Pengusaha atau Investor: Haruskah Anda Menjalankan Keduanya?

Anda mungkin terkadang bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya seorang pengusaha atau investor?” Karena dipengaruhi perjalanan perusahaan-perusahaan teknologi terbesar di dunia, yang memiliki dana hingga ratusan juta dollar, banyak pengusaha terkadang percaya bahwa tugas seorang pengusaha adalah mencari peluang dan fokus pada eksekusi pekerjaan. Sementara itu, investor bertanggung jawab untuk menyediakan modal agar visi visinya tercapai.

Lalu, apakah anda sebenarnya seorang pengusaha atau investor? Mengapa sebagian orang percaya kalau sebenarnya setiap pengusaha adalah investor? Secara rata-rata, dari 6 juta usaha baru yang muncul di Amerika Serikat setiap tahunnya, bank hanya mengeluarkan sekitar 100 ribu pinjaman untuk usaha kecil. Sekitar 70 ribu usaha baru lainnya mendapatkan investasi dari angel investor, dan kurang dari 5 ribu usaha baru mendapatkan pendanaan dari modal ventura. Jadi, tidak heran kalau ada asumsi bahwa lebih dari 90% usaha baru didanai oleh pendirinya, setidaknya di tahap awal.

pengusaha atau investor

Pengusaha atau Investor: Anda Termasuk Yang Mana?

Secara umum, investor pemula mencari ventura-ventura yang memiliki ini menarik dan potensial berdasarkan realita dan dipimpin oleh tim-tim yang kompeten. Sebagai pendiri, anda adalah orang yang paling memahami ide tersebut, paling mengetahui kemampuan tim kerja, dan paling memahami pasar dan konsumen sasaran.

Jadi, pastikan anda mendapatkan akses terhadap informasi berkualitas tinggi tentang usaha anda. Jika anda saja sebagai pendiri tidak mau menginvestasikan sumber daya yang dimiliki ke dalam usaha tersebut, lalu bagaimana anda berharap orang lain akan melakukannya? Mayoritas investor pada perusahaan baru tidak tertarik pada ide-ide teoritis saja. Apakah anda masih meragukan apakah anda pengusaha atau investor? Setidaknya di tahap awal perusahaan, anda mungkin harus melakukan keduanya. Cobalah pertimbangkan beberapa fakta berikut:

Membuat produk sendiri

Jika anda sedang membangun suatu produk baru yang benar-benar beresiko tinggi, anda harus menyediakan bukti yang menunjukkan kalau produk tersebut akan memenuhi permintaan pasar sebelum anda bisa menarik perhatian investor berpengalaman. Saat ini, para inkubator bisnis baru selalu mencari hal untuk meyakinkan mereka bahwa sebuah usaha baru benar-benar menarik dan potensial.

Ada kalanya, seorang pengusaha baru harus membuat produk versi awal sendiri (prototipe awal), dan anda juga harus bekerja untuk mendapatkan konsumen pertama. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa di awal pendirian perusahaan, anda juga harus menjadi investor pertama pada usaha anda. Jika anda menunggu dana investor, maka usaha anda tidak akan pernah benar-benar berdiri.

Menanggung resiko sendiri

Di awal berdirinya, usaha anda mungkin belum memerlukan modal yang sangat besar, seperti halnya saat bisnis tersebut sudah berkembang kelak. Berkat perkembangan teknologi no-code dan solusi pemasaran baru, anda bisa saja mengembangkan versi awal dari produk anda serta menjangkau konsumen pertama dengan biaya yang relatif lebih murah dibanding sebelumnya. Artinya, anda bisa berinvestasi pada bisnis sendiri tanpa mengosongkan rekening bank anda.

Selanjutnya, resiko kegagalan sebuah proyek paling tinggi di awal pendiriannya. Menyasar kebutuhan konsumen yang sebenarnya tidak ada adalah penyebab utama kegagalan sebuah bisnis baru. Sekitar 34% bisnis baru gagal karena pasar sebenarnya tidak membutuhkan produk yang ditawarkan. Jika anda mau menanggung resiko dan bertaruh dengan ide dan usaha sendiri, maka ini menjadi sinyal bagus bagi calon investor di masa mendatang.

Faktanya, investasi utama yang dilakukan seorang pendiri adalah waktu, modal, dan tenaga yang dihabiskan untuk membuktikan bahwa ide bisnisnya tidak sia-sia. Jadi, jika anda memperlakukan usaha baru tersebut sebagai investasi, anda akan memiliki basis yang bagus untuk bernegosiasi dengan calon investor dan mendapatkan valuasi yang lebih tinggi. Sekalipun nilai nominal dari investasi yang anda lakukan tidaklah besar, namun pertaruhannya lebih tinggi.

Menjalankan usaha sendiri

Di balik usaha, waktu, dan uang yang anda habiskan, menginvestasikan sumber daya yang anda miliki pada sebuah usaha baru tentunya membawa banyak manfaat. Anda harus memperlakukan usaha tersebut sebagai investasi. Bisa dikatakan bahwa anda harus menjalankan bisnis itu sendiri, menginvestasikan uang sendiri, dan mengelolanya sendiri.

Akibatnya, anda harus berupaya agar uang dan waktu yang anda habiskan tidak terbuang sia-sisa. Anda harus berfikir aktif dan kreatif dalam menggunakan sumber daya yang anda untuk memaksimalkan return on investment yang diharapkan dalam jangka panjang. Jadi, apakah anda masih mempertanyakan status pengusaha atau investor?

Normalnya, anda adalah keduanya, terutama di tahap awal berdirinya usaha anda. Dengan kerangka pikir seperti ini, anda bisa membangun sebuah usaha yang berpeluang lebih besar untuk menarik investor di masa mendatang. Jika anda membutuhkan keterlibatan investor untuk membangun usaha baru, maka anda tidak akan pernah bisa memulainya. Fikirkan kembali usaha anda sebagai sebuah investasi, di mana anda harus mengalokasikan sumber daya secara efisien untuk memaksimalkan pendapatan di masa mendatang.

Tagged With :

Leave a Comment