Membangun Empati di Tempat Kerja: Menjembatani Masalah Komunikasi

Membangun hubungan yang kuat dan produktif di tempat kerja sangat penting untuk kesuksesan sebuah perusahaan. Tim yang kolaboratif dan harmonis akan mendorong inovasi, produktivitas, dan kepuasan di tempat kerja secara keseluruhan. Di sinilah pentingnya membangun empati di tempat kerja. Kenapa? Para pemimpin menghabiskan mayoritas waktunya merumuskan strategi bersama tim, melakukan pertemuan, dan membangun jejaring dengan profesional terkait.

Namun, tidak jarang ditemukan adanya kolega atau dinamika tim yang rumit dan penuh tantangan. Hubungan kerja yang buruk dapat memicu stress, penurunan produktivitas, dan dampak negatif terhadap kesehatan mental. Syukurnya, para pakar neurosain dan kepemimpinan menemukan solusi untuk membangun empati di tempat kerja, sehingga tercipta hubungan yang lebih baik. Mekanisme untuk ini tidak hanya neurosains sendiri, namun juga melibatkan keahlian sosial yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari.

membangun empati di tempat kerja

Bagaimana Cara Membangun Empati di Tempat Kerja

Menurut Dr. Bruce Perry, jika kita pindah dari hubungan yang miskin ke hubungan yang kaya, sehingga mampu berinteraksi lebih baik dengan orang lain, maka kita akan mampu mengakses kekuatan yang lebih kreatif dan inovatif, kebahagiaan, dan kebaikan dalam kehidupan profesional. Meskipun ada banyak strategi, ada dua komponen pokok yang menjadi solusi untuk membangun hubungan yang baik, yakni: mendengarkan secara aktif dan empati.

Mendengar Secara Aktif Selama Percakapan

Mendengar secara aktif adalah seni untuk benar-benar mendengarkan dan memahami ketika seseorang berbicara. Artinya, anda benar-benar ada dan memberikan perhatian secara penuh terhadap pembicara, dan berusaha memahami pemikiran dan perasaannya. Meskipun aktivitas ini terdengar sederhana, justru hal ini kerap diabaikan di tempat kerja, di mana banyak orang lebih fokus pada pemikiran dan pendapatnya, daripada rekan kerjanya.

Menurut pakar neurosains, Dr. David Rock, otak manusia merespon terhadap interaksi sosial. Penelitian yang pernah ia lakukan menunjukkan bahwa mendengar secara aktif bisa mempengaruhi jalur syaraf pada otak secara signifikan, sehingga tercipta komunikasi yang lebih baik, hubungan yang lebih baik, serta produktivitas yang lebih baik.

Ia juga menemukan bahwa ketika orang merasa pendapatnya didengar dan dipahami, otak mereka akan melepaskan domapin, suatu zat kimia yang berpengaruh terhadap rasa senang dan rasa dihargai. Pada akhirnya, perasaan ini akan menciptakan hubungan positif dengan orang yang berperan sebagai pendengar, sehingga tercipta suatu ikatan yang lebih kuat dan hubungan kerja yang lebih erat.

Keahlian Mendengarkan secara aktif

Lalu, bagaimana cara kita mendapatkan keahlian untuk bisa menjadi pendengar aktif di tempat kerja? Berikut adalah beberapa tipsnya:

  • Ya, benar-benar hadir secara total adalah keharusan, jika anda ingin menjadi pendengar aktif. Sesibuk apapun anda sebagai seorang pemimpin, cobalah jauhkan hal-hal yang akan mengalihkan perhatian, seperti ponsel atau email anda, dan berikan perhatian penuh kepada lawan bicara. Buat kontak mata, dan tunjukkan anda benar-benar hadir.
  • Ajukan pertanyaan terbuka. Pertanyaan semacam ini mendorong rekan kerja anda untuk berbagi pemikiran, ide, dan kekhawatiran secara terbuka, sehingga terbentuk suatu budaya kolaborasi dan inklusivitas. Ketika mencoba melihat sudut pandang yang berbeda secara aktif untuk mendapatkan pemahaman lebih mendalam atas suatu masalah, tim bisa membuat keputusan dengan pertimbangan matang dan merumuskan solusi-solusi yang inovatif. Contoh pertanyaan terbuka, “Bagaimana perasaan anda tentang masalah tersebut?”
  • Ceritakan kembali apa yang sudah anda dengar. Mendengar secara reflektif berarti mengulang atau meringkas apa yang anda dengar untuk menunjukkan bahwa anda paham dan perhatian. Misalnya, anda bisa berkata, “Jadi, yang saya pahami, anda merasa frustrasi karena kurangnya komunikasi dengan tim. Begitu kah?” Teknik ini juga membantu meluruskan kesalahpahaman.
  • Berkomunikasi aktif. Tunjukkan bahwa anda mendengar secara aktif dengan menggunakan bahasa tubuh non-verbal seperti mengangguk, tersenyum, dan menunjukkan ekspresi wajah yang sesuai. Dengan cara ini, pembicara akan merasa lebih rileks.

Cara Membangun Empati setelah Mendengarkan Secara Aktif

Empati dari pemimpin laksana sebuah katalisator terhadap suatu hubungan. Perannya sangat penting dalam membangun hubungan kerja yang kuat dan membantu individu untuk terhubung secara lebih mendalam. Empati juga melibatkan identifikasi dan pengakuan terhadap emosi orang lain, perpsektif, serta pengalamannya tanpa  upaya pembenaran atas pendapat sendiri.

Untuk membangun empati di tempat kerja, mulailah dengan memandang suatu masalah dari sudut pandang orang lain. Pahami dan kenali tantangan, motivasi, dan aspirasi mereka sebagai anggota tim. Dengan cara ini, anda bisa membantu menciptakan suatu budaya kerja yang empatik dan seportif.

Selanjutnya, para pemimpin yang empatik berusaha secara aktif memberikan dukungan emosional jika dibutuhkan. Misalnya, anda berusaha mendengar, menunjukkan perhatian terhadap masalah yang dihadapi seseorang, dan memberikan bantuan ketika anggota tim mengalami masa-masa sulit. Dengan menunjukkan empati, anda bisa menciptakan suatu lingkungan yang aman secara psikologis, di mana para rekan kerja merasa nyaman mengungkapkan pemikiran dan kekhawatiran mereka.

Tagged With :

Leave a Comment