Indeks Dolar AS (DXY) langsung tumbang menyusul pengumuman hasil rapat FOMC bulan Juli 2026 pada dini hari tadi. Pelaku pasar menuding ketidakjelasan sikap Ketua The Fed Kevin Warsh sebagai biang kerok pelemahan Greenback. Namun, beberapa pakar menilai prospek Dolar AS ke depan masih cukup tangguh.

FOMC mempertahankan suku bunga pada rentang 3.50-3.75% (sudah berlaku sejak Desember 2025) dalam rapat kebijakannya kali ini, sesuai perkiraan pasar. Pada dasarnya tidak ada perubahan dalam pernyataan hasil rapat maupun prospek makro yang diperkirakan FOMC. Namun, beberapa poin penting patut diperhatikan.
Pertama, tiga peserta rapat (Beth M. Hammack, Neel Kashkari, dan Lorie K. Logan) ingin menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada kesempatan ini. Sayangnya, mereka kalah suara karena sembilan peserta lain tidak ingin mengubahnya.
Kedua, Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan FOMC tetap berfokus mengendalikan inflasi dalam konferensi persnya. Namun, ia berupaya berkelit dari beberapa pertanyaan media dengan cara yang kurang bijak. Warsh mengatakan bahwa pasar suku bunga AS telah “menarik kesimpulan sendiri” tentang prospek ekonomi, alih-alih “mencoba menebak apa yang dipikirkan anggota FOMC”.
Respons Warsh langsung membangkitkan kekhawatiran pasar kalau The Fed tidak akan menaikkan suku bunga sesuai ekspektasi pada tahun ini, melainkan memilih untuk mengetatkan kebijakan dengan mengutak-atik neraca. Akibatnya, aksi jual melanda obligasi US Treasury dan Dolar AS.
Beberapa pakar menyampaikan peringatan kepada pasar agar berhati-hati mengantisipasi “kekecewaan” yang akan datang. Namun, tidak perlu buru-buru melego Dolar AS secara besar-besaran karena jadwal rapat FOMC berikutnya masih cukup lama.
Dalam ulasan pasarnya, para analis MUFG mengungkapkan, “Berdasarkan apa yang kami dengar dalam rapat ini, kenaikan suku bunga (The Fed) pada bulan September belum pasti. Ada banyak data dan peristiwa yang perlu dipertimbangkan sebelum The Fed bertemu lagi dalam 8 minggu. Yang paling penting, kita akan mendapatkan 2 laporan pekerjaan, laporan inflasi selama 2 bulan, revisi awal patokan angka pekerjaan (QCEW), dan simposium Jackson Hole. Belum lagi, situasi di Timur Tengah masih belum pasti, dan pasar keuangan semakin tertekan karena kekhawatiran tentang penerbitan dan valuasi utang AI.”
Pada pembukaan sesi Asia hari ini (30/7/2026), Indeks Dolar AS (DXY) telah bangkit kembali untuk menstabilkan posisi di atas ambang 100.00. Hal ini berkaitan dengan peningkatan permintaan safe haven seiring eskalasi konflik AS-Iran sejak hari Selasa.
Tagged With : analisa fundamental • dolar as • federal reserve • indeks dolar • trading forex