Harga minyak dunia telah meningkat pesat dalam lebih dari satu tahun terakhir hingga mencapai rekor tertinggi 3 tahun dalam perdagangan bulan Oktober 2021 ini. Ada dua acuan harga minyak dunia, yakni Brent untuk harga minyak internasional dan WTI untuk harga minyak AS. Keduanya kini sama-sama berada dalam kisaran lebih dari USD80 per barel.
Situasi ini menumbuhkan pertanyaan, apa yang menyebabkan harga minyak naik? Dan tak kalah penting lagi, bagaimana prediksi harga minyak dunia ke depan? Berikut ini ulasan lengkapnya.

Penyebab Kenaikan Harga Minyak Dunia 2020-2021
Banyak faktor dapat mempengaruhi harga minyak, mulai dar cuaca hingga kondisi ekonomi makro dan instabilitas politik. Tapi fluktuasi harga minyak dunia terutama terpengaruh oleh perubahan-perubahan dalam penawaran (supply) dan permintaan (demand).
Pada tahun 2016, pasar minyak mengalami surplus yang cukup melimpah. Untuk menanggulanginya, OPEC dan sejumlah negara produsen besar lain (termasuk Rusia) berkoalisi untuk memangkas produksi. Harga minyak tak langsung meningkat pesat pada saat itu, karena berbagai pihak masih memiliki simpanan persediaan minyak dalam jumlah besar.
Harga minyak baru mulai melonjak tajam sejak Juni 2017. Pasalnya suplai minyak dunia berkurang akibat kebijakan OPEC, tetapi permintaan justru meningkat hingga melebihi ekspektasi. Kepemimpinan Presiden AS Donald Trump juga memperumit situasi. Trump memberlakukan sanksi kembali bagi Iran, salah satu produsen minyak terbesar. Harga minyak naik bukan hanya karena kesenjangan supply-demand, melainkan juga situasi geopolitik yang memburuk di Timur Tengah
Saat pandemi COVID-19 merebak pada awal tahun 2020, harga minyak dunia runtuh seketika. Pembatasan aktivitas masyarakat demi menanggulangi pandemi di seluruh dunia telah mengakibatkan penurunan signifikan dalam permintaan BBM. Konsekuensinya, harga minyak dunia anjlok dari kisaran USD70 per barel hingga menyentuh USD20 per barel.
Penurunan harga minyak dunia tak berlangsung lama, karena OPEC dan kroni-kroninya lagi-lagi memanipulasi output mereka. Seiring dengan pulihnya kembali aktivitas masyarakat, kesenjangan supply-demand kembali mengemuka. Kesenjangan itu mengakibatkan harga minyak dunia reli nonstop sejak Mei 2020 hingga saat ini.
Prediksi Harga Minyak Dunia 2021-2050
Laporan Outlook Energi Jangka Pendek yang dipublikasikan oleh US Energy Information Administration (EIA) pada 13 Oktober 2021 menyebutkan prakiraan permintaan bahan bakar cair dan minyak telah mencapai 99.3 juta barel per hari (bph) per September 2021. Namun, EIA memperkirakan permintaan akan terus meningkat hingga mencapai rata-rata 101 juta bph dalam tahun ini.
Harga minyak mentah mungkin akan terkoreksi dalam waktu dekat, karena telah mencapai rekor tertinggi multi-tahun. Namun, outlook harga minyak dunia dalam jangka panjang kemungkinan akan terus menanjak. Selain karena ketangguhan permintaan dunia, juga karena status minyak itu sendiri sebagai sumber daya yang tak terbarukan.
EIA memperkirakan harga minyak mentah tipe Brent akan mencetak rata-rata USD81 per barel sepanjang sisa tahun 2021, dan rata-rata USD72 per barel pada tahun 2022. Sedangkan WTI akan mencapai rata-rata USD68.48 per barel dalam tahun 2021 dan USD68.42 per barel pada tahun 2022.
Lebih lanjut, EIA mensinyalir harga nominal Brent akan berada pada USD66 per barel pada 2025 lalu meroket ke USD89 per barel pada tahun 2030. Per 2040, harga minyak dunia diproyeksikan akan mencapai USD132 per barel karena sumur-sumur eksplorasi minyak murah telah habis tergali. Per 2050, harga minyak dunia bisa mencapai USD185 per barel. Sedangkan prediksi harga minyak WTI masing-masing USD64 pada 2025, USD86 pada 2030, USD128 pada 2040, dan USD178 pada 2050.
Prediksi harga minyak dunia 2021-2050 ini tersusun dengan asumsi bahwa permintaan terhadap minyak akan mulai tersubstitusi oleh gas alam dan sumber-sumber energi terbarukan. Diasumsikan juga bahwa perekonomian tumbuh sekitar 2 persen per tahun, sedangkan konsumsi energi berkurang sekitar 0.4 persen per tahun.
Dengan kata lain, harga minyak dunia kemungkinan akan tetap meningkat meskipun inovasi baru muncul di berbagai bidang untuk mengurangi ketergantungan masyarakat pada bahan bakar fosil. Investasi dalam perusahaan minyak, saham minyak, kontrak berjangka minyak, maupun trading minyak akan terus berpeluang menghasilkan keuntungan melimpah.
Tagged With : investasi jangka panjang • komoditas • minyak