Di tengah dominasi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence, AI) yang semakin kuat di dunia bisnis, kita mulai melihat peralihan secara dramatis cara masyarakat berbelanja dan membeli produk. Setidaknya, 60% populasi Amerika Serikat pernah melakukan pembelian secara online, dan 82% pengguna ponsel menggunakan perangkatnya untuk mencari informasi tentang produk yang diinginkan. Ketika e-commerce semakin berkembang, maka toko-toko ritel juga harus mengadopsi teknologi-teknologi baru agar tetap bertahan dan mampu bersaing. Di antaranya adalah teknologi AI untuk bisnis. Faktanya, konsumen semakin bergantung dengan perangkat-perangkat pintar, sehingga toko-toko offline harus bertindak cepat jika tidak ingin ketinggalan.
Bagaimana Teknologi AI untuk Bisnis Mengubah Segalanya?
Itulah sebabnya banyak toko yang mulai mengadopsi teknologi AI untuk bisnis, terutama dalam operasinya. Dengan bantuan AI, perusahaan-perusahaan ritel bisa meningkatkan produktivitas karyawan, memberi nilai tambah bagi pengalaman konsumen, serta meningkatkan penghasilan dari waktu ke waktu. Lalu, bagaimana teknologi AI dapat membantu perusahaan ritel? Berikut adalah penjelasannya.

Pengalaman Berbelanja Lebih Baik
Mungkin, salah satu alasan terbesar mengapa e-commerce semakin populer adalah kenyamanan dan kemudahannya. Konsumen suka jika mereka bisa melihat sebuah produk dengan mudah, memasukkannya ke keranjang, dan melakukan penjualan tanpa interupsi – semuanya bisa dilakukan dengan nyaman dari rumah. Ketika seorang konsumen berkunjung ke toko offline, mereka menginginkan pengalaman yang berharga. Mereka masuk ke toko untuk mengeksplorasi, mencoba, dan mengamati produk-produk yang menarik. Akibatnya, para pemilik toko ritel harus mencari cara-cara kreatif untuk menjangkau konsumennya dan mendorong mereka untuk membeli.
Teknologi AI untuk bisnis dapat menjembatani gap antara kenyamanan berbelanja di e-commerce dan pengalaman berbelanja di toko fisik. Misalnya, mereka bisa mendapatkan saran produk yang lebih baik, bantuan virtual, dan kenyamanan berbelanja di toko menggunakan proses pembayaran tanpa-kasir.
Manajemen Rantai Pasok Lebih Baik
Teknologi AI bisa membantu pengusaha ritel dalam perencanaan persediaan. Misalnya, Shopic (sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi keranjang pintar untuk barang harian) mengembangkan sebuah perangkat berbasis AI yang bisa dipasangkan dengan keranjang belanja apa saja, sehingga berubah menjadi keranjang pintar. Dengan cara ini, maka akan lebih mudah untuk menjajaki perubahan persediaan dan menambah barang-barang yang populer sebelum kehabisan. Teknologi semacam ini juga membantu pengusaha ritel memperbaiki layout toko sehingga lebih mudah dinavigasi. Semua ini bisa dilakukan tanpa harus memberikan informasi personal.
Pengalaman Konsumen Lebih Baik
Seperti dibahas sebelumnya, toko fisik memiliki tujuan baru bagi konsumen modern. Toko tidak lagi sebatas tempat untuk membeli produk, namun telah berubah menjadi tempat di mana konsumen datang untuk mendapatkan informasi, terkoneksi dengan perusahaan, menyentuh dan mencium produk, membandingkannya dengan produk serupa dari toko lain, dan bahkan untuk menghabiskan waktu. Menurut McKinsey, pengalaman konsumen ini disebut “consumer decision journey,” yakni sebuah perjalanan yang membantu konsumen membuat keputusan dalam berbelanja.
Perjalanan ini tidak digambarkan sebagai garis lurus, melainkan laksana tour zigzag dari riset hingga pembelian. Dengan teknologi AI untuk bisnis, pengusaha ritel bisa memanfaatkan data variabel untuk mengukur statistik keterlibatan konsumen, seperti berapa banyak waktu yang mereka habiskan di satu halaman tertentu, halaman mana yang paling banyak diklik, produk mana yang paling banyak menarik perhatian, dan seterusnya. Kemudian, perusahaan ritel bisa menggunakan informasi ini, misalnya untuk mengoptimalkan layout toko, memperbaiki pajangan produk, dan sebagainya.
Kebijakan Harga Dinamis
Saat ini, konsumen semakin sensitif dengan harga, dan perusahaan ritel mesti mempertimbangkan kebijakan harganya secara seksama. Tentunya, kriteria penetapan harga harus mencakup biaya operasional serta profit yang diharapkan, sehingga perusahaan tetap bisa tumbuh sesuai target. Namun, jika sebuah produk dibandrol terlalu tinggi atau terlalu rendah, maka resikonya adalah bisa memicu kemarahan konsumen.
Lalu, bagaimana perusahaan ritel menentukan harga yang tepat untuk produknya?
Apakah mereka menggunakan sistem harga statis?
Apakah mereka mesti meniru kebijakan harga di perusahaan pesaing?
Atau, apakah perusahaan mesti menggunakan kombinasi keduanya?
Jawabannya terletak pada penggunaan teknologi AI untuk bisnis dan sejumlah tool berbasis data untuk menciptakan strategi penetapan harga yang dinamis. Melalui survey, media sosial, dan outlet interaktif lainnya, perusahaan dapat memanfaatkan data untuk menyesuaikan sistem harganya secara real-time, sehingga perusahaan bisa menetapkan harga yang terbaik untuk produknya.
Terakhir, konsumen tidak semata-mata mencari pengalaman berbelanja yang menyenangkan, namun juga mengharapkan layanan personal saat berbelanja. Ketika teknologi seperti biometrik dan facial recognition semakin disukai konsumen untuk identifikasi, maka perusahaan ritel bisa menggunakan fungsi ini untuk mengenali konsumen yang berkunjung ke toko dan mengingat apa yang mereka beli dan apa yang tidak mereka sukai.
Teknologi AI untuk bisnis yang semakin canggih pada akhirnya dapat membantu perusahaan merancang sistem promosi personal dan merekomendasikan produk yang mungkin disukai konsumen. Sekalipun teknologi ini masih relatif baru, perusahaan di berbagai industri telah menjadikannya sebagai bagian dari aplikasi bisnisnya; demikian juga dengan perusahaan ritel.
Tagged With : manajemen bisnis