Mitos Seputar Usaha Retail Yang Perlu Anda Ketahui

Saat ini dianggap sebagai masa berakhirnya dunia fisik dalam bisnis. Berita-berita di media seperti sengaja memberi sorotan khusus, misalnya emas nyaris digantikan oleh Bitcoin, ruang kantor digantikan oleh Zoom, realita itu sendiri digantikan oleh metaverse. Namun, benarkah seserius itu? Mungkin, banyak yang percaya bahwa munculnya Amazon dan sejumlah brand Direct-to-Customer (D2C) merupakan pertanda berakhirnya dunia bisnis. Faktanya, ada sejumlah mitos seputar usaha retail yang justru dapat melemahkan semangat para pelaku usaha mikro dan kecil.

Prognosisnya tentu lemah. Namun bisa jadi fakta ini tidak jauh-jauh, jika dikaitkan dengan usaha retail yang ada saat ini. Tidak sulit melihat contohnya. Berjalanlah  di pusat kota-kota  besar, dan anda akan melihat sejumlah toko yang tutup. Banyak orang berasumsi bahwa ini adalah kekalahan usaha retail dalam persaingannya dengan bisnis D2C atau pelaku bisnis lain yang sudah beralih ke usaha online untuk menyelamatkan diri.

mitos seputar usaha retail

Mitos Seputar Usaha Retail dan Fenomena Bisnis Online

Di satu sisi, dinamika usaha retail tersebut ada benarnya, namun di sisi lain, perlu diketahui bahwa retail adalah sektor usaha yang sangat dinamis dan telah melalui sejumlah perubahan besar, sehingga para pelakunya cenderung lebih cepat menyesuaikan diri agar bisa bertahan. Benarkah usaha retail telah mati? Cobalah melihat beberapa mitos seputar usaha retail berikut agar anda bisa mengambil sikap.

Mitos 1: D2C Akan Mengkanibalisasi Toko Offline

Anda pastinya pernah melihat seseorang masuk ke toko anda mengenakan sepatu bermerek seperti Nike, bukan? Cobalah tanya di mana mereka membelinya. Rata-rata akan menjawab “online.” Brand ternama dunia umumnya hadir online dan mereka menyediakan pelayanan prima, sehingga anda akan menerima pesanan langsung di rumah.

Namun, cobalah perhatikan kembali. Brand-brand ternama yang awalnya populer secara online memiliki satu kesamaan: begitu mereka sukses dan terkenal, mereka semua membuka toko fisik, karena mereka memahami nilai dan pentingnya kehadiran toko offline bagi konsumen setianya. Mereka memberi peluang bagi konsumen untuk melihat dan mencoba produk secara langsung sebelum membelinya.

Alhasil, mereka bisa ditemukan secara online maupun dalam kehidupan nyata. Jadi, pernyataan bahwa D2C akan mengkanibalisasi toko offline adalah mitos, karena tidak  semuanya benar. Buktinya, brand-brand ternama dunia tetap memastikan bahwa mereka hadir offline untuk konsumen setianya.

Mitos 2:E-Commerce Memenuhi Seluruh Kebutuhan Konsumen

Tidak ada keraguan bahwa e-commerce membantu mengatasi gesekan yang mungkin terjadi saat seseorang berbelanja offline. Dalam satu klik, kita bisa mengubah dari ‘mengingat sebuah produk’ menjadi ‘menerimanya di depan rumah.” Namun, kemudahan dan efisiensi ini hanyalah bagian kecil dari pengalaman berbelanja, dan mungkin bukan bagian yang terpenting.

Konsumen di era modern mengharapkan perusahaan menawarkan pengalaman berbelanja hybrid, yakni hadir secara digital maupun offline. Mayoritas konsumen hanya melakukan pencarian online sebelum mengunjungi tokonya secara langsung. Akibatnya, brand yang hadir hybrid memiliki potensi yang lebih besar untuk mendapatkan konsumen, dibanding perusahaan yang hadir secara online atau secara offline saja.

Keinginan untuk berbelanja langsung ternyata begitu kuat, sehingga banyak konsumen yang bahkan lebih suka mengembalikan barang yang mereka beli online ke toko fisiknya dibanding mengirimkannya kembali ke perusahaan. Artinya, tidak benar kalau e-commerce mampu memenuhi semua kebutuhan berbelanja konsumen, karena pada kenyataannya, pengalaman berbelanja di toko belum tergantikan oleh pengalaman belanja secara digital.

Mitos 3: Retail Adalah Pekerjaan yang Tidak Membutuhkan Keahlian

Satu lagi mitos seputar usaha retail adalah bahwa penjualan secara retail adalah pekerjaan yang membutuhkan sedikit keahlian saja. Automatisasi mungkin lebih populer saat ini, namun belum ada yang mampu menggantikan interaksi antar-manusia. Faktanya adalah bahwa penjualan retail merupakan suatu pekerjaan yang rumit dan tidak hanya membutuhkan kecerdasan, namun juga keahlian interpersonal yang kuat.

Para sales retail harus mampu mengelola barang persediaan, operasi toko, strategi pemasaran, hubungan dengan konsumen, dan kewajiban lain yang mungkin sulit digantikan dengan AI atau robot, setidaknya dalam waktu dekat. Sales retail memberikan pengalaman personal yang mungkin akan dirindukan para konsumen, baik berupa rekomendasi produk atau sekedar senyuman saat menyambut konsumen di toko.

Mitos 4: Retail Bisa Tumbuh Lebih Cepat Secara Online

Penyebab munculnya mitos seputar usaha retail ini adalah bahwa toko offline tidak bisa bersaing dengan brand-brand digital. Masalah adalah pendapat ini tidak mencerminkan apa yang sedang terjadi di industri retail saat ini. Di satu sisi, membuka perusahaan D2C membutuhkan lebih sedikit modal dibanding membuka toko offline. Namun di sisi lain, mempertahankan brand online justru lebih sulit.

Diperlukan investasi besar untuk mendapatkan pengunjung dan mengubah mereka menjadi konsumen. Beda halnya dengan toko fisik. Konsmen tidak hanya berpeluang lebih besar untuk membeli sebuah produk begitu mereka masuk ke toko. Mereka juga cenderung berbelanja lebih banyak. Hal ini dapat membantu perusahaan untuk tumbuh dan bertahun hingga beberapa tahun kemudian.

Itulah beberapa mitos seputar usaha retail, di samping beberapa mitos lain yang mungkin ada. Bagaimana menurut anda?

Tagged With :

Leave a Comment