Ingin Hemat? Ikuti 7 Tips Mengatur Uang Belanja Ini

XM broker promo bonus

Bagi kamu yang sudah berkeluarga, baik sebagai istri atau suami, atau yang masih lajang sekalipun, pasti sepakat bahwa mengatur keuangan adalah hal yang gampang-gampang susah. Gampang kalau memang punya komitmen kuat untuk tidak boros dan menyisihkan sejumlah dana setiap bulan, tapi bakal susah kalau diri kita mudah tergoda dengan belanja ini-itu. 

Belum lagi kalau gaji kita terbilang pas-pasan, sedangkan pengeluaran cukup banyak. Kalau tidak bisa mengaturnya, bisa jadi malah boros dan utang sana-sini. Jangan harap deh bisa menabung atau investasi kalau begitu ujungnya. Tapi jangan salah paham dulu. Gaji pas-pasan bukan jalan buntu untuk bisa menabung atau berinvestasi. Kuncinya sih cuma satu: pintar-pintarlah mengatur aset yang dimiliki.

Karenanya, manajemen keuangan memang sangat penting. Kamu yang sudah punya penghasilan perlu pintar-pintar mengatur pos-pos belanja bulanan agar gaji tidak menguap begitu saja. Apalagi kalau sudah ada ‘tanggungan’ anak atau membiayai hidup saudara kita yang lain. Skill untuk ‘bertahan hidup’ dari bulan ke bulan otomatis diperlukan. 

Ditambah lagi, kenyataan bahwa kita perlu menyiapkan kebutuhan hidup di masa mendatang juga menuntut kita untuk berinvestasi. Misalnya, lima tahun lagi anak sudah masuk Sekolah Dasar (SD). Atau, tahun depan kamu punya target membeli mobil. Jadi semuanya harus disiapkan sejak sekarang. Lagi-lagi kuncinya adalah: pintar-pintarlah mengatur pemasukan!

Jangan khawatir, artikel ini akan membantumu dengan sejumlah tips mengatur belanja agar kamu tidak boros. Dengan gaji yang tidak lenyap begitu saja, kamu bisa mulai menabung atau investasi. Nah ini dia tips mengatur uang belanja!

1. Susun Anggaran Belanja 

Tidak hanya negara saja loh yang perlu menyusun anggaran pendapatan dan belanja (APBN). Skala rumah tangga pun perlu sebenarnya. Cobalah menyusun rincian belanja yang diperlukan selama bulan ini. 

Dahulukan belanja-belanja yang pokok, seperti tagihan listrik, air, cicilan rumah atau mobil, asuransi, dan belanja kebutuhan pokok. Masukkan juga income yang ditargetkan masuk selama bulan ini. 

Kamu bisa menerapkan skema 10-20-30-40 untuk menyusun anggaran belanja. Maksudnya, 10 persen gaji untuk anggaran sosial, 20 persen untuk tabungan, 30 persen untuk bayar cicilan, dan 40 persen untuk memenuhi kebutuhan bulanan. Porsinya fleksibel saja sebenarnya, namun poinnya adalah, jangan habiskan gajimu tanpa perencanaan. 

Kalau sudah ada rancangan yang jelas seperti itu, langkah selanjutnya adalah patuhi! Ya, kamu hanya perlu secara konsisten mematuhi seluruh rencana belanja. Jika sudah berjalan beberapa bulan, niscaya kebiasaan baru ini bisa menjadi hal rutin yang melekat. 

Sebagai alternatif, kamu bisa menjajal metode Syukri Muhammad Syukri. Caranya, kamu sediakan 31 amplop yang mewakili 31 hari dalam satu bulan. Isi amplop-amplop itu dengan besaran uang yang akan dibelanjakan setiap harinya. Tentu disesuaikan dengan kebutuhan dan sisihkan untuk menabung atau investasi.  

Kalau sudah, kamu hanya perlu berbelanja harian sesuai uang yang sudah disiapkan. Tidak boleh lebih. Jika hal ini bisa rutin dilakukan, maka kamu bisa lebih hemat. 

2. Belanja di Pasar Tradisional

Sudah jadi rahasia umum bahwa berbelanja di pasar tradisional lebih murah dibanding belanja di supermarket atau hipermarket modern. Hal ini karena biasanya pedagang pasar mendapat pasokan sayur dan bahan pokok dari produsen atau dari suplier dengan rantai pasok yang lebih pendek. Belum lagi, pedagang pasar tidak perlu mengutip biaya untuk gaji karyawan atau pajak tambahan seperti supermarket besar. 

Karenanya, berbelanja di pasar tradisional bisa menjadi jawaban bagi kamu yang ingin berhemat. Apalagi kalau tempat tinggal kamu memang tidak jauh dari pasar. Semakin mantap! 

Oh iya, berbelanja di pasar tradisional juga mendukung pemberdayaan ekonomi kerakyatan loh. Pedagang pasar pun juga bisa menyambung hidup mereka dengan lebih baik. 

3. Biasakan Memasak Sendiri

Tips ini benar-benar ampuh bikin hemat. Memasak keperluan makan sendiri bisa jauh lebih hemat ketimbang membeli makanan di luar. Kalau dihitung-hitung, rutin memasak bisa menghemat 50 persen dibanding membeli makan dari luar. 

Kita ambil contoh, Bu Santi terbiasa membeli ayam cepat saji dengan harga Rp 50 ribu satu porsi. Padahal dengan uang sebesar itu, Bu Santi bisa membeli bahan makanan di pasar untuk satu keluarga, bahkan untuk beberapa hari sekaligus. 

4. Jangan Terpaku Merek 

Biasanya kita cenderung ‘termakan merek’ saat membeli sesuatu. Misalnya saat kita membeli gula pasir di swalayan. Ada kalanya konsumen lebih percaya dengan produk gula pasir bermerek dengan kemasan yang mewah. Jika mau berhemat, kamu bisa memilih gula pasir merek lain dengan harga yang lebih miring. Meski kemasannya tidak semewah merek sebelah, tapi kualitas dan manisnya sama kok. 

Prinsip serupa bisa diterapkan saat membeli produk lain, seperti mie instan, pembersih lantai, sabun, camilan, minyak goreng, atau yang lainnya. Jelilah dalam membandingkan harga antara satu merek dengan yang lain. 

5. Kurangi Penggunaan Kartu Kredit

Prinsip yang perlu kamu ingat: kartu kredit adalah fasilitas untuk berutang. Hindari pemikiran bahwa kartu kredit adalah fasilitas tambahan yang membuatmu boleh berbelanja sepuasnya. Bisa saja sih memang, tapi jatuhnya kamu berutang ke bank. Dan kamu masih perlu membayar tagihannya! Nah, kalau kamu ga sanggup bayar tagihan kan berabe. 

Sebenarnya, kartu kredit sah-sah saja digunakan bila kamu tergolong pengguna yang pandai memilah antara kebutuhan dan keinginan. Apalagi kartu kredit sendiri menawarkan banyak diskon dan promo. Alamak, banyak untungnya bukan?

Tapi kalau kamu tergolong kaum konsumtif, penggunaan kartu kredit perlu dipertimbangkan ulang. Apalagi ada efek psikologis di awal bulan saat baru saja gajian. Efek ini membuat kita dengan mudah membelanjakan uang. Dengan punya kartu kredit, bisa-bisa belanjanya mentok di limit. Eh, tahu-tahu gaji habis dibuatnya.

Karenanya, penggunaan kartu kredit harus benar-benar dipertimbangkan dengan matang. Bukan sebuah hal yang buruk memakai kartu kredit, asal rutin membayar tagihan dan tidak boros. 

6. Cari Diskonan

Jangan gengsi mencari produk diskon. Tidak masalah disebut menta diskon, asal kamu bisa lebih hemat. Kalau kamu cermat, ada kalanya merek-merek terkenal menawarkan diskon dan promo. Hal ini berlaku untuk berbagai produk, dari pakaian, furnitur rumah tangga, sampai makanan. 

Tapi ingat, tetap belanja sesuai kebutuhan ya. Jangan didorong keinginan semata. Misalnya, ada diskon 50 persen untuk sebuah merek pakaian. Sebenarnya sih kamu lagi nggak butuh baju baru, tapi karena termakan pemikiran ‘mumpung diskon’, eh jadinya beli. Hindari perilaku konsumtif seperti ini. 

Lebih bijak kalau kamu memang sedang butuh membeli sesuatu, dan mencari barang diskon. 

7. Simpan Bahan Makanan dengan Baik

Ada kalanya kita terpaksa membuang bahan makanan yang terlanjur basik atau busuk. Salah satunya disebabkan cara menyimpan bahan makanan yang tidak benar. Sayang kan jadinya kalau makanan yang dibeli dengan uang akhirnya dibuang?

Karenanya, belajarlah menyimpan makanan dengan baik. Coba pelajari cara menyimpan buah, sayur, dan bahan makanan lain secara awet di internet atau tutorial Youtube. Dengan bahan makanan yang lebih tahan lama, maka kamu juga tidak perlu sering-sering berbelanja. Hemat kan jadinya?

Nah itu tadi tujuh tips mengatur uang belanja agar tidak boros. Semuanya tentu kembali kepada komitmen kamu dalam menyisihkan uang. Jika kamu sudah berkeluarga, coba diskusikan dengan pasangan dan ajaklah agar komitmen berhemat ini bisa dijalankan bersama-sama. Tapi jika kamu masih lajang, tidak masalah. 

Catat evaluasi bulanan kamu dalam mengatur keuangan. Di akhir bulan, tuliskan hal-hal yang membuat kamu lebih boros. Coba hindari hal-hal tersebut di bulan berikutnya.

Semoga tips mengatur uang belanja ini bisa membantu kamu ya. Yang pasti, tips ini cocok buat kamu yang bergaji kecil atau besar, sama saja!

Tagged With :

Leave a Comment