Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah merosot dari 6,209.12 pada tanggal 10 Mei hingga mencapai level terendah pada 5,826.87 pada tanggal 17 Mei lalu. Padahal, IHSG merupakan indikator kinerja bursa efek Indonesia. Apabila IHSG memburuk, artinya kinerja aset-aset keuangan Indonesia juga meragukan. Apa yang harus dilakukan oleh investor dalam situasi seperti ini?
Bagi investor saham, kondisi IHSG yang memburuk biasanya justru dimanfaatkan sebagai peluang beli saham-saham unggulan, atau yang dikenal juga dengan istilah ‘serok bawah’. Namun, bagaimana dengan investor reksa dana? Tentu ada trik tersendiri.

Pertama, tinjau kondisi fundamental ekonomi secara umum serta kinerja ekonomi para emiten bursa. Apakah prospek pertumbuhan ke depan masih bagus? Jika ya, maka jangan buru-buru lepas reksa dana Anda. Anda masih bisa beli, hanya saja perlu menerapkan strategi khusus sesuai dengan portofolio Anda.
Kedua, review ulang komposisi portofolio Anda, bandingkan dengan minat risiko dan tujuan investasi Anda. Umpamanya, koleksi reksa dana dalam portofolio Anda saat ini terdiri atas 40% reksa dana pasar uang dan 60% reksa dana saham.
Dengan menurunnya bursa, hampir pasti Anda akan menyaksikan kinerja merah pada reksa dana saham. Apabila Anda termasuk investor yang minat risikonya tinggi, maka ini adalah waktu yang tepat untuk menambah koleksi reksa dana Anda. Mirip dengan serok bawah tadi. Tak usah khawatir, asalkan prospek ekonomi tetap bagus, kelak nilainya bakal meningkat lagi.
Sebaliknya, jika Anda termasuk investor dengan minat risiko rendah, maka stop koleksi reksa dana saham. Jangan buru-buru menjual portofolio yang sudah dimiliki, tetapi juga jangan tambah lagi. Tambah dana investasi untuk meningkatkan proporsi reksa dana pasar uang dalam portofolio Anda saja. Pilih reksa dana pasar uang yang return-nya dalam satu tahun terakhir berada di atas kisaran suku bunga acuan BI (saat ini, suku bunga acuan BI 6 persen).
Mudah sekali, bukan!? Sebagai investor, Anda tak boleh panik saat menyaksikan kondisi pasar memburuk. Itu bukan bencana, melainkan bisa jadi peluang bagi Anda untuk mendapatkan keuntungan lebih besar lagi di masa depan.
Tagged With : investasi masa depan • reksadana