naik-turun secara dinamis: Salah satu tanda likuiditas saham yang lain dapat dilihat pada grafik harga historis. Saham yang cocok untuk trading akan memiliki grafik yang dapat dianalisis secara teknikal. Hal ini berkebalikan dengan grafik saham-saham gorengan yang biasanya mendatar dan hanya melonjak sekali waktu saja, sehingga tidak dapat dianalisis dengan baik.
  4. Saham-saham yang memiliki agenda aksi korporasi besar: Saham-saham yang biasanya tidak terlalu bergejolak, bisa jadi menarik untuk trading jika perusahaannya sedang merencanakan aksi korporasi yang dapat berdampak besar bagi bisnisnya. Contohnya rencana merger atau akuisisi, pembentukan Joint Venture, atau perolehan proyek pemerintah dan kontrak asing bernilai raksasa.

Dalam memilih saham yang cocok untuk trading, kita sebenarnya tak perlu terlalu memerhatikan kondisi fundamental perusahaan. Tapi itu tidak lantas berarti aspek fundamental itu dapat diabaikan. Trader tetap harus memastikan perusahaan memiliki kinerja keuangan sehat, mampu menghasilkan laba, dan tidak terancam delisting.

Tagged With :

Leave a Comment