Dalam bisnis, tidak banyak yang lebih memusingkan dibanding menjalankan sebuah perusahaan yang dikelola dan dipenuhi oleh campuran antara pegawai dari anggota keluarga dan pegawai yang bukan anggota keluarga. Bolak-balik masalah antara drama keluarga, emosi, dan konflik antara staf keluarga dan staf bukan-keluarga bisa memicu terbentuknya budaya organisasi yang tidak stabil dan mudah berubah-ubah. Anda tentunya membutuhkan panduan dalam mengelola bisnis keluarga untuk mengurangi stress, sehingga anda bisa mengembangkan usaha secara profesional.
Tips Mengelola Bisnis Keluarga Secara Profesional
Untungnya, ada sejumlah tips yang dapat membantu anda mengelola bisnis keluarga tanpa stress berlebihan. Berikut adalah beberapa panduan untuk anda:

Pastikan Mereka Menyisihkan Waktu
Banyak pengusaha tidak menyadari bahaya mempekerjakan anggota keluarga di perusahaan, terutama di posisi-posisi penting. Mereka baru menyadarinya ketika kerusakan sudah terjadi. Misalnya, anggap anda mempekerjakan salah satu anak anda di perusahaan. Meskipun cerdas dan berbakat, ia tetaplah dipandang sebagai ‘ancaman’ yang memicu rasa takut dan bisa mengintimidasi karyawan lain.
Anak kandung bisa jadi laksana ‘penyakit kanker’ di sebuah perusahaan. Perannya di dalam perusahaan bisa saja dicampuri anggota keluarga yang lain, sebut saja ibu. Begitu kerusakan terjadi, percayalah bahwa upaya perbaikan akan sangat sulit. Ketika mempekerjakan anggota keluarga, dua dunia (dunia bisnis dan keluarga) akan bertemu di satu titik, dan staf yang bukan anggota keluarga akan ‘terperangkap’ di antaranya.
Satu-satunya cara bagi anda untuk menghindari hal ini adalah dengan memastikan bahwa anggota keluarga yang anda pekerjaan atau menjadi mitra anda dalam bisnis telah berpengalaman setidaknya 3 hingga 5 tahun bekerja untuk orang lain, di posisi yang sama dengan posisi diperusahaan anda. Pertimbangkan secara seksama bagaimana kontribusinya di perusahaan sebelumnya, keahlian yang ia dapatkan di posisi sebelumnya, serta sikapnya di luar kantor. Kemudian, pertimbangkan lagi apakah anggota keluarga tersebut akan membawa dampak positif atau negatif bagi staf di perusahaan anda.
Intinya, lihat kembali apakah anggota keluarga itu bisa menjadi teladan yang akan menjadi wakil anda dan mewakili perusahaan anda di hadapan orang lain? Dengan demikian, anda akan merasa nyaman dan tenang, bahwa anggota keluarga tersebut bisa berkontribusi dan anda bisa mengharapkan sesuatu dari mereka untuk kebaikan perusahaan.
Minta Pertanggungjawaban Atas Kinerja Mereka
Di sebuah bisnis keluarga, perlakuan terhadap anggota keluarga tidak boleh berbeda dari staf lainnya. Mereka juga harus memiliki kontribusi, dan peran dalam operasi perusahaan, dan mesti bertanggung jawab terhadap tugasnya. Sebagai seorang pemilik, anda berwenang membebani mereka dengan standar yang lebih tinggi dibanding anggota lainnya di perusahaan. Misalnya, jika putra anda terbiasa datang ke kantor terlambat dari jadwal semestinya, maka tugas andalah mendisiplinkannya, sama halnya dengan karyawan lain.
Hanya karena salah satu anggota staf memiliki hubungan keluarga dengan anda, bukan berarti mereka memiliki alasan untuk malas. Tidak ada pengecualian! Ketika bekerja dengan anggota keluarga, anda bisa memicu kemarahan dari staf lain yang memandang mereka tidak lebih dari sekedar tambahan beban bagi perusahaan. Dalam situasi di mana anggota keluarga tidak bisa atau tidak bersedia mengiringi ritmen perusahaan, dan tidak mau berusaha memberikan yang terbaik, maka anda berwenang mengambil keputusan untuk mencari seseorang yang lebih layak atau tidak.
Memberhentikan anggota keluarga adalah salah satu keputusan paling berat yang mungkin anda ambil selama mengelola bisnis keluarga, namun anda juga berkewajiban memastikan kesehatan perusahaan. Jika anda bersikeras tidak mau memberhentikan anak atau suadara, maka bisnis anda pastinya akan menderita. Atau, coba pertimbangkan untuk tetap membayar gaji mereka namun memintanya keluar. Pada akhirnya, pilihan ini lebih murah dan lebih mudah dibanding kehilangan perusahaan anda, bukan? Dengan meminta mereka bertanggung jawab, anda bisa menjamin bahwa perusahaan tetap berjalan dan anda bisa menghindari drama keluarga di perusahaan.
Susun Exit Strategi
Sebagai pemilik perusahaan, anda mungkin akan menyusun rencana untuk memberikan perusahaan kepada anak-anak anda suatu saat nanti. Nah, jika anda ingin melakukan transisi kekuasaan bisnis ke salah satu anggota keluarga, maka anda mesti mempertimbangkan prosedur dan langkah-langkah untuk menjamin bahwa proses transfer berjalan dengan baik. Ini disebut rencana suksesi, dan anda harus benar-benar cerdas untuk merencanakan bagaimana usaha anda akan berjalan. Anda mungkin perlu memberikan pelatihan, edukasi, dan membangun pengalaman bagi anggota keluarga yang pada akhirnya akan memimpin perusahaan tersebut.
Terakhir, jangan lupa bahwa perusahaan milik keluarga memiliki tantangan dan hambatan yang berbeda-beda. Namun jika anda memiliki pola pikir dan pendekatan yang benar, mengelola bisnis keluarga dapat menjadi sumber pengalaman yang luar biasa. Pastikan anda ingat bahwa andalah yang berkuasa dan menjamin pemimpin perusahaan, bukan orang tua anda di rumah. Artinya, anda mesti mengelola perusahaan, merencanakan tujuan bisnis, dan berkomunikasi dengan anggota keluarga. Dengan kendali yang benar, anda bisa memastikan bahwa usaha keluarga tersebut akan sukses dan berkembang.
Tagged With : manajemen bisnis