Merancang Lingkungan Kerja Fleksibel untuk Menarik Karyawan Berbakat

Dunia bisnis terus berubah. Dunia bisnis juga semakin penuh tantangan. Namun, perubahan yang paling besar pengaruhnya (dan bahkan belum bisa diterima penuh oleh perusahaan) adalah ekspektasi karyawan yang terus berubah. Para pekerja di masa kini mengharapkan fleksibilitas dan kepercayaan mereka menginginkan penghormatan, otonomi, sekaligus peluang dalam karirnya. Banyak juga yang berharap mereka bisa bekerja dari rumah atau sesuai kondisi yang paling cocok dengan mereka.

Tentunya, banyak yang cocok dengan lingkungan kerja fleksibel ini. Buktinya, banyak karyawan yang bersedia stand-bye kapan saja, untuk menyelesaikan pekerjaannya. Meskipun banyak perusahaan berharap karyawan yang berkompeten bersedia merespon kapan saja, termasuk di luar jam kerja biasa, namun tidak banyak perusahaan yang menyeimbangkan harapan untuk menyediakan lingkungan kerja yang lebih fleksibel. Tidak heran jika banyak karyawan yang memilih mundur, jika perusahaan tempat mereka bekerja tidak mampu menyediakan lingkungan kerja sesuai ekspektasi mereka.

merancang lingkungan kerja fleksibel

Merancang Lingkungan Kerja Fleksibel : Apa kata Survey?

Intinya, banyak karyawan mengharapkan lingkungan kerja yang fleksibel,  bahkan sebelum tahun 2020. Pandemi Covid-19 memaksa sebagian besar perusahaan untuk menerapkannya. Sekarang, sebagian dari perusahaan tersebut kembali menerapkan pola kerja lama – yakni, bekerja di kantor. Namun, bagaimana dengan karyawannya? Jika kesuksesan bergantung pada rekrutmen dan retensi karyawan berbakat, maka setiap perusahaan (berapapun ukurannya) tidak punya pilihan lain, selain menghormati pilihan karyawan.

Di Amerika Serikat, sebagai contoh, survey oleh McKinsey menunjukkan bahwa 87% pekerja di Amerika Serikat memilih untuk bekerja di lingkungan kerja fleksibel, jika diberi pilihan. Merancang lingkungan kerja fleksibel penting dilakukan perusahaan, terutama di perusahaan yang mempekerjakan kaum wanita, bukan hanya untuk menyederhanakan pembagian waktu kerja dan urusan rumah, namun juga karena wanita biasanya lebih mudah berkonsentrasi jika bekerja dari rumah. Hanya satu dari 10 wanita memilih bekerja di kantor.

Ada beberapa kemajuan yang terlihat: 51% karyawan yang memiliki skill memilih bekerja dengan sistem kerja hybrid di tahun 2023, dan 20% akan memiliki bekerja penuh secara jarak jauh. Namun, angka tersebut sebenarnya tidaklah begitu tinggi. Meskipun mereka memahami apa yang sesungguhnya diharapkan oleh karyawan dan mereka juga pernah mengadopsi sistem kerja jarak jauh selama masa pandemi, faktanya ada perusahaan yang enggan menerapkan dan merancang lingkungan kerja fleksibel bagi karyawannya. Mereka berfikir bahwa sistem kerja jarak jauh hanya untuk para pimpinan yang suka ‘memberontak’ di perusahaan.

Sayangnya, data juga menunjukkan bahwa rata-rata umur perusahaan cenderung menurun. Rata-rata umur perusahaan yang terdaftar pada S&P500 diperkirakan akan turun menjadi 15 hingga 20 tahun pada dekade ini. Lalu, apa yang diperlukan agar sebuah perusahaan tetap bertahan hidup?  Di antara jawabannya pastilah fleksibilitas, kecepatan, dan daya tanggap. Tiga faktor ini hanya dimiliki karyawan-karyawan berbakat.

Merancang Lingkungan Kerja Fleksibel: Apa Pentingnya?

Kenapa sebuah perusahaan mesti keberatan jika seorang karyawan meninggalkan meja kerjanya di siang hari untuk menjemput anak dari sekolah, jika ternyata ia tetap mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan kualitas baik? Mungkin, salah satu jawabannya adalah kekuatan dari kebiasaan dan keinginan untuk mengendalikan karyawan. Para pemimpin di perusahaan keluarga atau perusahaan turun temurun kerap berpegang pada status quo semacam ini, karena hanya itulah yang mereka tahu.

Namun, ketika generasi millenial masuk ke arena dunia kerja, mereka turut menggerakkan momen atau sistem kerja paruh waktu. Sistem ini kemudian diteruskan Generasi Z, yang bahkan mulai mempertanyakan hubungan mereka dengan pekerjaan tersebut. Gen Z tidak percaya dengan loyalitas buta terhadap perusahaan atau atasan. Bagi banyak orang, pekerjaan adalah hubungan transaksional. Anda menerima sesuai apa yang anda berikan.

Meskipun banyak pemimpin masa kini mungkin diharapkan untuk menunduk dan melakukan seperti apa yang diperintahkan, para talent yang sedang mereka cari tidak akan pernah melakukan hal semacam itu. Perusahaan tidak punya pilihan lain, selain melakukan penyesuaian dan mempertimbangkan kembali apa yang mereka bisa lakukan bagi karyawannya, bukan apa yang mesti dilakukan karyawan bagi perusahaan.

Merancang Lingkungan Kerja Fleksibel: Bagaimana Memulainya?

Perubahan teknologi dan antar-generasi selalu berhasil memaksa dunia usaha mengadopsi sistem kerja baru. Kita sudah melihat perubahan yang signifikan selama dua dekade terakhir. Sekarang adalah waktunya bagi perusahaan yang masih menggunakan standar lama untuk mengambil langkah maju mengadopsi sistem baru, sesuai tuntutan dunia industri saat ini.

Jelasnya, tidak ada satu pendekatan yang berlaku untuk semua struktur angkatan kerja. Anda mesti merancang lingkungan kerja fleksibel sesuai karakteristik talent yang ingin anda tarik ke perusahaan. Bagaimana perusahaan anda bisa memulai transformasinya? Mulailah dengan mendengarkan. Tanyakan gaya kerja personal mereka: di mana, bagaimana, kapan, dan dengan siapa mereka paling  nyaman bekerja.

Anda bisa memulai dengan survey anonim, namun ini saja tidak akan cukup. Tidak semua orang percaya pada survey, yang dilakukan anonim. Anda mesti duduk bertemu dan berdiskusi dengan talent anda. Beritahu mereka bahwa anda siap untuk berbicara jujur dan mengharapkan orang-orang yang jujur. Beri pemahaman bahwa anda ingin memahami pengalaman, keinginan, dan kebutuhan mereka. Kemudian, lakukan perubahan semestinya, sehingga anda bisa menciptakan suasana kerja yang paling cocok dengan mereka.

Tagged With :

Leave a Comment