Pekerjaan Paruh Waktu: Ekspektasi vs Realita – Part 1

Banyak orang memilih pekerjaan paruh waktu alias freelancer karena fleksibilitas yang ditawarkan. Mereka bisa mengendalikan pendapatan sendiri. Namun, seperti apa besaran pendapatan yang bisa diharapkan seorang freelancer? Lalu, apakah pandemi covid-19 berdampak terhadap pendapatan seorang freelancer? Yang pasti, karakteristik utama dari kehidupan freelance adalah pendapatan yang tidak bisa diprediksi secara pasti. Adakalanya, para freelancer tidak mendapatkan pengahasilan yang memadai, namun ada kalanya mereka juga ‘panen besar.’

Pekerjaan Paruh Waktu: Realita Kesenjangan Gender

Menurut sebuah survey yang dilakukan IPSE tentang tingkat penghasilan orang-orang yang bekerja sendiri (freelance), ditemukan bahwa pria memiliki penghasilan 43% lebih tinggi daripada wanita. Suatu fakta yang cukup mengkhawatirkan. Kesenjangan gender dalam hal penggajian bukanlah hal baru. Namun ternyata, IPSE menemukan bahwa kesenjangan penghasilan antar sesama freelancer pria dan wanita justru lebih besar. Sepertinya, ada kecenderungan bahwa wanita yang bekerja paruh waktu tidak menghargai dirinya semestinya, sehingga mereka tidak memasang target penghasilan yang setara dengan pria.

pekerjaan paruh waktu

Hal senada juga ditemukan dalam sebuah survey yang dilakukan Anna Codrea-Rado. Ia menemukan bahwa di United Kingdom sendiri, kesenjangan gender dalam hal penghasilan ini telah ditelusuri oleh pemerintah. Sejak Tahun 2017, setiap organisasi yang memiliki 250 orang karyawan atau lebih harus mempublikasikan dan melaporkan angka-angka spesifik tentang kesenjangan gaji antara pria dan wanita di perusahaannya.

Namun, pelaporan yang bersifat wajib ini hanya berlaku untuk perusahaan dan pekerja full-time. Jadi, tidak begitu mengherankan jika data yang tersedia tentang kesenjangan penghasilan di bidang pekerjaan paruh waktu sangat terbatas. Namun, data yang ada sejauh ini menunjukkan bahwa kesenjangan penghasilan tidak hanya terjadi, namun juga lebih lebar di level staff.

Baca Juga:   Mendorong Keanekaragaman dan Inklusi Saat Konferensi

Sejak bertahun-tahun, ada beberapa realita yang dihadapi oleh usaha kecil dan pekerja paruh waktu. Di antaranya adalah tingkat gaji yang kecil, rendahnya penilaian terhadap pelayanan yang diberikan, serta lambatnya pembayaran gaji. Besaran penghasilan masih sangat bervariasi, di mana sejumlah pemilik usaha masih menawarkan gaji yang benar-benar kecil. Meski demikian, para freelancer berpengalaman banyak yang melaporkan besaran penjualan yang cukup baik.

Pekerjaan Paruh Waktu: Realita Besaran Gaji

Institute for Fiscal Studies (IFS) pernah melakukan perbandingan gaji antara pekerja yang berusaha sendiri dengan orang yang bekerja untuk satu perusahaan tertetu. Penelitian ini menemukan bahwa, sekitar 3 tahun setelah mendirikan usaha sendiri, para pedagang mandiri memiliki penghasilan sekitar sepertiga lebih rendah daripada karyawan. Pertanyaannya adalah: Apakah endemi penghasilan rendah ini berlaku umum untuk usaha kecil dan komunitas pekerjaan paruh waktu? Apakah gaji yang rendah ini sebanding dengan kebebasan dan kemandirian yang ditawarkan oleh pemilik usaha kecil dan pekerja paruh waktu?

Salah satu ahli ekonomi dan penulis di IFS bernama Xiaowei Xu mengatakan bahwa menjadi wirausahawan kerap menjadi pilihan terakhir bagi pekerja yang terkena dampak  fenomena di dunia kerja, seperti PHK. Sebagai contoh, krisis yang disebabkan oleh Covid-19 menimbulkan ketidakstabilan di sektor lapangan kerja serta ketidakpastian ketersediaan peluang kerja di masa mendatang untuk sektor-sektor tertentu. Akibatnya, banyak orang yang memiliki wirausaha. Jika demikian, kelompok ini semestinya mendapat perhatian dari para pengambil kebijakan, selain jumlah pengangguran yang memang semakin meningkat.

Di sisi lain, Xu menyatakan bahwa menjadi wirausahawan kerap bisa meningkatkan kesehatan, meskipun penghasilan berkurang. Artinya, kualitas positif dari wirausaha ini mesti dipahami, seperti kebebasan, otonomi, dan otoritas. Selain itu, diperlukan cara-cara spesifik untuk mendorong sektor ini agar lebih berkembang. Apalagi di tengah pandemi covid-19, banyak pekerjaan yang dilakukan dari jarak jauh, dan semakin banyak orang yang memutuskan untuk berwirausaha.

Baca Juga:   Aplikasi Buy Now Pay Later Afterpay Sedang Booming di AS

Studi yang dilakukan oleh IFS tersebut menunjukkan bahwa lebih 40% dari mereka yang pindah menjadi wirausahawan sebelumnya tidak bekerja atau tidak aktif dalam satu tahun terakhir. Ada juga yang melaporkan bahwa mereka sebelumnya diberhentikan atau bekerja serabutan. Artinya, bagi sebagian orang, menjadi wirausahawan atau mencari pekerjaan paruh waktu adalah pilihan terakhir untuk bertahan, karena tidak adanya peluang pekerjaan di sektor formal.

Bottom Lain: Kesenjangan Gaji dan Ketidakstabilan

Berdasarkan  dua realita di atas, terlihat bahwa masih ada beberapa permasalahan di sektor pekerjaan paruh waktu. Pertama, sektor ini sepertinya belum memperlakukan pria dan wanita sama. Sebenarnya, hal ini juga berpulang pada para pelaku di dalamnya. Wanita yang sebenarnya memiliki potensi besar kerap tidak yakin dengan kualitas dirinya, sehingga mereka cenderung memasang patokan gaji atau penghasilan lebih rendah daripada pria.

Di sektor lain, memang ada aspek ketidakstabilan di sektor usaha kecil dan pekerjaan paruh waktu. Namun, ada kualitas positif yang mungkin perlu digali lebih mendalam, yakni tingkat kebahagiaan para pelaku di sektor wirausaha dan paruh waktu ini. Meskipun penghasilan mereka lebih kecil, namun mereka cenderung lebih bahagia karena bekerja dengan target sendiri dan memiliki kendali penuh atas usaha yang dijalankan.

 

Tagged With :

Leave a Comment