Di atas kertas, perusahaan terbaik yang layak diakuisisi bukan hanya memiliki produk yang sesuai dan daftar klien yang panjang, perusahaan tersebut juga harus memiliki karyawan yang berkualifikasi baik dan loyal. Namun, sesuatu yang baik di atas kertas belum tentu mudah diintegrasikan setelah akuisisi. Oleh sebab itu, diperlukan upaya mendorong budaya organisasi yang sesuai, sehingga proses integrasi menjadi lebih mudah.
Karyawan loyal dari sebuah perusahaan yang baru diakuisisi bisa jadi menolak perubahan-perubahan yang terjadi setelah proses akuisisi. Mereka mungkin ingin agar tim kerjanya tetap utuh, tetap menjalankan proses kerja yang berlaku di perusahaan lama, atau bahkan sangat menyukai budaya organisasi di perusahaan lama. Biasanya, perusahaan yang melakukan akuisisi cenderung mengabaikan elemen-elemen yang tak terlihat ini selama proses integrasi. Akibatnya, bisa terjadi keluar-masuk karyawan dan produktivitas perusahaan turun.

Setelah akuisisi, pemimpin biasanya hanya fokus pada apa yang terlihat dan menyerahkan pembicaraan tentang karyawan yang keluar ke manajer tingkat bawah atau membahasnya di rapat bulanan saja. Namun, ketika elemen-elemen budaya organisasi tidak diprioritaskan selama proses integrasi, perusahaan tidak hanya merasakannya, namun, efek sampingnya juga bisa memperlambat upaya perusahaan dalam mencapai tujuannya.
Praktik Baik dalam Mendorong Budaya Organisasi
Proses akuisisi mestinya mempertimbangkan budaya yang berbeda antara kedua perusahaan. Terutama jika perusahaan yang baru diakuisisi memiliki budaya organisasi yang kuat dan karyawan yang setia, para petinggi perusahaan perlu merancang rencana transisi yang jelas, sehingga tim dari perusahaan yang baru diakuisisi memiliki waktu dan ruang untuk melihat jalan menuju sukses pada situasi baru tersebut.
Beberapa praktik baik dalam mendorong budaya organisasi di perusahaan yang baru diakuisisi berikut mungkin bermanfaat bagi anda:
Perlakukan Seperti Mitra
Beberapa tahun yang lalu, Harvard mempublikasikan hasil temuan yang menunjukkan bahwa integrasi yang sukses antara dua perusahaan biasanya dimulai sebagai satu kesatuan yang berbeda. Cobalah mengikuti pendekatan ini. Misalkan tim marketing di perusahaan yang baru anda akuisisi memiliki budaya yang kuat dan tim yang loyal. Di tahap awal, biarkan kedua perusahaan beroperasi masing-masing, sehingga perusahaan memiliki waktu untuk merancang strategi integrasi dengan baik.
Bangun Komunikasi Secara Positif Namun Realistis
Berkomunikasi dalam hal ini bukan hanya berbicara, namun juga mendengar. Hal ini sangat penting jika anda ingin mendorong budaya organisasi positif di perusahaan yang baru diakuisisi. Faktanya, komunikasi langsung bisa menjadi pembeda. Anda bisa berbagi pandangan tentang masa depan. Namun, anda juga bisa mengajukan pertanyaan tentang apa yang membuat perusahaan mereka sukses dan kemana arah tujuan mereka.
Kemudian, siapkan peta jalan (roadmap) yang dituju oleh perusahaan anda, dan tanyakan juga proses yang mereka lalui. Berbciara dengan jelas, dan ajukan pertanyaan. Minta respon mereka, sehingga mereka tahu apa yang bisa diharapkan dari situasi baru mereka, dan mereka merasa didengarkan. Mereka juga bisa melihat bahwa jika mereka memiliki ide baru atau melalukan sesuatu, mereka juga bisa menjadi bagian dari tim gabungan dua perusahaan tersebut.
Berikan Perhatian Khusus pada Budaya
McKinsey mencatat bahwa perusahaan kerap mengalokasikan terlalu sedikit sumber daya untuk proses integrasi tim dan budaya organisasi. Bahkan, kurang dari separuh perusahaan yang disurvey memandang budaya sebagai bagian penting dari proses manajemen perubahan mereka. Jadi, para petinggi perusahaan mestinya memahami elemen kultural pokok yang penting bagi karyawan, terutama mereka yang berkinerja baik. Manajemen yang baru mesti mempertimbangkan elemen ini saat memulai suatu integrasi.
Identifikasi Permasalahan Secepat Mungkin
Salah satu permulaan yang baik untuk mendorong budaya organisasi adalah mengidentifikasi permasalahan yang mungkin muncul, dan hal ini merupakan tanggung jawab manajemen secara berkelanjutan. Setelah para pemimpin mengidentifikasi apa-apa saja yang diperlukan, maka berikutnya adalah menyusun serangkaian prioritas untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada.
Budaya organisasi bisa menjadi suatu masalah jika para pemimpin tidak mengidentifikasi apa yang menjadi penyebab masalah antara dua kelompok yang berbeda tersebut, norma dan nilai yang berbeda-beda, serta proses pengambilan keputusan yang berbeda. Yang terpenting adalah perusahaan mengidentifikasi peluang masalah secara cepat dan mencari solusinya sebelum berkembang.
Mendorong Budaya Organisasi dengan Penuh Percaya Diri
Pada prinsipnya, karyawan yang kinerjanya bagus adalah sumber daya yang luar biasa bagi perusahaan dan bisa diberdayakan dalam upaya menciptakan budaya organisasi bersama (gabungan antara dua perusahaan). Biasanya, mereka benar-benar serius, loyal, dan senang dilibatkan dalam proses integrasi. Dengan memastikan mereka mengetahui visi dan misi perusahaan anda, mereka juga terlibat dalam rapat-rapat dan pendekatan manajerial, anda bisa merancang arah kebijakan yang positif untuk dua perusahaan yang baru bergabung.
Mereka juga bisa menjadi komunikator yang efektif antara jajaran pemimpin dengan elemen perusahaan lainnya. Lebih penting lagi, anda perlu mendorong budaya organisasi yang memprioritaskan manusia, sama halnya ketika anda memprioritaskan konsumen. Hal ini tidak mudah, tentunya, namun fokus ekstra pada lingkungan kerja yang sehat dan inklusif bisa memperlancar upaya tim untuk fokus pada tujuan bersama dan menciptakan budaya kerja bersama.
Tagged With : budaya organisasi • manajemen bisnis