Lingkungan Kerja Hybrid: Resiko dan Cara Mengatasi Halo Effect

XM broker promo bonus

Percaya atau tidak, penelitian menunjukkan bahwa seseorang akan tampak unggul di mata kita jika sering bertemu orang tersebut. Lalu, apa maknanya bagi para atasan di lingkungan kerja hybrid saat ini? Ketika sebagian besar lembaga keuangan di seluruh dunia mulai memanggil kembali karyawannya untuk bekerja seperti biasa di kantor, sejumlah perusahaan justru melakukan sebaliknya. Ada yang menyadari bahwa mereka tidak lagi bisa kembali ke sistem kerja 5 hari seminggu seperti sebelum pandemi. Mereka memberikan waktu setidaknya 1 hari bagi karyawannya untuk bekerja dari rumah.

Di satu sisi, ada karyawan yang lebih nyaman bekerja di kantor, namun di sisi lain, ada yang merasa lebih nyaman bekerja dari rumah. Oleh sebab itu, ada perusahaan yang mengambil kebijakan untuk mendukung keduanya melalui lingkungan kerja hybrid. Mereka yang memilih kembali ke kantor akan lebih sering bertemu dengan pimpinannya (jadi, cenderung lebih dikenali atasan).

lingkungan kerja hybrid

Lingkungan Kerja Hybrid: Mengapa Jarak Menjadi Masalah?

Bagaimanapun juga, perilaku pemimpin sangat mempengaruhi perilaku tenaga kerjanya. Masalahnya, para pemimpin mungkin belum siap untuk memperlakukan dan menilai karyawan yang bekerja dari rumah dan bekerja dari kantor secara adil. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah bagaimana memastikan bahwa seluruh karyawan (baik yang di kantor atau di rumah) merasa dilihat oleh atasannya. Artinya, mereka yang berada di kantor tidak mendapatkan keuntungan karena dekat dengan boss dan rekan kerjanya. Sebaliknya, mereka yang bekerja di rumah juga tidak dirugikan karena jarang bertemu atasan.

Para ahli menyebut fenomena ini sebagai ‘proximity bias’, yakni suatu kecenderungan atau tendensi (yang kurang adil) namun muncul secara tidak sadar. Akibatnya, seseorang berpotensi memperlakukan orang-orang yang dekat (karena sering bertemu) dengan lebih baik. Di lingkungan kerja hybrid, masalah tempat membuat para pimpinan dan karyawan harus mengatasi isu baru untuk memastikan adanya rasa adil antara karyawan yang bekerja di kantor dan bekerja di rumah, terutama dalam hal peluang promosi karir.

Baca Juga:   Kewirausahaan bagi Wanita: Kunci Sukses Pulih dari Ekonomi Sulit?

Lingkungan Kerja Hybrid dan Fenomena Favoritisme

Proximity bias adalah suatu insting yang alamiah. Ini adalah bagian revolusioner dari proses pengambilan keputusan secara kognitif. Proses kognitif ini telah kita gunakan selama beberapa generasi sebagai satu jalan pintas untuk menentukan prioritas keputusan yang terbaik dan paling aman. Sayangnya, kecenderungan semacam itu tidak selamanya menghasilkan keputusan yang akurat. Pada akhirnya, kita bisa saja mengambil keputusan berdasarkan bias, bukan berdasarkan data atau pengetahuan.

Analoginya seperti ini: “Bayangkan di mana anda duduk di kerumunan orang banyak; tentunya anda memilih duduk di samping orang yang dikenal atau dirasa paling dekat, bukan?” Menurut para ahli, proximity bias telah lama terjadi di tempat kerja, jauh sebelum pandemi menyerang dunia. Kita cenderung memilih orang yang kita kenal lebih dekat dan sering kita jumpai. Ikatan ini bisa menciptakan suatu efek yang disebut halo effect, di mana kita cenderung memandang lebih orang dekat dan mengabaikan orang-orang yang jauh meski lebih berkualifikasi.

Sebuah studi di Tahun 2015, sebagai contoh, menunjukkan bahwa para pekerja yang bekerja jarak jauh untuk sebuah agen perjalanan di Cina menunjukkan kinerja yang lebih baik, namun mereka kalah dalam hal promosi dibanding karyawan yang memang bekerja di kantor. Halo effect ini juga bisa membuat para pemimpin memiliki kinerja buruk karena mengandalkan orang-orang dekat, dan tidak menilai keahlian dan kemampuan staf yang jarang mereka temui secara objektif.

Favoritisme jangka panjang pada semacam ini bisa menghancurkan kepercayaan dan dapat mempengaruhi produktivitas secara negatif, ketika karyawan merasa bahwa kinerja mereka tidak dihargai semestinya. Akibatnya, motivasi mereka berkurang dan mereka mungkin bekerja seadanya saja. Oleh sebab itu, lingkungan kerja hybrid bisa menjadi pertimbangan.

Baca Juga:   Cara Menciptakan Perbedaan Positif Dalam Bisnis: Ini 3 Cirinya!

Mengatasi Favoritisme di Lingkungan Kerja Hybrid

Pandangan tentang jarak dan tempat kerja berbeda di lingkungan kerja hybrid. Boss mungkin memandang orang-orang yang datang ke kantor bekerja lebih keras sehingga lebih mempercayai mereka dibanding karyawan yang bekerja dari jarak jauh. Akibatnya, mereka lebih dihargai. Akibatnya, pimpinan cenderung menyerahkan pekerjaan kepada karyawan yang selalu hadir di kantor, bukan kepada mereka yang berkomunikasi lewat Zoom atau Slack.  Jika seperti ini kondisinya, masalah proximity bias semakin serius.

Lalu, apa yang harus dilakukan para pemimpin untuk mencegah hal ini? Menurut para ahli, langkah pertamanya adalah menyadari bahwa proximity bias adalah suatu masalah.  Kemudian, mereka bisa membahas cara-cara untuk mengubah metode komunikasi dengan karyawan lainnya. Mungkin, bisa jadi perusahaan mengadakan pertemuan secara virtual untuk setiap orang, meskipun sebagian peserta berada di kantor. Dengan demikian, tercipta suatu area bermain yang seimbang di mana semua orang bisa terlibat.

Proximity bias adalah suatu proses yang terjadi secara kognitif dan cenderung tidak disadari. Oleh sebab itu, proses mengubahnya juga harus dilakukan secara perlahan, sehingga terjadi melalui proses kognitif, bukan disengaja, apalagi dipaksa. Lingkungan kerja hybdrid harus dikelola secara seimbang.

Tagged With :

Leave a Comment